PARADAPOS.COM - Perajin tempe di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mulai mengurangi ukuran produk mereka sebagai respons terhadap kenaikan harga kedelai impor. Langkah ini diambil untuk menjaga marjin keuntungan di tengah meningkatnya biaya produksi, tanpa harus menaikkan harga jual yang bisa membuat pembeli beralih. Hadi Prayitno, salah satu perajin di Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, mengungkapkan bahwa strategi ini sudah diterapkan sejak harga bahan baku melonjak.
Produksi Menyusut, Berat Dikurangi
Hadi menjelaskan bahwa sebelum harga kedelai naik, kapasitas produksinya mencapai sekitar tiga kuintal per hari. Kini, angka itu turun drastis menjadi hanya 2 kuintal hingga 2,5 kuintal per hari. Penurunan volume produksi ini tidak hanya disebabkan oleh harga kedelai yang lebih mahal, tetapi juga kenaikan harga bahan pendukung seperti plastik kemasan.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Hadi memilih memperkecil berat tempe per bungkus. Jika sebelumnya setiap bungkus berbobot sekitar 380 gram, kini dikurangi menjadi sekitar 350 gram. Harga jual tetap dipertahankan, sehingga konsumen tidak merasakan lonjakan biaya secara langsung.
"Kalau harga dinaikkan pembeli bisa berkurang, jadi kami kurangi ukuran tempe," ujarnya saat ditemui di Ponorogo, Senin (4/5).
Ia menambahkan, "Untuk harga masih sama, hanya beratnya yang sedikit dikurangi."
Ketergantungan pada Kedelai Impor
Meski harga kedelai impor terus merangkak naik, Hadi mengaku tetap menggunakannya sebagai bahan baku utama. Alasannya, ketersediaan kedelai lokal sangat terbatas dan hasil produksi dari kedelai impor dinilai lebih banyak. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan efisiensi produksi jangka pendek.
Sementara itu, di Pasar Legi Ponorogo, pedagang kedelai bernama Rafli mencatat kenaikan harga yang signifikan. Menurutnya, harga kedelai impor naik dari Rp10 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram. Kenaikan serupa juga terjadi pada kedelai lokal, yang sebelumnya Rp9 ribu per kilogram kini melonjak ke kisaran Rp12 ribu.
"Kenaikan terjadi sejak konflik di Timur Tengah, harapannya harga bisa kembali stabil," tuturnya.
Rafli menjelaskan bahwa situasi geopolitik global menjadi pemicu utama fluktuasi harga komoditas ini. Para perajin dan pedagang kini hanya bisa berharap agar kondisi pasar segera pulih, sehingga usaha kecil seperti pembuatan tempe bisa kembali berjalan normal tanpa harus mengorbankan kualitas atau ukuran produk.
Di tengah tekanan biaya produksi, para perajin tempe di Ponorogo tetap berusaha bertahan dengan cara-cara sederhana namun efektif. Pengurangan ukuran ini mungkin tidak ideal, tetapi menjadi pilihan paling realistis agar usaha mereka tetap berjalan dan pelanggan tidak kehilangan akses terhadap tempe, salah satu sumber protein nabati utama masyarakat.
Artikel Terkait
5 Mei dalam Sejarah: Penemuan Galaksi, Petisi 50, dan Tragedi Kenya Airways
Penembakan di Dekat Gedung Putih, Pelaku Dilumpuhkan dan Seorang Anak Terluka
Dua Anak Harimau Sumatra Cacat Kaki Lahir di Konservasi Lembah Hijau Lampung, Bukti Keberhasilan Program Penangkaran
Anggota DPD Desak Polisi Tindak Tegas Pelaku Pengeroyokan Kepala SPPG di Bandung Barat