PARADAPOS.COM - Integrasi prinsip kepatuhan dan etika dalam operasional perusahaan bukan sekadar kewajiban regulatif, melainkan fondasi krusial untuk tata kelola yang baik dan keberlanjutan bisnis. Poin ini menjadi inti dari kuliah tamu yang disampaikan oleh Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko PT Jasa Raharja, Harwan Muldidarmawan, di hadapan mahasiswa MBA/IMBA Angkatan 87 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Yogyakarta, pada akhir Maret 2026.
Kepatuhan dan Etika sebagai Fondasi Bisnis Berkelanjutan
Dalam paparannya, Harwan menekankan bahwa prinsip etika dan kepatuhan harus meresap ke dalam setiap proses bisnis dan pengambilan keputusan, bukan hanya menjadi dokumen formal. Pendekatan ini, menurutnya, perlu diperkuat dengan manajemen risiko yang terukur dan upaya sistematis untuk membangun budaya perusahaan yang berintegritas.
Strategi tersebut diyakini akan membawa manfaat jangka panjang yang signifikan bagi organisasi, khususnya dalam membangun aset tak berwujud yang paling berharga: kepercayaan publik.
“Kepatuhan terhadap regulasi yang dijalankan dengan penuh amanah, disertai strategi manajemen yang tepat, tidak hanya memastikan operasional perusahaan berjalan sesuai ketentuan, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik sebagai aset utama perusahaan,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima pada Senin, 6 April 2026.
Penerapan GRC Berbasis Etika di Sektor Publik
Bagi perusahaan seperti Jasa Raharja yang bergerak di sektor layanan publik, keseimbangan antara kepatuhan, etika, dan kinerja operasional menjadi tantangan sekaligus kunci sukses. Harwan memaparkan, perusahaan menempatkan etika sebagai inti dari kerangka Governance, Risk, and Compliance (GRC) yang mereka terapkan.
Implementasinya diwujudkan melalui sejumlah langkah konkret, mulai dari penerapan Code of Conduct, penegakan budaya integritas dengan prinsip zero tolerance to fraud, hingga mengintegrasikan pertimbangan etika ke dalam alur layanan dan manajemen risiko. Untuk mendukung hal ini, Jasa Raharja juga memanfaatkan sistem digital seperti ekosistem GRC dan platform JRCare.
Dari perspektif lapangan, pendekatan terintegrasi semacam ini dianggap vital untuk menjaga kualitas layanan dan reputasi perusahaan di mata masyarakat dalam jangka panjang.
Pentingnya Menghadirkan Perspektif Praktisi di Dunia Akademik
Kuliah tamu ini sendiri mendapat apresiasi dari pihak penyelenggara akademik. Kehadiran praktisi seperti Harwan dinilai memberikan warna dan kedalaman yang berbeda bagi proses belajar mahasiswa.
Direktur MBA FEB UGM, Amin Wibowo, menyatakan bahwa berbagi pengalaman langsung dari dunia nyata memberikan nilai tambah yang tidak tergantikan bagi calon-calon pemimpin bisnis masa depan.
“Terima kasih atas perkenan Bapak Harwan hadir dan mengisi kelas kali ini, menjadi bekal penting bagi mahasiswa UGM karena berkesempatan untuk bertemu dalam satu forum Business Ethics for Sustainability, di mana mahasiswa dapat belajar secara langsung dari praktik yang dilakukan oleh Jasa Raharja,” ungkap Amin.
Dialog antara akademisi dan praktisi seperti ini menggarisbawahi kompleksitas penerapan etika bisnis yang sesungguhnya, sekaligus menegaskan bahwa prinsip-prinsip tersebut adalah elemen dinamis yang terus berkembang seiring tantangan zaman.
Artikel Terkait
Puluhan Siswa di Jakarta Timur Keracunan Usai Konsumsi Makanan Program Gizi Gratis
Menkominfo Tegaskan WFH Jumat Bukan Hari Libur, Pelayanan Publik Harus Tetap Optimal
Harga Batu Bara Ikut Naik, PTBA Fokus Efisiensi Hadapi Tekanan Biaya
WHO Soroti Kolaborasi Ilmiah sebagai Fokus Hari Kesehatan Sedunia 2026