PARADAPOS.COM - Denpasar. Enam pasar tradisional di Kota Denpasar kini mulai mengoperasikan mesin pencacah sampah organik sebagai bagian dari upaya mengurangi volume sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA). Langkah ini digagas oleh Perumda Pasar Sewakadarma untuk mendorong pengelolaan sampah berbasis sumber, sekaligus menekan ketergantungan pada TPA. Enam pasar yang dimaksud meliputi Pasar Badung, Pasar Kumbasari, Pasar Kereneng, Pasar Sanglah, Pasar Cokroaminoto, dan Pasar Anyarsari. Inisiatif ini dinilai krusial mengingat pasar tradisional merupakan salah satu penyumbang terbesar sampah organik di perkotaan, terutama dari sisa sayur dan buah.
Di tengah hiruk-pikuk aktivitas jual beli pagi hari, pengelola pasar kini mulai menerapkan sistem baru. Bukan hanya sekadar membuang sampah, para pedagang diwajibkan untuk memilahnya sejak dari lapak masing-masing. Aturan ini, meski sederhana, membutuhkan kedisiplinan yang tidak kecil.
Fokus pada Sampah yang Masih Tercecer
Kepala Sub Kebersihan Pasar Cokroaminoto, I Wayan Pujana, menjelaskan bahwa pihaknya kini tengah fokus menangani sampah yang masih sering tercecer di area pasar. Namun, ia menegaskan bahwa aturan yang sudah ada sebelumnya tetap berlaku dan tidak diabaikan.
"Pedagang, terutama yang menggunakan kendaraan, tetap kami sarankan membawa pulang sampahnya untuk dikelola secara mandiri. Sementara yang meninggalkan sampah di pasar wajib sudah memilah," ujarnya.
Pernyataan itu menggambarkan bagaimana pendekatan persuasif masih menjadi andalan. Bagi pedagang yang memiliki kendaraan, mereka didorong untuk membawa pulang sampahnya. Sementara itu, bagi yang meninggalkan sampah di pasar, kewajiban memilah menjadi harga mati.
Dua Jalur Pengolahan Sampah Organik
Dalam praktiknya, sampah yang terkumpul di pasar tidak langsung dibuang begitu saja. Ada dua jalur pengolahan yang diterapkan. Pertama, sampah anorganik disalurkan melalui kerja sama dengan para pengepul. Kedua, sampah organik diolah dengan dua cara: dibawa ke fasilitas pengolahan seperti Teba Modern untuk sisa buah, atau diolah langsung di pasar menggunakan mesin pencacah.
Di Pasar Cokroaminoto, misalnya, kapasitas pengolahan saat ini mencapai sekitar enam keranjang per hari. Setiap keranjang memiliki berat sekitar 15 kilogram. Hasil cacahan dari mesin kemudian difermentasi menggunakan aktivator seperti EM4 hingga berubah menjadi kompos.
Dari proses tersebut, dihasilkan sekitar empat hingga enam kampil kompos per hari, dengan berat masing-masing sekitar 25 kilogram. Menariknya, kompos ini tidak dijual. Pihak pengelola membagikannya secara gratis kepada pedagang yang juga berprofesi sebagai petani sayur.
Saat ini, ada dua pedagang yang rutin memanfaatkan kompos tersebut. Masing-masing dari mereka mengambil sekitar 15 kampil per hari untuk digunakan kembali dalam aktivitas pertanian.
Selaras dengan Ekonomi Sirkular
Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Denpasar dalam mendorong pengelolaan sampah berbasis sumber dan penerapan ekonomi sirkular. Limbah organik yang tadinya hanya menjadi beban lingkungan, kini diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna. Konsep ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke TPA, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi para pedagang.
Tantangan yang Masih Menganga
Meski hasilnya mulai terlihat, sejumlah tantangan masih membayangi. Salah satu yang paling krusial adalah kedisiplinan pedagang dalam memilah sampah. Tidak semua pedagang memiliki kesadaran yang sama. Selain itu, kapasitas mesin pencacah yang ada masih terbatas dan belum mampu mengolah seluruh volume sampah harian pasar.
Dengan penguatan sistem pengawasan dan edukasi yang berkelanjutan, pengelolaan sampah mandiri di pasar tradisional ini diharapkan bisa menjadi model efektif. Bukan hanya untuk mengurangi beban TPA, tetapi juga untuk menjawab persoalan sampah perkotaan di Bali secara lebih menyeluruh.
Artikel Terkait
Mobil ASN Tabrak Kerumunan di Depan Sekolah di Pandeglang, Satu Tewas dan Delapan Luka
Pemerintah Perketat Tata Kelola Daycare Usai Kasus Kekerasan di Yogyakarta
BULOG Salurkan 388,3 Ribu Ton Beras SPHP hingga Akhir April 2026
BRIN Temukan Tiga Spesies Ikan Sapu-sapu di Indonesia, Ancaman Baru bagi Ekosistem Perairan