PARADAPOS.COM - Surabaya tengah menggelar transformasi besar-besaran dalam sistem perparkiran kota, beralih dari transaksi tunai konvensional menuju pembayaran digital berbasis kode QR dan perangkat elektronik. Hingga pertengahan 2026, Dinas Perhubungan Kota Surabaya mencatat sebanyak 926 petugas parkir digital telah dilibatkan, meningkat drastis dari fase awal implementasi. Mereka kini dilengkapi rompi khusus beridentitas QRIS yang memungkinkan pengendara membayar langsung melalui ponsel. Di balik perubahan teknis ini, Pemkot juga menindak tegas 163 juru parkir yang diberhentikan karena tidak memperpanjang kartu tanda anggota sejak akhir 2025, menandakan bahwa digitalisasi berjalan beriringan dengan penegakan disiplin tata kelola.
Wajah Baru di Ruas Jalan
Pemandangan di sudut-sudut jalan Surabaya perlahan berubah. Juru parkir tidak lagi hanya berdiri dengan peluit dan karcis manual. Kini, mereka mengenakan rompi khusus yang menjadi simpul penghubung antara ruang jalan dan sistem keuangan daerah. Papan informasi digital terpasang di titik-titik parkir, memuat identitas petugas resmi yang bisa diverifikasi pengguna jasa.
Integrasi pembayaran non tunai melalui QRIS, uang elektronik, hingga voucher parkir mulai diperluas secara sistematis. Surabaya menempatkan diri sebagai salah satu kota yang mendorong standardisasi layanan parkir berbasis digital. Namun, perubahan ini tidak berjalan mulus tanpa gesekan. Adaptasi terhadap teknologi di tingkat petugas maupun masyarakat berlangsung bertahap. Pada titik inilah digitalisasi parkir bukan sekadar proyek teknis, melainkan juga proses sosial yang mengubah kebiasaan lama yang telah mengakar puluhan tahun.
Menambal Kebocoran Retribusi
Di balik perubahan sistem, terdapat tujuan strategis yang lebih besar: memperkuat pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus menutup kebocoran retribusi parkir. Pemerintah kota mencatat pendapatan parkir pada 2025 berada di kisaran 25 miliar rupiah. Setelah penerapan sistem digital berjalan, terjadi kenaikan sekitar 10 persen dalam beberapa bulan implementasi awal.
Angka ini menjadi indikator awal bahwa sistem non tunai memberikan dampak terhadap transparansi pencatatan. Setiap transaksi tercatat secara otomatis, sehingga ruang manipulasi berkurang signifikan. Pemerintah kota bahkan menargetkan peningkatan pendapatan dapat mencapai 40 hingga 50 persen dalam jangka menengah melalui optimalisasi sistem.
Dalam konteks tata kelola perkotaan, sektor parkir sering menjadi titik rawan kebocoran pendapatan. Pola transaksi tunai yang tidak seluruhnya tercatat membuka ruang ketidakteraturan. Digitalisasi hadir untuk merapikan alur tersebut dengan menghadirkan sistem yang dapat dipantau secara harian.
Lebih dari itu, mekanisme distribusi kesejahteraan bagi juru parkir mulai diperhitungkan berdasarkan data sistem. Pendapatan yang tercatat dapat menjadi dasar intervensi kebijakan kesejahteraan, terutama bagi petugas yang berada pada kategori pendapatan rendah. Ini menandai pergeseran penting dari sistem informal menuju sistem berbasis data.
Meski demikian, efisiensi fiskal tidak dapat dilepaskan dari tantangan implementasi. Pada tahap awal, sebagian petugas parkir yang tidak tertib administrasi bahkan dikenai sanksi tipiring melalui operasi gabungan aparat. Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi juga membutuhkan penegakan aturan yang konsisten agar tidak berhenti sebagai inovasi simbolik.
Dinamika Sosial di Lapangan
Di balik angka dan sistem, terdapat dinamika sosial yang tidak sederhana. Juru parkir merupakan kelompok kerja yang telah lama hidup dalam pola kerja informal dengan ketergantungan pada transaksi tunai. Perubahan menuju sistem digital menuntut adaptasi cepat, baik dari sisi literasi teknologi maupun perubahan perilaku kerja.
Sebagian petugas telah beradaptasi dengan penggunaan rompi QRIS dan perangkat elektronik. Namun, sebagian lainnya masih menghadapi hambatan, mulai dari keterbatasan akses perangkat hingga kebiasaan lama yang sulit ditinggalkan. Di sinilah digitalisasi parkir memperlihatkan wajah ganda: sebagai kemajuan sekaligus tantangan sosial.
Dari sisi masyarakat, perubahan ini juga membutuhkan penyesuaian. Edukasi untuk menggunakan pembayaran non tunai terus digencarkan. Pemerintah kota bahkan mendorong warga untuk lebih kritis terhadap identitas petugas parkir, termasuk mencocokkan foto pada rambu digital dengan petugas di lapangan. Langkah ini bertujuan memperkuat transparansi sekaligus mencegah praktik parkir liar.
Namun, tantangan terbesar bukan semata pada teknologi, melainkan pada konsistensi ekosistem. Ketersediaan jaringan internet, literasi digital, hingga kesiapan infrastruktur pembayaran menjadi faktor penentu keberhasilan. Tanpa itu, sistem digital berisiko menciptakan kesenjangan baru antara wilayah yang siap dan yang belum siap.
Menuju Tata Kelola yang Lebih Luas
Pada sisi lain, transformasi ini membuka ruang perbaikan tata kelola perkotaan yang lebih luas. Parkir tidak lagi dipandang sebagai aktivitas pinggiran, tetapi bagian dari sistem ekonomi kota yang dapat diukur, diawasi, dan dikembangkan. Dengan catatan, pendekatan yang digunakan harus tetap inklusif terhadap para pelaku di lapangan.
Surabaya kini berada pada fase penting dalam perjalanan digitalisasi layanan publiknya. Perubahan sistem parkir menjadi salah satu indikator bagaimana kota ini mencoba mengintegrasikan teknologi dengan tata kelola ekonomi lokal. Namun, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh jumlah perangkat atau kenaikan pendapatan, melainkan oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara efisiensi, keadilan sosial, dan keberlanjutan sistem.
Di tengah rompi QRIS yang mulai menjadi pemandangan baru di jalanan kota, pertanyaan yang mengemuka bukan sekadar seberapa cepat sistem ini berjalan, tetapi seberapa jauh ia mampu membangun kepercayaan antara negara, petugas, dan warga kota. Surabaya sedang menulis bab baru perparkiran digitalnya, dan bab itu masih terus berkembang di setiap ruas jalan yang berubah.
Editor: Reza Pratama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Xiaomi 18 Muncul di Database GSMA, Bocoran Peluncuran Global Makin Terang
BMKG: Hujan Ringan Guyur Sebagian Besar Jakarta Senin Malam, Jaksel Intensitas Sedang
Kecelakaan Pesawat di Missouri Tewaskan 12 Penerjun Payung
Jerman Hajar Curacao 7-1 di Laga Perdana Piala Dunia 2026, Neuer Catat Sejarah