Iran Klaim Serang Tanker AS di Teluk Persia, Balas Penenggelaman Fregatnya

- Kamis, 05 Maret 2026 | 13:25 WIB
Iran Klaim Serang Tanker AS di Teluk Persia, Balas Penenggelaman Fregatnya

PARADAPOS.COM - Ketegangan militer di Teluk Persia meningkat drastis setelah Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang dan membakar sebuah kapal tanker minyak berbendera Amerika Serikat. Serangan rudal yang terjadi Kamis (5/3/2026) pagi waktu setempat ini disebut sebagai balasan atas penenggelaman fregat Iran oleh kapal selam AS sehari sebelumnya. Klaim IRGC yang menyatakan kini mengontrol penuh Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak global—memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas dan telah mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Klaim Serangan dan Pernyataan Resmi Iran

Melalui siaran televisi pemerintah dan kantor berita resmi, IRGC merilis pernyataan detail mengenai operasi tersebut. Mereka menyebut kapal tanker AS itu terkena rudal di perairan utara Teluk Persia dan kini dalam keadaan terbakar. Pernyataan itu dengan tegas menegaskan serangan ini sebagai bagian dari operasi pembalasan.

"Saat ini kapal tersebut terbakar," bunyi pernyataan resmi IRGC, yang juga menegaskan bahwa mereka kini memiliki "kontrol penuh" atas Selat Hormuz. Teheran telah mengeluarkan peringatan bahwa kapal-kapal berbendera AS, Israel, Eropa, dan sekutunya akan menjadi target jika mencoba melintasi wilayah strategis tersebut.

Pemicu: Penenggelaman Kapal Perang Iran

Langkah Iran ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dipicu oleh insiden mematikan di Samudra Hindia. Sehari sebelumnya, pada Rabu (4/3/2026), kapal selam Angkatan Laut AS dilaporkan menenggelamkan fregat Iran IRIS Dena (yang juga disebut kapal "Soleimani") menggunakan torpedo di perairan internasional dekat Sri Lanka. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengonfirmasi operasi tersebut, menyebutnya sebagai penenggelaman kapal musuh pertama oleh torpedo AS sejak Perang Dunia II.

Hegseth menjelaskan, serangan torpedo Mark 48 itu menewaskan lebih dari 80 pelaut Iran, meski puluhan awak berhasil diselamatkan. "Kapal Iran tersebut merasa aman di perairan internasional, tapi justru dihantam," ujarnya. Ia menambahkan bahwa AS dan Israel telah berhasil menghancurkan puluhan kapal perang Iran serta mengurangi kemampuan rudal dan drone Teheran secara signifikan.

Eskalasi dan Dampak yang Meluas

Serangan terhadap kapal tanker AS ini dipandang sebagai realisasi dari sumpah Iran untuk membalas "dengan pahit" atas hilangnya IRIS Dena. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi independen dari pihak AS atau lembaga maritim internasional mengenai identitas pasti kapal yang diserang, tingkat kerusakan, atau korban jiwa. Laporan-laporan awal menyebutkan adanya tumpahan minyak yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan di perairan Teluk.

Insiden terbaru ini merupakan bagian dari pola eskalasi konflik yang lebih luas antara AS-Israel melawan Iran, yang telah melibatkan serangan udara, drone, dan operasi laut di berbagai titik panas. Ketegangan yang meruyak ini langsung berimbas pada pasar global. Harga minyak dunia melonjak tajam menyusul ancaman penutupan Selat Hormuz, sementara ratusan kapal tanker memilih untuk terdampar atau menunda pelayaran guna menghindari risiko.

Situasi yang Masih Sangat Fluid

Pihak Pentagon menyatakan sedang memantau situasi dengan ketat, meski tanggapan resmi AS atas klaim IRGC belum dikeluarkan. Suasana di kawasan tetap sangat fluid dan tidak menentu. Para pengamat keamanan internasional menyoroti potensi eskalasi lebih lanjut yang bisa dengan cepat memengaruhi stabilitas pasokan energi global, mengingat sensitivitas dan kepentingan strategis kawasan Teluk Persia. Setiap perkembangan baru akan sangat menentukan arah konflik yang telah memasuki fase berbahaya ini.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar