TBS Energi Utama Terbitkan Obligasi Rp175 Miliar untuk Modal Kerja di Tengah Transformasi Bisnis

- Jumat, 10 April 2026 | 00:50 WIB
TBS Energi Utama Terbitkan Obligasi Rp175 Miliar untuk Modal Kerja di Tengah Transformasi Bisnis

PARADAPOS.COM - PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) kembali melanjutkan program pendanaan jangka panjangnya dengan menerbitkan obligasi senilai Rp175 miliar. Emisi tahap ketiga ini merupakan bagian dari skema pendanaan berkelanjutan perusahaan yang telah direncanakan, dengan total target hingga Rp800 miliar. Penerbitan ini dilakukan di tengah kondisi kinerja keuangan yang terdampak oleh fluktuasi harga komoditas dan langkah strategis transformasi bisnis.

Rincian Penerbitan Obligasi Tahap III

Perusahaan secara resmi akan melaksanakan penawaran umum Obligasi Berkelanjutan I TBS Energi Utama Tahap III Tahun 2026. Sebelumnya, TOBA telah lebih dulu menerbitkan obligasi seri Tahap I senilai Rp125 miliar pada tahun 2025 dan Tahap II senilai Rp500 miliar pada tahun 2026. Dengan demikian, emisi tahap terbaru ini akan menyempurnakan target pendanaan berkelanjutan yang dicanangkan.

Sebagai instrumen utang, obligasi ini datang dengan sejumlah ketentuan spesifik. Penerbitan memperoleh peringkat idA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), yang mencerminkan tingkat kredit tertentu. Struktur pembayarannya dirancang dengan bunga tetap 9% per tahun, dibayarkan setiap kuartal. Untuk pelunasan pokok utang, perusahaan akan menerapkan sistem bullet payment, di mana seluruh nominal Rp175 miliar dilunasi sekaligus pada tanggal jatuh tempo, 13 Mei 2033.

Penjamin Emisi dan Alokasi Dana

Proses emisi ini tidak berjalan sendiri. TOBA menggandeng sejumlah pihak keuangan terpercaya untuk memastikan kelancarannya. PT Sucor Sekuritas ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi, sementara PT Bank Mega Tbk. berperan sebagai wali amanat yang bertugas melindungi kepentingan para investor obligasi.

Lantas, untuk apa dana segar sebesar Rp175 miliar ini akan dialokasikan? Manajemen perusahaan telah menyiapkan rencana yang jelas. Dana hasil penerbitan, setelah dikurangi biaya-biaya emisi, akan dialokasikan sepenuhnya untuk kebutuhan modal kerja. Kebutuhan tersebut mencakup berbagai beban operasional rutin, seperti pembayaran gaji, sewa kantor, perawatan aset, serta keperluan umum korporasi lainnya yang mendukung kelangsungan usaha.

Konteks Kinerja dan Langkah Transformasi

Keputusan untuk terus mencari pendanaan ini perlu dilihat dalam konteks kinerja keuangan TOBA yang tercatat dalam Laporan Keuangan 2025. Pada tahun tersebut, perseroan membukukan pendapatan sebesar US$380,22 juta, atau sekitar Rp6,35 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan sekitar 14,7% jika dibandingkan dengan realisasi pendapatan tahun 2024 yang mencapai US$445,6 juta.

Lebih dari itu, TOBA juga mencatatkan rugi bersih yang signifikan, yakni US$162 juta atau setara Rp2,7 triliun. Kondisi ini tidak terlepas dari dua faktor utama yang saling berkaitan. Pertama, tekanan dari merosotnya harga batu bara di pasar global sepanjang tahun 2025. Kedua, adanya beban kerugian non-kas yang berasal dari langkah strategis perusahaan.

Mengenai kerugian non-kas tersebut, manajemen memberikan penjelasan lebih rinci. "Kerugian non-kas dan tidak berulang, yang berasal dari dampak divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar US$97 juta sebagai bagian dari transformasi Perseroan ke sektor rendah karbon," ungkapnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa kerugian tersebut merupakan konsekuensi dari transisi bisnis yang disengaja menuju model yang lebih berkelanjutan, alih-alih sekadar kerugian operasional biasa.

Dengan demikian, penerbitan obligasi tahap ketiga ini tidak hanya sekadar upaya menambah modal kerja, tetapi juga bagian dari strategi keuangan yang lebih besar untuk mendukung transformasi jangka panjang perusahaan di tengah dinamika pasar energi yang terus berubah.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar