PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke level psikologis di atas Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (5/5). Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup melemah 30 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp 17.424 per dolar AS. Pemerintah mengidentifikasi tekanan ini berasal dari kombinasi faktor global—yakni penguatan dolar AS—dan faktor musiman dalam negeri, seperti lonjakan kebutuhan valas untuk musim dividen dan penyelenggaraan ibadah haji.
Faktor Musiman dan Global Menekan Rupiah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara mengenai fenomena ini. Ia menegaskan bahwa pelemahan yang terjadi bukanlah persoalan yang hanya dialami Indonesia. Banyak negara lain juga merasakan dampak serupa akibat dolar AS yang sedang perkasa.
“Terkait rupiah, berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap dolar AS,” ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (5/5).
Dari sisi domestik, Airlangga membeberkan bahwa ada dua faktor musiman yang ikut mendorong meningkatnya permintaan terhadap dolar. Pertama, masuknya musim pembayaran dividen pada kuartal II. Pelaku usaha dan investor membutuhkan dolar AS dalam jumlah besar untuk mentransfer keuntungan mereka ke luar negeri.
Kedua, penyelenggaraan ibadah haji turut menambah beban. Kebutuhan valuta asing untuk biaya keberangkatan dan akomodasi jemaah haji Indonesia menciptakan tekanan tambahan di pasar valas.
“Biasanya pada saat ibadah haji, demand terhadap dolar meningkat,” jelasnya.
Strategi Pemerintah dan BI: Dari Currency Swap hingga Obligasi Valas
Menghadapi situasi ini, pemerintah tidak tinggal diam. Pergerakan rupiah terus dipantau secara ketat bersama Bank Indonesia (BI). Langkah pembandingan dengan negara-negara lain yang mengalami tekanan serupa juga terus dilakukan untuk mencari pola penanganan yang paling efektif.
Untuk meredam gejolak, sejumlah instrumen telah disiapkan. Salah satu andalannya adalah memperkuat kerja sama keuangan internasional melalui skema pertukaran mata uang atau currency swap. Perjanjian ini telah dijalin dengan beberapa negara mitra dagang utama, seperti Cina, Jepang, dan Korea Selatan.
Skema tersebut diharapkan dapat menjadi bantalan likuiditas. Dengan adanya akses langsung ke mata uang negara-negara tersebut, ketergantungan terhadap dolar AS bisa dikurangi secara bertahap.
Selain itu, pemerintah juga tengah mengkaji strategi pembiayaan yang lebih berani. Rencananya, penerbitan surat utang negara tidak lagi hanya mengandalkan dolar AS. Opsi penerbitan obligasi dalam mata uang alternatif, seperti yuan dan yen, mulai dipertimbangkan sebagai langkah diversifikasi untuk mengelola tekanan nilai tukar.
Editor: Paradapos.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Timnas U17 Indonesia Kalahkan China 1-0, Raih Tiga Poin Perdana di Piala Asia U17 2026
Tim SAR Temukan Pria 60 Tahun Tertimbun Longsor di Dramaga Bogor dalam Kondisi Meninggal
Pemerintah Wajibkan Devisa Ekspor SDA Ditempatkan di Himbara dan Dikonversi ke Rupiah Mulai Juni 2026
Polresta Bogor Bekuk Dua WN China Komplotan Pencuri Rumah Mewah Bermasker Messi, Kerugian Capai Rp1 Miliar