PARADAPOS.COM - Presiden Republik Korea Lee Jae Myung menyoroti pentingnya kerja sama pasokan energi dengan Indonesia dalam pertemuan bilateral dengan Presiden RI Prabowo Subianto. Pembahasan ini mengemuka sebagai respons atas tantangan geopolitik global, khususnya ketegangan di Timur Tengah, yang mengancam stabilitas pasokan energi dunia. Korea Selatan, yang sebagian besar kebutuhan energinya bergantung pada kawasan tersebut, melihat Indonesia sebagai mitra strategis alternatif untuk suplai gas alam cair (LNG) dan batu bara yang lebih stabil.
Kebutuhan Energi Korea di Tengah Gejolak Global
Ketegangan geopolitik yang memanas, terutama di Timur Tengah, telah menciptakan gelombang ketidakpastian di pasar energi internasional. Korea Selatan, sebagai negara industri maju, merasakan dampaknya secara langsung. Negeri Ginseng itu diketahui mengandalkan Timur Tengah untuk sekitar 70% kebutuhan energinya, sebuah ketergantungan yang kini menjadi kerentanan di tengah gejolak.
Dalam forum 'Indonesia-Korea Partnership for Resilient Growth', Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengonfirmasi bahwa pihak Korea menyampaikan keprihatinan tersebut dan melihat peluang kerja sama dengan Indonesia.
"Tentu ini nanti akan menjadi hal tersendiri, karena kita memang domestic demand terhadap LNG juga meningkat. Jadi nanti itu yang akan kita bahas ke depan," jelas Airlangga usai menghadiri forum tersebut pada Rabu (1/4/2026).
Komitmen Korea untuk Pasokan yang Stabil
Presiden Lee Jae Myung secara khusus menekankan harapannya agar Indonesia dapat menjadi mitra pasokan yang andal. Dalam pidatonya, ia menekankan nilai strategis kerja sama kedua negara dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah krisis.
"Kami sangat yakin bahwa Indonesia menyediakan LNG dan batu bara secara stabil kepada Korea. Untuk meminimalkan dampak krisis ini terhadap perekonomian dan kehidupan rakyat kita. Kita perlu memperluas kerja sama antara kedua negara kita dalam hal pasokan energi yang stabil dan keamanan sumber daya," ungkap Lee.
Respons Indonesia dan Penekanan pada Stabilitas
Di sisi Indonesia, permintaan ini disambut dengan pertimbangan yang matang, mengingat kebutuhan domestik terhadap LNG juga terus mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa pembahasan ke depan perlu menyeimbangkan antara komitmen ekspor dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri.
Presiden Prabowo Subianto, dalam kesempatan yang sama, juga menyoroti konteks pertemuan yang terjadi dalam situasi global yang penuh tantangan. Ia menekankan bahwa kerja sama bilateral semacam ini justru semakin krusial nilainya.
“Kunjungan kenegaraan saya ke sini berlangsung di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian dan bahaya. Oleh karena itu, hubungan antarnegara seperti Indonesia dan Republik Korea menjadi semakin penting,” tutur Prabowo.
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa dialog energi antara kedua negara bukan sekadar transaksi dagang, melainkan bagian dari upaya kolektif untuk membangun ketahanan dan stabilitas di kancah internasional yang sedang bergejolak.
Artikel Terkait
Kedubes Palestina Kecam Serangan Israel yang Tewaskan Tiga Prajurit TNI di Lebanon
KPK Dalami Dugaan Penyamaran Aset Mantan Kajari Hulu Sungai Utara
Rupiah Menguat Tipis Meski Dolar AS Menguat Global, Kontras dengan Mata Uang Asia
Gempa M 7,6 Guncang Bitung, BMKG Cabut Peringatan Dini Tsunami