PARADAPOS.COM - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga, menyatakan bahwa pengembangan compressed natural gas (CNG) merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi dan meningkatkan efisiensi biaya di sektor industri. Pernyataan ini disampaikan menanggapi rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang tengah mengkaji CNG sebagai alternatif pengganti liquefied petroleum gas (LPG). Lamhot menekankan bahwa ketergantungan Indonesia pada LPG impor yang mencapai lebih dari 70 persen perlu segera dikurangi.
Ketergantungan Impor dan Potensi Domestik
“Ketergantungan terhadap LPG impor masih sangat tinggi, lebih dari 70 persen kebutuhan nasional dipenuhi dari impor. Hal ini membebani neraca perdagangan dan fiskal melalui subsidi energi,” kata Lamhot dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
Ia menilai pemanfaatan CNG yang bersumber dari gas bumi domestik menjadi solusi yang rasional. Indonesia, menurutnya, memiliki cadangan gas yang cukup besar namun belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya di sektor hilir.
Konsumsi Industri yang Tinggi
Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi gas bumi nasional terus meningkat. Sektor industri menyerap lebih dari 30 persen penggunaan energi gas, mencakup manufaktur, makanan dan minuman, tekstil, hingga petrokimia.
“Sebagian besar masih bergantung pada energi berbasis minyak dan LPG,” ujarnya.
Menurut Lamhot, tingginya konsumsi energi di sektor industri menjadi alasan kuat perlunya percepatan transisi menuju energi alternatif yang lebih efisien dan berkelanjutan. “Jika sebagian konsumsi energi industri dialihkan dari BBM dan LPG ke CNG, efisiensi biaya produksi dapat meningkat dan daya saing industri nasional ikut terdongkrak,” jelasnya.
Keunggulan Ekonomi dan Operasional CNG
Dari sisi ekonomi, CNG dinilai lebih kompetitif dibandingkan energi berbasis minyak yang harganya fluktuatif mengikuti pasar global. Selain itu, CNG memiliki keunggulan operasional karena dapat didistribusikan ke wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa melalui proses kompresi bertekanan tinggi. Hal ini membuka akses energi bagi kawasan industri baru maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Negara dapat menekan impor dan subsidi energi, sementara sektor industri memperoleh energi yang lebih murah, stabil, dan ramah lingkungan,” ungkapnya.
Dampak Lingkungan dan Target Net Zero Emission
Lamhot menambahkan, penggunaan CNG juga menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan BBM dan LPG. Hal ini sejalan dengan target Indonesia mencapai net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Komisi VII DPR RI, katanya, akan mendorong kebijakan transisi energi dari berbasis minyak menuju alternatif seperti gas bumi, termasuk CNG.
“Ini merupakan langkah transisi yang rasional sebelum beralih sepenuhnya ke energi terbarukan,” tuturnya.
Kesiapan Infrastruktur dan Regulasi
Namun demikian, Lamhot mengingatkan pentingnya kesiapan infrastruktur dan regulasi agar implementasi CNG berjalan optimal. Hal ini mencakup pengembangan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG), fasilitas kompresi, dan distribusi logistik.
Ia juga menyoroti peran BUMN energi, seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk, yang telah mengoperasikan sejumlah SPBG dan melayani pelanggan industri. “Artinya, kita tidak mulai dari nol. Infrastruktur sudah ada dan perlu diperluas serta diintegrasikan dengan kebijakan yang tepat,” ujarnya.
Kolaborasi dan Diversifikasi Energi
Lamhot mendorong kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta untuk mempercepat adopsi CNG di berbagai sektor ekonomi. “Jika ekosistemnya dibangun dengan baik, CNG berpotensi menjadi tulang punggung energi transisi nasional dalam jangka menengah,” katanya.
Ia menegaskan diversifikasi energi menjadi keharusan di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi harga energi. “Momentum ini harus dimanfaatkan dengan eksekusi kebijakan yang konsisten,” pungkasnya.
Editor: Reza Pratama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Bayern Munchen Takluk 4-5 dari PSG di Leg Pertama, Kompany Yakin Balikkan Keadaan di Allianz Arena
Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat, Catat Rekor Polusi 13 Kali Lipat Ambang WHO
Semen Padang Hadapi Madura United Tanpa Sejumlah Pilar, Imran Nahumarury: Ini Partai Final
Kemenhub Inspeksi Mendadak Pool Taksi Xanh SM di Bekasi Buntut Kecelakaan Maut Stasiun Bekasi Timur