PARADAPOS.COM - Pasukan Israel kembali melancarkan operasi militer di wilayah pedesaan Provinsi Quneitra, Suriah, pada Minggu, 26 Juli 2026. Dalam operasi tersebut, seorang warga sipil ditangkap setelah rumahnya digeledah, sementara pasukan Israel juga dilaporkan memasuki wilayah Provinsi Daraa. Langkah ini disebut sebagai pelanggaran terbaru terhadap kedaulatan Suriah di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan selatan negara itu.
Kronologi Penggerebekan di Quneitra dan Daraa
Menurut laporan kantor berita SANA yang dikutip Anadolu Agency, sejumlah kendaraan militer Israel memasuki Desa Western Samdaniyah di bagian utara Quneitra. Pasukan kemudian menggerebek sebuah rumah, menangkap seorang warga sipil, sebelum mundur dari wilayah tersebut. Operasi berlangsung cepat, meninggalkan ketegangan di antara penduduk setempat.
Sementara itu, di Provinsi Daraa, pasukan Israel dilaporkan bergerak sebelum fajar menuju Desa Maariyah dan Al-Ardah di kawasan Cekungan Yarmouk. Informasi tersebut disampaikan televisi pemerintah Suriah, Alikhbariah TV. Belum ada rincian lebih lanjut mengenai jumlah personel atau durasi patroli di daerah tersebut.
Respon Pemerintah Suriah dan Sikap Israel
Pemerintah Suriah menyebut operasi itu sebagai pelanggaran terbaru terhadap kedaulatan negaranya. Hingga kini, militer Israel belum memberikan tanggapan atas laporan mengenai penyusupan maupun penangkapan tersebut. Keheningan dari pihak Tel Aviv ini memicu spekulasi di kalangan pengamat mengenai tujuan strategis di balik manuver tersebut.
Dalam beberapa bulan terakhir, wilayah selatan Suriah berulang kali menjadi lokasi operasi militer Israel, termasuk penggerebekan, penggeledahan, penangkapan, serta pendirian pos pemeriksaan militer. Aktivitas tersebut meningkat setelah runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024.
Latar Belakang Runtuhnya Perjanjian 1974
Israel kemudian menyatakan perjanjian pelepasan pasukan tahun 1974 tidak lagi berlaku dan mengambil alih kendali atas zona penyangga di wilayah Suriah. Keputusan sepihak ini langsung menuai kecaman dari Damaskus dan sejumlah pihak internasional. Di lapangan, penduduk di perbatasan menggambarkan suasana mencekam dengan seringnya terdengar suara kendaraan lapis baja di malam hari.
Seorang warga di Quneitra yang enggan disebutkan namanya menuturkan, “Kami tidak pernah tahu kapan mereka akan datang. Setiap malam ada suara mesin dan lampu sorot dari arah bukit.” Kutipan ini menggambarkan keresahan yang melanda warga sipil di wilayah yang kerap menjadi sasaran operasi.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
1.476 Patriot Dikerahkan ke 53 Kawasan Transmigrasi, Menteri: Bukan Sekadar Diskusi di Ruang Rapat
Pemerintah Luncurkan RAN PE Fase II 2026–2029, Fokus Cegah Perekrutan Anak dan Perempuan Lewat Internet
Ratusan Warga Tunisia Tuntut Presiden Kais Saied Mundur di Tengah Krisis Pelayanan Publik dan Gelombang Panas
IRGC Ancam Serang Pangkalan Militer Inggris Jika London Dukung Serangan AS ke Iran