PARADAPOS.COM - Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Selasa (Rabu WIB), dipicu oleh sinyal diplomatik yang lebih lunak dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Pernyataan yang dikutip televisi pemerintah Iran itu meredam ketegangan geopolitik, meski ancaman terhadap perusahaan AS di Timur Tengah dan kekhawatiran inflasi global tetap menjadi bayang-bayang yang menekan pasar energi.
Komentar Presiden Iran Redam Ketegangan
Pergerakan harga minyak berbalik arah setelah televisi pemerintah Iran menyiarkan sejumlah pernyataan Presiden Masoud Pezeshkian. Dalam percakapan telepon dengan Presiden Dewan Eropa António Costa, Pezeshkian menyoroti niat negosiasi negaranya, meski dengan nada kritik terhadap Amerika Serikat.
"Iran terlibat dalam pembicaraan dengan iktikad baik dengan AS, hanya untuk diserang secara ilegal di tengah negosiasi. Ini membuktikan AS menolak diplomasi," ujarnya, mengutip pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah.
Namun, diikuti dengan pesan yang cenderung meredakan, Pezeshkian menegaskan posisi Iran. "Solusinya adalah mengakhiri agresi. Iran tidak menginginkan perang tetapi siap mengakhirinya dengan jaminan terhadap serangan lebih lanjut," lanjutnya, seperti dikutip dari laporan pasar.
Respons pasar terhadap nada yang lebih moderat itu terlihat jelas. Harga minyak mentah Brent berjangka untuk kontrak Juni, patokan internasional, anjlok 3,4 persen menjadi USD103,78 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), patokan AS, juga terkoreksi satu persen ke level USD101,90 per barel.
Ancaman ke Perusahaan AS Masih Menggantung
Meski sinyal diplomatik membawa angin segar, suasana pasar tetap waspada. Ancaman dari Garda Revolusi Iran untuk menargetkan fasilitas perusahaan-perusahaan teknologi besar AS di Timur Tengah masih menjadi faktor penguat volatilitas. Peringatan yang dikabarkan televisi pemerintah itu menyebut sejumlah nama raksasa teknologi, termasuk Microsoft, Apple, dan Alphabet, dengan waktu yang disebut mulai 1 April.
Ancaman semacam ini menciptakan ketidakpastian berlapis bagi stabilitas pasokan dan keamanan kawasan, dua hal yang sangat sensitif bagi pasar komoditas energi. Para analis memperhatikan bahwa dinamika antara retorika politik dan aksi di lapangan sering kali menjadi penentu pergerakan harga jangka pendek yang tajam.
Kekhawatiran Inflasi Menguat di Tengah Gejolak
Di luar faktor geopolitik langsung, gejolak harga energi ini memperkuat kekhawatiran akan tekanan inflasi di berbagai negara. Data terbaru dari kawasan Euro menunjukkan lonjakan pertumbuhan harga konsumen menjadi 2,5 persen pada Maret, melampaui ekspektasi dan target Bank Sentral Eropa.
Di Amerika Serikat, harga bensin rata-rata telah menembus level USD4 per galon untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menjadi beban tambahan bagi konsumen, sekaligus menguji optimisme bahwa status AS sebagai eksportir energi dapat sepenuhnya melindunginya dari guncangan pasar global.
Prospek inflasi yang membumbung ini telah mengubah ekspektasi kebijakan moneter. Spekulasi bahwa bank-bank sentral mungkin harus menunda atau bahkan mempertimbangkan kenaikan suku bunga mulai menguat, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah. Pergeseran sentimen ini turut menekan pasar saham, dengan indeks S&P 500 mencatat kuartal terburuknya dalam beberapa periode terakhir, mengubur harapan awal tahun akan kondisi yang lebih mendukung.
Artikel Terkait
AS Kerahkan Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah, Perkuat Postur Militer di Tengah Ketegangan dengan Iran
Menaker Soroti Potensi Industri Kreatif Sebagai Laboratorium Magang Nasional
INET Alihkan Kemitraan ke Induk Usaha untuk Perluas Layanan FTTH dan FWA
Harga Emas Antam Melonjak Rp75 Ribu per Gram di Tengah Sentimen Safe-Haven