PARADAPOS.COM - Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) yang dioperasikan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan lonjakan transaksi luar biasa sepanjang 2025. Total nilai transaksi di platform perdagangan surat utang ini mencapai Rp1.382,1 triliun, atau melesat 461,6 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
Pendorong Utama Pertumbuhan
Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Kristian Sihar Manullang, mengungkapkan bahwa kinerja fenomenal ini tidak lepas dari kehadiran fitur baru. Implementasi transaksi Repurchase Agreement (Repo) pada Maret 2025 menjadi motor penggerak utama.
“Peningkatan jumlah transaksi ini disebabkan oleh telah terimplementasinya transaksi Repurchase Agreement (Repo) pada 10 Maret 2025 di SPPA dengan total nilai transaksi mencapai Rp751,6 triliun,” jelas Kristian dalam Penganugerahan SPPA Award 2025 di Main Hall BEI, Jakarta, Senin.
Di luar repo, transaksi outright atau jual beli langsung surat utang juga menunjukkan performa kuat dengan pertumbuhan 196,2 persen menjadi Rp630,5 triliun.
Komposisi Pasar dan Basis Pengguna
Dengan capaian tersebut, komposisi pasar antar-dealer di SPPA kini didominasi oleh transaksi repo dengan porsi 28 persen, diikuti outright sebesar 23 persen. Platform ini telah berhasil menarik minat 39 pengguna jasa perdagangan surat utang, yang terdiri dari bank umum, bank pembangunan daerah, dan perusahaan sekuritas. Dari jumlah tersebut, 14 institusi telah aktif memanfaatkan fasilitas repo.
Kristian menambahkan bahwa tren positif ini telah berlangsung sejak platform diluncurkan. “Sejak diluncurkan pada tahun 2025, transaksi perdagangan aktivitas penghimpunan dana melalui penerbitan EBUS di SPPA terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun,” ungkapnya.
Kelengkapan Sistem dan Perkembangan Awal
SPPA didesain untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan transaksi yang kompleks. Platform ini menyediakan beragam mekanisme, mulai dari order book hingga transaksi bilateral over-the-counter (OTC), menjadikannya sistem matching yang cukup komprehensif untuk instrumen OTC.
Peluncuran fitur repo pada Maret lalu merupakan penguatan signifikan dari platform yang sebenarnya telah beroperasi sejak November 2020 untuk perdagangan surat utang konvensional. Langkah ini diambil BEI untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi di pasar sekunder. Dampaknya langsung terlihat, di mana hanya dalam tiga bulan pertama, transaksi repo telah menembus angka Rp100,85 triliun, menandakan adopsi yang cepat di kalangan pelaku pasar.
Artikel Terkait
Paus Leo XIV Tegaskan Tak Ingin Berpolemik dengan Trump
BMKG Imbau Waspada Cuaca Ekstrem Meski Masa Pancaroba Telah Dimulai
Imigrasi Perketat Pengawasan TKA di Sektor Industri dan Pertambangan
TKA SMP Beralih dari Momok Menjadi Alat Ukur Pembelajaran