PARADAPOS.COM - Pemerintah Indonesia dan Inggris resmi menandatangani kerja sama strategis di bidang maritim melalui program Maritime Partnership Programme. Kolaborasi ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Inggris beberapa waktu lalu. Fokus utamanya adalah modernisasi armada kapal tangkap ikan nasional, di mana lebih dari 1.500 kapal perikanan akan diperbarui dengan teknologi mutakhir. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kedaulatan sektor kelautan Indonesia sekaligus menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Modernisasi Armada: Lebih dari 1.500 Kapal Siap Diperbarui
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengungkapkan bahwa salah satu poin krusial dalam kerja sama ini adalah program modernisasi kapal tangkap ikan milik Indonesia. "Lebih dari 1.500 kapal perikanan akan dilengkapi dengan teknologi terbaik akan hadir di Indonesia melalui kerja sama ini," ujarnya.
Proses pembaruan ini tidak hanya melibatkan transfer teknologi dari Inggris. Pemerintah juga menggandeng sejumlah galangan kapal dalam negeri. Tujuannya, memastikan proses pembangunan dan pemeliharaan armada berjalan optimal dari hulu ke hilir.
Kolaborasi Galangan Kapal Lokal dan Teknologi Asing
Keterlibatan galangan kapal lokal menjadi salah satu strategi utama. Dengan begitu, transfer pengetahuan dan keterampilan bisa berlangsung secara langsung di lapangan. Para pekerja dan teknisi dalam negeri diharapkan dapat menguasai teknologi baru ini, sehingga perawatan jangka panjang tidak sepenuhnya bergantung pada pihak asing.
Dimensi Geopolitik: Stabilitas Indo-Pasifik
Di luar aspek teknis, program ini juga memiliki dimensi geopolitik yang kuat. Kedua negara sepakat untuk menjunjung tinggi kebebasan navigasi dan mendukung tatanan internasional yang berbasis pada aturan.
Kolaborasi ini mencerminkan komitmen bersama antara Inggris dan Indonesia dalam menjaga stabilitas serta kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik. Dengan kata lain, kerja sama ini bukan sekadar tentang kapal dan teknologi, melainkan juga tentang peta jalan politik maritim di kawasan yang semakin strategis.
Editor: Yuli Astuti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Hakim: Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS Bukan Operasi Intelijen TNI, Murni Motif Pribadi
75.266 Desa Didorong Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Nasional
Brasil, Maroko, Skotlandia, dan Haiti Bersaing di Grup C Piala Dunia 2026
Amnesty Desak Indonesia Ambil Langkah Tegas soal Dugaan Pembersihan Etnis di Tepi Barat