Geopolitik Panas Dongkrak Harga Minyak, Saham Migas di BEI Menguat

- Selasa, 07 April 2026 | 03:50 WIB
Geopolitik Panas Dongkrak Harga Minyak, Saham Migas di BEI Menguat

PARADAPOS.COM - Sentimen geopolitik yang memanas kembali mendorong harga minyak dunia bertahan di level tinggi, tepatnya di atas USD110 per barel. Kondisi ini langsung berdampak pada pasar modal Indonesia, di mana saham-saham sektor minyak dan gas (migas) tercatat menguat pada perdagangan Selasa (7/4/2026). Kenaikan tersebut terpantau merata di berbagai emiten, mulai dari perusahaan eksplorasi hingga pendukung logistik.

Pergerakan Saham Emiten Migas

Pada sesi pagi, tepatnya pukul 10.26 WIB, papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) diwarnai oleh sentimen positif di sektor energi. Saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) menjadi salah satu yang paling menonjol dengan kenaikan 6,15 persen ke level Rp3.970 per saham. Diikuti oleh PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang merangkak naik 4,35 persen menjadi Rp5.400.

Tak hanya itu, emiten besar seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga menguat 1,88 persen. Sementara itu, saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) bertambah 2,26 persen, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) naik 1,61 persen, dan PT Elnusa Tbk (ELSA) menghijau 0,70 persen. Pergerakan ini menunjukkan respons pasar yang cepat terhadap dinamika harga komoditas energi global.

Analisis: Geopolitik Jadi Penggerak Utama

Di balik penguatan tersebut, analis pasar melihat bahwa pendorong utama saat ini bukan lagi faktor fundamental pasokan dan permintaan tradisional, melainkan sentimen geopolitik yang kian mencekam. Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk tenggat waktu yang ditetapkan oleh pemerintahan Amerika Serikat, menjadi fokus perhatian utama para pelaku pasar.

Priyanka Sachdeva, analis dari Phillip Nova, memberikan pandangannya mengenai situasi ini. Ia menilai pasar minyak saat ini sangat sensitif terhadap berita utama.

“Harga minyak kini tidak lagi bergerak karena faktor pasokan dan permintaan, melainkan diperdagangkan mengikuti tenggat waktu dan potensi ledakan konflik,” ungkapnya, dikutip dari Dow Jones Newswires.

Dalam catatannya, Sachdeva juga menggarisbawahi risiko terhadap pasokan global. Ia menambahkan bahwa tekanan geopolitik telah menciptakan bayang-bayang ketatnya pasokan minyak dunia.

“Bahkan kebijakan dominasi energi Washington belum mampu sepenuhnya menutup potensi kehilangan pasokan minyak dari Timur Tengah dalam jangka pendek,” jelasnya.

Kondisi Pasar Minyak Global

Sentimen tegang tersebut tercermin dalam harga minyak mentah di pasar internasional. Pada perdagangan terbaru, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman terdekat tercatat melonjak sekitar 2,3 persen menuju level USD114,98 per barel. Sementara itu, minyak jenis Brent juga menguat 1,2 persen ke posisi USD111,06 per barel.

Dengan ketidakpastian yang masih membayangi, pergerakan harga minyak dan saham sektor terkait diperkirakan akan tetap volatil dalam jangka pendek. Investor dan analis terus memantau perkembangan kebijakan dan situasi keamanan di kawasan penghasil energi utama dunia untuk mengantisipasi arah pasar selanjutnya.

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar