PARADAPOS.COM - Sejarah kembali terulang di Piala Dunia FIFA 2026. Brasil, Maroko, dan Skotlandia akan kembali bertemu dalam satu grup yang sama, mengulang kenangan pertemuan mereka di Prancis 1998 hampir tiga dekade lalu. Ketiga tim ini tergabung dalam Grup A bersama Norwegia kala itu, dan kini mereka dipertemukan lagi dengan wajah serta peta kekuatan yang sangat berbeda.
Kilas Balik: Pertemuan Pertama di Prancis 1998
Pada edisi 1998, Brasil datang sebagai juara bertahan dengan skuad bertabur bintang, termasuk Ronaldo. Mereka langsung menunjukkan dominasi sejak laga pembuka melawan Skotlandia. Sementara itu, Maroko yang diperkuat Mustapha Hadji dan Salaheddine Bassir tampil cukup impresif. Mereka bermain imbang dengan Norwegia, kalah 0-3 dari Brasil, lalu menutup fase grup dengan kemenangan 3-0 atas Skotlandia.
Sempat muncul harapan Maroko untuk lolos ke fase gugur. Namun, gol telat Norwegia ke gawang Brasil mengubah segalanya. Maroko tersingkir meski mengoleksi empat poin. Akhirnya, Brasil dan Norwegia melaju ke babak 16 besar, sementara Maroko dan Skotlandia harus angkat koper. Brasil sendiri melangkah hingga final sebelum dikalahkan tuan rumah Prancis dengan skor 0-3.
Maroko: Kebangkitan Kekuatan Global
Kini, 28 tahun berselang, ketiga tim kembali dipertemukan dengan komposisi pemain, pelatih, dan peta kekuatan yang sangat berbeda. Maromo datang dengan status baru sebagai kekuatan global yang terus menanjak. Jika pada 1998 mereka belum memiliki prestasi besar, kini mereka menempati peringkat delapan dunia—posisi tertinggi sepanjang sejarah mereka.
Performa impresif seperti finis di posisi keempat Piala Dunia 2022 menjadi bukti perkembangan tersebut. Tak hanya tim senior, level usia muda mereka juga bersinar dengan medali perunggu Olimpiade Paris 2024 dan gelar juara Piala Dunia U-20 2025.
Brasil: Elite Dunia yang Haus Gelar
Di sisi lain, Brasil masih menjadi salah satu tim elite dunia, meski sudah lama tidak meraih gelar Piala Dunia sejak 2002. Generasi baru yang dipimpin Vinícius Jr dan Raphinha diharapkan mampu mengembalikan kejayaan. Menariknya, mereka kini ditangani pelatih asal Italia, Carlo Ancelotti, yang menjadi pelatih asing pertama Brasil di putaran final.
Skotlandia: Comeback Setelah 28 Tahun
Sementara itu, Skotlandia akhirnya kembali ke panggung Piala Dunia setelah absen panjang sejak 1998. Dulu sempat rutin tampil, kini mereka datang dengan generasi baru yang lebih matang, dipimpin pemain seperti Scott McTominay dan Andy Robertson. Di bawah arahan Steve Clarke, Skotlandia bertekad menandai comeback mereka dengan hasil positif.
Pertemuan ulang ini bukan sekadar nostalgia. Ia menjadi panggung pembuktian bagi tiga tim dengan perjalanan dan ambisi yang sangat berbeda.
Editor: Reza Pratama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Final Chinese Bridge Competition di Makassar, Peserta dari SMP hingga Universitas Siap Berlomba Bahasa dan Budaya Mandarin
Trump Batalkan Rencana Kirim Utusan ke Pakistan, Perundingan Damai dengan Iran Makin Buntu
72 Ribu Jemaah Haji Indonesia Telah Diberangkatkan, Layanan Fast Track Makkah Route Diperluas
Kiandra Ramadhipa Comeback dari Posisi 17, Ukir Sejarah di Red Bull MotoGP Rookies Cup 2026