Ibu Tangis di DPRD Jatim Perjuangkan Keadilan untuk Anak Korban Dugaan Peluru Nyasar

- Rabu, 15 April 2026 | 18:00 WIB
Ibu Tangis di DPRD Jatim Perjuangkan Keadilan untuk Anak Korban Dugaan Peluru Nyasar

PARADAPOS.COM - Seorang ibu menangis haru di hadapan anggota DPRD Jawa Timur, Kamis (16/4/2026), sembari memperjuangkan keadilan untuk anaknya yang menjadi korban dugaan peluru nyasar dari latihan militer. Dewi Murniati, bersama keluarga, mendatangi dewan untuk mengadukan kasus yang menimpa putranya, DFH (14), yang hingga kini belum menemui titik terang penyelesaiannya.

Tangis dan Harapan di Gedung Dewan

Suasana haru menyelimuti ruang sidang ketika Dewi Murniati tak lagi sanggup menahan tangis. Dengan suara yang bergetar penuh emosi, ia menyampaikan kronologi insiden yang dialami anaknya. Keluarganya datang jauh-jauh untuk meminta DPRD Jatim mengawal penyelesaian kasus yang diduga bersumber dari latihan menembak anggota Marinir di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya.

Bagi Dewi, proses hukum yang berjalan dinilainya lambat dan belum memberikan kejelasan. Lebih dari itu, ia mengungkapkan adanya tekanan yang dirasakan keluarga selama penanganan perkara. Ia menyebut ada permintaan agar kasus ini tidak disebarluaskan ke publik, bahkan keluarganya sempat diminta untuk membuat surat permohonan maaf kepada institusi terkait.

Upaya panjang yang telah ditempuh sejauh ini, menurutnya, belum membuahkan hasil yang memuaskan. Harapan terbesarnya kini bertumpu pada intervensi dewan untuk memastikan hak-hak anaknya, terutama terkait pemulihan kesehatan, dapat dipenuhi sepenuhnya.

“Yang saya utamakan adalah upaya penyembuhan anak saya sampai tuntas,” tutur Dewi dengan penuh keyakinan.

Respons dan Janji Mediasi dari DPRD

Merespons pengaduan keluarga, Ketua Komisi C DPRD Jawa Timur, Adam Rusydi, menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi mediasi. Pihak dewan berjanji akan segera menjadwalkan pemanggilan terhadap pihak Marinir guna mendiskusikan solusi terbaik bagi semua pihak.

“Kami akan melakukan komunikasi kepada pihak-pihak terkait dan memediasi kira-kira solusi terbaik seperti apa,” jelas Adam Rusydi.

Pernyataan Empati dari Pihak Marinir

Sebelumnya, Komandan Hukum Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir TNI AL, Mayor Ahmad Fauzi, telah menyampaikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Dalam keterangannya, ia mengungkapkan keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa dua siswa SMP di Gresik.

“Pertama-tama kami menyampaikan turut prihatin atas terjadinya musibah yang menimpa dua siswa SMP di Gresik. Kami memahami peristiwa ini menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran bagi kita semua. Kami atas nama Komandan Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir menyampaikan rasa simpati dan empati yang tulus terhadap para korban,” ungkap Ahmad Fauzi.

Kronologi Insiden yang Menimpa Dua Siswa

Insiden yang memicu perjuangan hukum ini terjadi pada Selasa, 17 Desember 2025, sekitar pukul 10.00 WIB. Dua siswa kelas III SMPN 33 Gresik, DFH (14) dan RQ (15), menjadi korban saat sedang berada di musala sekolah mereka. Dugaan sementara, peluru yang melukai mereka berasal dari latihan militer empat batalyon yang sedang berlangsung di kawasan tersebut. Kasus ini kini terus diawasi publik, menunggu langkah konkret penyelesaian yang adil dan transparan.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar