PARADAPOS.COM - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyoroti frekuensi kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis yang dinilai cukup tinggi dalam beberapa bulan terakhir. Dalam pernyataan resminya, PDIP mendesak pemerintah untuk memberikan penjelasan terbuka mengenai tujuan, agenda, serta capaian dari setiap lawatan luar negeri presiden. Berdasarkan catatan, Presiden Prabowo telah melakukan kunjungan ke Prancis sebanyak tiga kali dalam kurun waktu kurang dari lima bulan—sebuah intensitas yang memunculkan pertanyaan di publik terkait urgensi dan efektivitas agenda diplomasi yang dijalankan.
Kritik dari Internal Partai
Ketua DPP PDIP, Andreas Hugo Pareira, menegaskan bahwa setiap kunjungan kenegaraan semestinya memiliki target yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Ia menyampaikan hal ini di Jakarta pada Sabtu (30/5).
“Ya, tentu, kunjungan luar negeri itu kan apa, tentu ada tujuannya gitu. Dan tentu, terutama di dalam dunia diplomasi ketika presiden berkunjung ke suatu negara, itu tentu harus teragenda dengan ketat, terus kemudian target-target apa yang akan dicapai, dan kemudian disampaikan kepada publik,” ujar Andreas.
Menurut politisi senior tersebut, tradisi diplomasi yang dijalankan oleh presiden terdahulu—mulai dari era Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto—selalu diimbangi dengan agenda yang terukur dan memiliki kepentingan strategis yang jelas bagi negara. Ia juga mengingatkan bahwa frekuensi perjalanan luar negeri presiden bukanlah persoalan baru. Pada masa kepemimpinan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, kritik serupa juga pernah muncul.
“Kita juga pernah punya presiden yang dikritik sering ke luar negeri waktu zaman Gus Dur, ya. Sekarang ya orang menyampaikan atau melihat itu pada Pak Prabowo,” tegasnya.
Desakan Transparansi Sebelum Keberangkatan
Andreas menilai Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) maupun juru bicara pemerintah perlu menjelaskan secara rinci maksud dan sasaran dari setiap perjalanan luar negeri yang dilakukan kepala negara. Ia juga mengkritik pola komunikasi pemerintah yang dianggap kurang proaktif.
“Tentu di sini yang Setneg atau juru bicaranya yang harus menyampaikan apa agenda-agenda perjalanan luar negeri tersebut, dan apa yang ingin dicapai melalui perjalanan-perjalanan luar negeri tersebut,” tuturnya.
Menurutnya, informasi mengenai agenda presiden seharusnya disampaikan kepada publik sebelum keberangkatan, bukan setelahnya. Dengan begitu, masyarakat dapat memahami kepentingan yang diwakili presiden dalam lawatan tersebut.
“Ini kan menjadi pertanyaan kan karena setelah pergi sampai di sana dulu baru kemudian penjelasannya belakangan gitu. Seharusnya kan sebelum pergi itu media sudah tahu sehingga publik, rakyat sudah tahu gitu, karena presiden pergi mewakili negara gitu,” ujarnya.
Menyoal Alasan Kunjungan
Lebih lanjut, Andreas menekankan bahwa alasan kunjungan luar negeri seharusnya tidak hanya didasarkan pada agenda seremonial atau kegiatan pribadi yang kemudian dikaitkan dengan kepentingan negara.
“Tidak, oh ini pergi ke ini, pergi ke apa nanti sholat Idul Adha di Prancis. Itu kan bukan argumentasi gitu,” pungkasnya.
Sebagai informasi, kunjungan terbaru Presiden Prabowo ke Prancis berlangsung pada 27 hingga 30 Mei 2026. Dalam lawatan tersebut, Prabowo menyatakan berhasil membawa sejumlah kerja sama antara Indonesia dan Prancis dengan nilai mencapai Rp 61,25 triliun. Sebelumnya, Presiden Prabowo juga telah mengunjungi Prancis pada 23 Januari dan 14 April 2026. Intensitas kunjungan tersebut menjadi perhatian sejumlah kalangan yang meminta adanya transparansi terkait manfaat dan hasil konkret dari agenda diplomasi tersebut.
Editor: Rico Ananda
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pimpinan Ponpes di Pekalongan Ditangkap atas Dugaan Cabuli Santriwati hingga Hamil
Wings Air Buka Suara soal Baling-Baling Pesawat Diikat Kabel Ties, Sebut Bagian dari Prosedur Perawatan
Polisi Masih Tunggu Hasil Labfor untuk Pastikan Penyebab Kematian Satu Keluarga di Posong Temanggung
Polisi Tangkap Pasutri Pemilik Wedding Organizer Marwah yang Diduga Tipu Calon Pengantin