Uni Eropa Siapkan Langkah Darurat Antisipasi Guncangan Pasokan Energi

- Kamis, 02 April 2026 | 01:50 WIB
Uni Eropa Siapkan Langkah Darurat Antisipasi Guncangan Pasokan Energi

PARADAPOS.COM - Uni Eropa tengah menyiapkan langkah-langkah darurat untuk mengantisipasi guncangan pasokan energi menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah. Komisaris Energi UE, Dan Jørgensen, mengungkapkan bahwa paket kebijakan yang disiapkan mencakup pembatasan tarif jaringan dan pajak listrik, mencontoh tindakan serupa yang diambil saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Lonjakan harga gas alam Eropa yang telah melampaui 70 persen sejak akhir Februari menjadi alarm utama, meskipun pasokan minyak mentah dan gas secara langsung belum terdampak signifikan.

Kekhawatiran Jangka Pendek dan Rencana Darurat UE

Kekhawatiran utama Brussels saat ini justru terletak pada pasokan produk minyak olahan, seperti kerosin dan solar, yang sekitar 15 persennya masih bergantung pada kawasan Timur Tengah. Durasi dan skala krisis yang belum jelas memaksa pihak berwenang bersiap dengan skenario terburuk.

Jørgensen menekankan bahwa gangguan pada pasokan energi diperkirakan akan berlangsung lama. Bahkan jika gencatan senjata tercapai, dampaknya akan tetap terasa akibat rusaknya infrastruktur energi di wilayah konflik.

"Saya memperkirakan gangguan pasokan energi akan terus berlanjut. Bahkan jika perdamaian tercapai akan ada konsekuensi yang ditimbulkan, karena sebagian infrastruktur energi di wilayah tersebut telah hancur akibat perang Iran," jelasnya.

Gelombang Serangan dan Ancaman di Jalur Vital

Sementara itu, gelombang ketegangan terus meluas di lapangan. Iran dilaporkan terus melancarkan serangan terhadap negara-negara tetangganya di Teluk, menargetkan fasilitas seperti tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait dan kapal tanker di perairan Qatar. Kawasan Teluk Persia, yang menjadi rumah bagi pelabuhan dan terminal ekspor energi terpenting di dunia, kini berubah menjadi zona rawan.

Selat Hormuz yang strategis, jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas global, praktis terancam macet total akibat serangan dan ancaman ini. Situasi ini memicu diskusi intens di antara negara-negara yang bergantung pada jalur tersebut.

Opsi Militer yang Berisiko Tinggi

Menanggapi blokade de facto itu, Uni Emirat Arab disebut-sebut sedang berupaya membentuk koalisi internasional untuk membuka Selat Hormuz secara paksa. Seperti dilaporkan Wall Street Journal, diplomat UEA dikabarkan telah mendesak pemerintah Amerika Serikat serta kekuatan militer di Eropa dan Asia untuk turun tangan, dengan harapan mendapat mandat dari Dewan Keamanan PBB.

Namun, operasi semacam itu diakui sangat rumit dan berbahaya. Kondisi geografis selat yang sempit memberikan keuntungan pertahanan yang besar bagi Iran, yang dapat dengan mudah melancarkan serangan dari darat, memberikan waktu yang sangat terbatas bagi kapal perang untuk bereaksi.

Pernyataan Keras dari Washington dan Tel Aviv

Di tengah kebuntuan ini, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa tanggung jawab membuka kembali selat itu bukan berada di pundak Amerika Serikat. Dari Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa AS "tidak ada hubungannya" dengan masalah ini, meski konflik saat ini merupakan konsekuensi dari perang Amerika-Israel melawan Iran.

Trump bahkan memberikan pernyataan yang lebih keras mengenai tujuan konflik. Ia memperkirakan serangan AS di Iran akan berakhir dalam dua hingga tiga minggu, dengan tujuan yang jauh lebih ekstrem.

"Jika kami merasa bahwa mereka telah dikembalikan ke 'zaman batu' untuk waktu yang lama dan tidak mampu lagi mengembangkan senjata nuklir, maka kami akan pergi," ujar Presiden AS tersebut.

Dukungan serupa datang dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang memprediksi keruntuhan rezim Iran. "Rezim Ayatollah di Iran lebih lemah dari sebelumnya," tuturnya. Namun, ia mengakui bahwa perjuangan melawan kepemimpinan Iran belum berakhir.

Jalan Diplomasi yang Terhambat Ketidakpercayaan

Di sisi lain, seruan untuk kembali ke jalur diplomasi justru datang dari Vatikan. Paus Leo XIV mendesak Presiden Trump dan semua pemimpin dunia untuk segera kembali ke meja perundingan, seraya menekankan pentingnya menghentikan perang terutama menjelang perayaan Paskah. "Kembalilah ke meja perundingan untuk berdialog... Akhiri perang ini," serunya.

Namun, seruan itu tampaknya sulit diwujudkan dalam waktu dekat. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan keraguannya untuk bernegosiasi dengan Washington, mencerminkan tingkat kepercayaan yang telah anjlok.

"Kami sama sekali tidak percaya bahwa negosiasi dengan AS akan menuai hasil. Tingkat kepercayaan kami (pada mereka) nol," ungkapnya kepada stasiun televisi Al Jazeera.

Dengan posisi yang masih berjauhan antara pihak-pihak yang bertikai, dan ancaman terhadap stabilitas pasokan energi global yang semakin nyata, kawasan Timur Tengah sekali lagi menjadi episentrum ketegangan dengan konsekuensi yang jauh melampaui batas geografisnya.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar