PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berhasil membalikkan tekanan pada penutupan perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, setelah serangkaian intervensi agresif dari pemangku kebijakan. Mata uang Garuda ditutup menguat 52 poin atau 0,29 persen ke level Rp17.654 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.706 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi di tengah respons positif pasar terhadap langkah taktis Bank Indonesia dan pemerintah dalam membentengi perekonomian domestik dari gejolak global.
Intervensi Agresif dan Respons Pasar
Penguatan rupiah sore ini tidak lepas dari aksi nyata di pasar valas dan obligasi. Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Tiffani Safinia, menilai bahwa langkah-langkah yang diambil para pengambil kebijakan mulai menunjukkan hasil. “Pasar masih mencermati respons pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah, termasuk efektivitas intervensi di pasar valas dan obligasi,” ujarnya, Rabu, 20 Mei 2026.
Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026 menjadi katalis utama. BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) sehingga berada di level 5,25 persen. Langkah ini diikuti dengan kenaikan suku bunga deposit facility sebesar 50 bps menjadi 4,25 persen, dan suku bunga lending facility juga naik 50 bps ke level 6 persen.
Langkah Pre-emptive di Tengah Gejolak Global
Kenaikan suku bunga tersebut bukan sekadar respons jangka pendek. Menurut pernyataan resmi BI, ini merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Kebijakan ini juga bersifat pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran pemerintah, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen.
Bagi Bank Indonesia, keputusan ini sejalan dengan fokus kebijakan moneter sepanjang 2026 yang mengedepankan stabilitas (pro-stability). Tujuannya jelas: memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dari guncangan global yang masih belum mereda.
Sentimen Tambahan dari Pidato Presiden
Selain faktor moneter, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyoroti arah kebijakan ekonomi dan fiskal. Pidato tersebut dinilai penting oleh para pelaku pasar sebagai sinyal untuk menjaga kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga bergerak menguat ke level Rp17.685 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.719 per dolar AS. Penguatan di dua indikator ini memperkuat sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah mulai mereda, setidaknya untuk sementara waktu.
Editor: Joko Susilo
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Prabowo: Koperasi Desa Jadi Motor Penciptaan 18.000 Lapangan Kerja Baru
Pemerintah Tetapkan Libur Nasional Idul Adha 2026 pada 27 Mei, Rangkaian Cuti Bersama Berpotensi Enam Hari
Adnan/Indah Laju ke Babak Kedua Malaysia Masters 2026 Usai Tekuk Wakil Spanyol
Wakil Ketua DPR Kutuk Penangkapan Sembilan WNI oleh Israel dalam Misi Kemanusiaan di Gaza