PARADAPOS.COM - Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, resmi menghentikan operasi pencarian korban tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Rabu, 29 April 2026, pukul 08.00 WIB. Insiden yang terjadi sehari sebelumnya, Selasa, 28 April 2026 pukul 19.57 WIB, menewaskan puluhan orang dan melukai puluhan lainnya. Seluruh tim pencari dari berbagai instansi telah dikembalikan ke satuan masing-masing setelah menjalani evakuasi selama 12 jam.
Evakuasi Berlangsung Lebih dari 12 Jam
Proses pencarian dan evakuasi korban berlangsung sejak Selasa malam hingga Rabu pagi. Syafii menjelaskan bahwa pihaknya bekerja tanpa jeda sejak laporan pertama diterima. “Kami baru menyelesaikan seluruh proses pencarian pada pukul 08.00 WIB pagi ini,” ujarnya saat ditemui di lokasi kejadian.
Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan setempat harus menghadapi kondisi medan yang rumit. Reruntuhan gerbong dan badan lokomotif yang saling bertaut membuat akses ke titik-titik tertentu sangat terbatas. Meski demikian, seluruh korban yang tertimbun berhasil dievakuasi dalam waktu 12 jam sejak kecelakaan terjadi.
Lima Korban Terjepit Jadi Prioritas
Salah satu tantangan terbesar dalam evakuasi adalah kondisi lima korban yang terjepit di antara sisa-sisa gerbong. Syafii menegaskan bahwa tim tidak bisa sembarangan menarik lokomotif KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL. “Ada beberapa korban yang harus mendapatkan penanganan evakuasi secara khusus dan terukur,” jelasnya.
Penanganan khusus itu, lanjutnya, membutuhkan alat berat dan teknik penyelamatan yang presisi. Tim medis juga harus siaga di dekat lokasi untuk memberikan pertolongan pertama begitu korban berhasil dikeluarkan. Proses ini memakan waktu lebih lama dibandingkan evakuasi biasa, namun demi keselamatan korban, langkah tersebut dinilai mutlak diperlukan.
Penyebab Kecelakaan Masih Diselidiki
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur masih dalam penyelidikan pihak berwenang. Syafii enggan berspekulasi mengenai kemungkinan faktor teknis atau human error. Ia hanya memastikan bahwa seluruh data dari rekaman perjalanan kereta dan alat perekam kabin telah diamankan.
Suasana di sekitar stasiun masih tampak lengang pada Rabu pagi. Petugas kebersihan dan teknisi mulai masuk untuk membersihkan sisa-sisa reruntuhan. Beberapa warga setempat masih terlihat berkumpul di luar pagar stasiun, menunggu informasi lebih lanjut mengenai kerabat mereka yang belum diketahui nasibnya.
Korban Dievakuasi ke RS Polri
Sebanyak sepuluh jenazah korban kecelakaan masih dalam proses identifikasi di Rumah Sakit Polri. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Metro Jaya bekerja keras untuk mencocokkan data antemortem dan postmortem. Kombes Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, menyebutkan bahwa proses identifikasi membutuhkan waktu karena kondisi korban yang cukup sulit dikenali.
“Kami berupaya semaksimal mungkin agar seluruh korban dapat teridentifikasi dengan cepat dan akurat,” ungkapnya. Keluarga korban diimbau untuk segera melapor ke posko informasi yang didirikan di RS Polri guna mempercepat proses identifikasi.
Editor: Yuli Astuti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Toyota Resmi Luncurkan Woven City, Kota Eksperimental Berbasis AI dan Hidrogen di Jepang
Mensos Gus Ipul Minta Kepala Daerah Jemput Calon Siswa Sekolah Rakyat untuk Putus Rantai Kemiskinan
Kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo di Bekasi Timur Timbulkan Keterlambatan Massal, Penumpang Stasiun Gambir Keluhkan Minimnya Informasi
Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur, KAI Batalkan Dua Perjalanan Kereta Jarak Jauh