PARADAPOS.COM - Seluruh jalur pendakian Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat, resmi dibuka kembali untuk umum setelah ditutup selama tiga bulan. Pembukaan ini diumumkan oleh pengelola Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pada Kamis, 2 April 2026, dengan enam rute yang siap dilalui pendaki dari sisi utara dan selatan gunung.
Enam Jalur Kembali Beroperasi
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardiaristo, memaparkan bahwa keenam jalur tersebut terdiri dari tiga rute di sisi utara dan tiga di selatan. Di wilayah utara, pendaki dapat memilih jalur Sembalun, Torean, dan Senaru. Sementara di sisi selatan, opsi yang tersedia adalah Timba Nuh, Tetebatu, dan Aik Berik.
Astekita mengungkapkan bahwa antusiasme pendaki terlihat tinggi, khususnya untuk rute-rute populer di utara. "Untuk jalur utara, kuota pendakian sudah terpenuhi. Jalur Sembalun saja tercatat sebanyak 367 pendaki telah terdaftar, dan puluhan lainnya dijadwalkan mulai mendaki pada hari berikutnya," tuturnya.
Perbedaan Tren Antar Jalur
Meski jalur utara ramai peminat, pola pendakian di tiap rute ternyata berbeda. Jalur Torean, misalnya, lebih banyak berfungsi sebagai rute turun bagi pendaki yang memulai perjalanan dari Sembalun atau Senaru. Hampir tidak ada yang menggunakan Torean sebagai titik awal pendakian.
Sebaliknya, jumlah pendaki di ketiga jalur selatan masih relatif terbatas. Data menunjukkan hanya 55 pendaki di Timba Nuh, sekitar sembilan orang di Tetebatu, dan empat pendaki di Aik Berik. Mayoritas pengguna jalur selatan didominasi oleh wisatawan domestik.
Fokus pada Pengelolaan Sampah dan Kuota
Dengan dibukanya kembali akses, pihak TNGR menegaskan komitmennya untuk menjaga kelestarian kawasan. Astekita memastikan seluruh aktivitas berjalan sesuai regulasi, termasuk penerapan sistem kuota harian yang mencapai ratusan orang. Durasi pendakian umumnya berkisar antara dua hingga empat hari, tergantung rute dan tujuan.
Namun, fokus utama saat ini adalah program pengelolaan sampah. "Fokus kami saat ini adalah peningkatan pengelolaan sampah melalui konsep zero waste. Setiap pendaki wajib mendata barang bawaan yang berpotensi menjadi sampah sebelum memulai pendakian," jelasnya.
Melalui sistem pencatatan ketat ini, petugas dapat memastikan bahwa semua barang yang dibawa masuk ke kawasan harus dibawa kembali turun oleh masing-masing pendaki. Langkah ini diharapkan mampu menekan volume sampah yang kerap menjadi persoalan di gunung-gunung populer.
Imbauan untuk Pendaki
Hingga saat ini, belum ada perubahan kebijakan signifikan selain pembukaan jalur. Pengelola TNGR mengimbau seluruh calon pendaki untuk tetap mematuhi semua aturan yang berlaku, mulai dari proses pendaftaran, kuota, hingga protokol zero waste. Kepatuhan ini dinilai krusial tidak hanya untuk keselamatan individu, tetapi juga untuk menjaga keutuhan ekosistem Rinjani bagi generasi mendatang.
Artikel Terkait
Tiga Berita Utama Warna-warni Pasar Motor Indonesia Awal 2026
MPL ID Season 17: RRQ dan Alter Ego Berjuang Bangkit di Pekan Kedua
Trump Desak NATO Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz, Sebut Sekutu Pengecut
Bus Terguling di Tol Jombang, Satu Tewas dan Belasan Luka