PARADAPOS.COM - Sebuah langkah strategis dalam kerja sama lingkungan global diwujudkan dengan penandatanganan "Perjanjian Negara Tuan Rumah" antara The Center for International Forestry Research (CIFOR) dan Pemerintah Jerman di Jakarta, Senin (21/4). Kesepakatan bersejarah ini menjadi landasan hukum bagi pembentukan sekretariat regional CIFOR Eropa di kota Bonn, Jerman, yang akan memperkuat posisi kota tersebut sebagai hub internasional untuk isu-isu keberlanjutan.
Komitmen Jerman untuk Keberlanjutan Global
Dukungan Jerman dalam perjanjian ini bukan sekadar formalitas diplomatik. Menteri Federal Jerman untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, Reem Alabali Radovan, menegaskan bahwa langkah ini adalah cerminan nyata dari komitmen negara tersebut dalam memajukan pembangunan berkelanjutan serta menjaga ketahanan pangan dan iklim secara global.
“Sekretariat CIFOR juga akan semakin memperkuat posisi Bonn sebagai pusat utama bagi organisasi-organisasi internasional yang bergerak di bidang iklim, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan,” ungkapnya.
Sinergi Ilmu Pengetahuan dan Aksi Nyata
Di balik meja perundingan, kemitraan ini lahir dari kesadaran ilmiah yang sama. Direktur Jenderal CIFOR, Robert Nasi, menjelaskan bahwa kolaborasi ini berakar pada pemahaman mendalam tentang "kontinum hutan-pertanian"—sebuah konsep yang menggambarkan keterkaitan tak terpisahkan antara hutan, lahan pertanian, dan ketahanan pangan.
“Memperkuat kesinambungan ini sangat penting untuk membangun sistem pangan yang tangguh dan mampu bertahan dari guncangan iklim, sekaligus mendukung petani kecil dan masyarakat pedesaan,” tegas Nasi.
Mengatasi Tantangan Global dari Bonn
Pendirian sekretariat di Bonn dimaksudkan untuk lebih mendekatkan penelitian kelas dunia dengan implementasi di lapangan. Kepala Eksekutif CIFOR, Éliane Ubalijoro, yang juga memimpin ICRAF (The International Center for Research on Agroforestry), melihat perjanjian ini sebagai bukti komitmen bersama terhadap solusi berbasis ilmu pengetahuan.
“Dengan memperkuat kemitraan kami dengan Jerman, kami berada dalam posisi yang lebih baik untuk menghubungkan penelitian global dengan tindakan lokal, mendukung sistem pangan yang tangguh, memulihkan lingkungan, dan meningkatkan mata pencaharian di tempat-tempat yang paling membutuhkan,” papar Ubalijoro.
Agroforestri: Inti dari Pendekatan CIFOR-ICRAF
Pendekatan yang diusung oleh CIFOR dan mitra strategisnya, ICRAF, berpusat pada agroforestri. Sistem pengelolaan lahan yang mengintegrasikan pepohonan dengan tanaman pertanian atau peternakan ini diyakini sebagai salah satu solusi paling holistik. Agroforestri tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga dirancang untuk memberikan manfaat sosial dan kelestarian lingkungan jangka panjang, sebuah prinsip yang kini akan mendapat rumah strategis baru di jantung Eropa.
Artikel Terkait
Waskita Karya Pangkas Kerugian Bersih 45% di Kuartal I 2026
Piala Dunia 2026: 48 Tim Perebutkan Hadiah Rekor Rp11,5 Triliun
Tim SAR Gabungan Lanjutkan Pencarian Anak 4 Tahun yang Hanyut di Kali Bojonggede
BMKG dan Kementerian Kehutanan Perkuat Kolaborasi Antisipasi Karhutla 2026