PARADAPOS.COM - PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) mencatat perbaikan kinerja keuangan pada kuartal pertama 2026. Emiten konstruksi BUMN itu berhasil memangkas kerugian bersih secara signifikan, didorong oleh lonjakan pendapatan dan upaya efisiensi operasional. Meski masih berada di zona merah, tren penurunan kerugian ini memberikan sinyal awal yang positif bagi perseroan yang tengah menjalani proses restrukturisasi.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, Waskita membukukan rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp679,04 miliar. Angka ini turun tajam 45,46% dibandingkan kerugian Rp1,24 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan Melonjak, Beban Keuangan Terkendali
Penyusutan kerugian itu tidak lepas dari pertumbuhan pendapatan usaha yang cukup impresif. Sepanjang kuartal I/2026, perseroan berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp2,09 triliun, melonjak 54,86% secara tahunan dari Rp1,35 triliun. Meski beban pokok pendapatan juga naik, Waskita tetap mampu mencetak laba kotor sebesar Rp175,06 miliar.
Di sisi lain, beban keuangan perusahaan relatif terkendali, turun tipis menjadi Rp895,27 miliar. Namun, perseroan masih menanggung beban rugi dari entitas asosiasi dan ventura bersama senilai Rp126,01 miliar. Secara keseluruhan, perbaikan di bottom line ini membuat rugi per saham dasar WSKT turun menjadi Rp23,54 per lembar saham.
Kesehatan Kas dan Struktur Aset
Dari sisi likuiditas, posisi kas dan setara kas Waskita hingga akhir Maret 2026 tercatat mencapai Rp3,05 triliun, tumbuh 4,17% dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, total aset perseroan sedikit terkoreksi 2,6% menjadi Rp68,89 triliun. Komposisi liabilitas dan ekuitas juga mengalami penyesuaian, dengan ekuitas yang menurun menjadi Rp2,94 triliun.
Strategi Proyek Selektif dan Perolehan Kontrak Baru
Di tengah upaya memperbaiki kinerja keuangan, Waskita Karya juga menunjukkan progres dalam hal perolehan pekerjaan baru. Sepanjang tahun 2025, perseroan berhasil mengamankan Nilai Kontrak Baru (NKB) sebesar Rp12,52 triliun, meningkat dari realisasi tahun 2024. Kontrak-kontrak baru ini didominasi oleh proyek-proyek pemerintah dengan skema pembayaran yang dianggap lebih aman.
Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, mengungkapkan bahwa perseroan kini menerapkan kebijakan yang lebih ketat dalam seleksi proyek. Fokusnya adalah memilih proyek dengan skema pembayaran bulanan untuk menjaga arus kas.
"Melalui Komite Manajemen Konstruksi, perseroan memastikan proyek yang akan dikelola tidak membebani dari segi keuangan dan rendah risiko," jelas Ermy dalam keterangan tertulis, Kamis (2/4/2026).
Hingga akhir 2025, portofolio proyek yang sedang dikelola Waskita berjumlah 63 proyek dengan total nilai kontrak mencapai Rp31,7 triliun. Pendekatan selektif ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun fondasi bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Ganjil-Genap Jakarta Ditiadakan pada Hari Buruh 1 Mei 2026
Kisaran Biaya dan Prosedur Pembuatan Surat Keterangan Sehat untuk Lamaran Kerja
Iran Eksekusi Anggota MEK yang Dituduh Berkolaborasi dengan Intelijen Israel
Tiga Pejabat dan Eksekutif Dituntut 8 hingga 14 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Pertamina