Mensos Gus Ipul Pimpin Peringatan 22 Tahun Tagana, Apresiasi Dedikasi 35 Ribu Relawan Bencana

- Kamis, 23 April 2026 | 14:25 WIB
Mensos Gus Ipul Pimpin Peringatan 22 Tahun Tagana, Apresiasi Dedikasi 35 Ribu Relawan Bencana
PARADAPOS.COM - Kementerian Sosial RI memperingati 22 tahun pengabdian Taruna Siaga Bencana (Tagana) melalui kegiatan Santiaji yang digelar di Gedung Aneka Bhakti, Jakarta, pada Kamis (23/4/2026). Acara bertema "22 Tahun Mengabdi: Satu Sinergi untuk Ketangguhan Negeri" ini dirangkaikan dengan apel peringatan HUT ke-22 dan silaturahmi akbar keluarga besar Tagana. Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, jajaran pejabat Kemensos, serta kepala dinas sosial dari seluruh Indonesia turut hadir dalam perhelatan tersebut.

Penghargaan untuk Garda Terdepan Bencana

Sebagai bentuk apresiasi negara, Gus Ipul secara langsung menyerahkan piagam penghargaan kepada perwakilan Tagana dari 38 provinsi. Penghargaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol pengakuan atas kontribusi nyata para relawan yang selama lebih dari dua dekade berada di garis terdepan penanggulangan bencana. Suasana kebersamaan semakin terasa ketika Gus Ipul memimpin yel-yel yang menggema di ruangan. "Satu komando! Satu aturan! Satu kesatuan!" seru Gus Ipul dalam keterangan resmi yang diterima redaksi. Yel-yel tersebut langsung mendapat sambutan dari Agus Jabo Priyono. Wakil Menteri Sosial itu menegaskan dengan lantang, "One command, one action!"

Dari Mobil Rongsok Hingga 35 Ribu Personel

Dalam arahannya, Gus Ipul mengajak hadirin menelusuri kembali sejarah kelam Tagana. Ia mengungkapkan bahwa tidak banyak yang tahu jika organisasi ini lahir dari keterbatasan. Bahkan, pada masa-masa awal, Tagana sempat diidentikkan dengan "mobil rongsok"—sebuah metafora perjuangan yang serba sederhana dan penuh keterbatasan. Tagana tidak lahir dalam semalam, melainkan melalui proses panjang yang awalnya diragukan banyak pihak. Namun, dari titik nol yang sederhana, sekitar 60 orang angkatan pertama terus bergerak membangun fondasi pengabdian. Sejak dideklarasikan pada 25 Maret 2004 di Lembang, Jawa Barat, Tagana perlahan membuktikan eksistensinya. Kini, organisasi tersebut telah tumbuh menjadi kekuatan sosial yang tangguh dengan sekitar 35 ribu anggota yang tersebar di seluruh Indonesia hingga tingkat kabupaten dan kota. "Tagana adalah bagian dari pilar-pilar Kementerian Sosial yang membantu, khususnya pada saat ada bencana di berbagai tempat. Teman-teman Tagana selalu hadir di tengah bencana, mulai dari evakuasi, kedaruratan, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi," jelas Gus Ipul. Gus Ipul juga menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi ribuan relawan yang bekerja tanpa lelah. "Kami berterima kasih kepada segenap kader Tagana yang telah turut serta menanggulangi dampak bencana, menyiapkan logistik, mendirikan dapur umum, hingga memberikan dukungan psikososial," lanjutnya.

Peningkatan Kapasitas dan Edukasi Kebencanaan

Melihat tantangan ke depan yang semakin kompleks, Gus Ipul menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia Tagana. Ia mendorong agar pelatihan berkelanjutan terus dilakukan, tidak hanya oleh pemerintah pusat tetapi juga pemerintah daerah. Lebih dari itu, Tagana diharapkan bisa menjadi agen edukasi kebencanaan di tengah masyarakat. "Penting bagi Kementerian Sosial dan pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas SDM Tagana melalui pelatihan. Ke depan, Tagana juga diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat, termasuk di sekolah-sekolah di daerah rawan bencana," tutur Gus Ipul.

Solidaritas di Lapangan Jadi Kunci

Acara yang dihadiri 1.102 peserta ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi berbagai elemen, mulai dari Tagana, Kampung Siaga Bencana (KSB), Pordam, Karang Taruna, Banser, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), hingga Pekerja Sosial Masyarakat (PSM). Ketua Forum Koordinasi Tagana Jakarta Pusat, Benni Suryadilaga, turut menyampaikan pandangannya. "Saya sangat senang Tagana bisa terus bertahan dan mengabdi hingga 22 tahun. Di lapangan, solidaritas antar personel menjadi kunci utama untuk menghadapi berbagai tugas kemanusiaan yang tidak ringan," pungkas Benni.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar