PARADAPOS.COM - Harga emas dunia terus tertekan di tengah eskalasi ketegangan geopolitik dan kekhawatiran inflasi yang kian memanas. Pada perdagangan Rabu, 6 Mei 2026, harga emas (XAU) jatuh ke level USD4.530 per troy ons, posisi terendahnya sejak 31 Maret lalu. Penurunan ini memperpanjang koreksi tajam emas yang kini telah merosot lebih dari 18 persen dari titik tertingginya tahun ini. Para analis memperingatkan bahwa indikator teknikal masih menunjukkan potensi pelemahan lebih lanjut.
Ketegangan di Timur Tengah Memicu Lonjakan Harga Energi
Tekanan terhadap emas tidak datang dari satu arah saja. Di kawasan Timur Tengah, situasi kembali memanas setelah Iran mengumumkan telah menembaki sebuah kapal milik Amerika Serikat yang dianggap penting. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai Proyek Kebebasan (Project Freedom), sebuah inisiatif untuk mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Tidak berhenti di situ, Iran juga melancarkan serangan pesawat tak berawak ke wilayah Uni Emirat Arab (UEA). Aksi ini langsung mendorong harga minyak mentah melonjak drastis. Brent tercatat menembus level USD114 per barel, level yang jarang terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Ancaman Perang dan Dampaknya terhadap Inflasi
Para pengamat khawatir bahwa risiko perang terbuka antara kedua pihak masih sangat mungkin terjadi. Jika konflik benar-benar meletus, harga energi diprediksi akan terus meroket dalam beberapa hari atau minggu ke depan.
Kenaikan harga energi ini jelas akan berdampak langsung pada harga konsumen di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Data terbaru sudah menunjukkan sinyal mengkhawatirkan: indeks harga konsumen utama naik dari 2,3 persen pada Februari menjadi 3,3 persen pada Maret. Angka ini menandakan tekanan inflasi yang kembali menguat.
Sikap Bank Sentral: Suku Bunga Tinggi Bertahan Lebih Lama?
Dengan inflasi yang kembali merangkak naik, bank-bank sentral global kini berada dalam posisi yang sulit. Federal Reserve (The Fed) dan bank sentral lainnya kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam beberapa bulan ke depan untuk meredam panasnya perekonomian.
Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BoE) telah memberikan sinyal akan menaikkan suku bunga pada Juni mendatang. Sementara itu, di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, The Fed juga dinilai akan mengambil langkah serupa jika inflasi terus meningkat. Kebijakan suku bunga tinggi ini menjadi kabar buruk bagi emas, karena aset logam mulia cenderung kesulitan bersaing dengan instrumen berbunga seperti obligasi.
Editor: Wahyu Pradana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pemkot Jakut Tertibkan PKL dan Parkir Liar di Danau Sunter Usai Dikeluhkan Warga
Polisi Gagalkan Keberangkatan 23 Calon Jemaah Haji Ilegal di Bandara Soekarno-Hatta
Ribuan Warga Geruduk Ponpes di Pati, Pimpinan Diduga Lecehkan Puluhan Santriwati Sejak 1995
Pemerintah Siapkan Insentif untuk 100 Ribu Mobil Listrik dan 100 Ribu Motor Listrik