PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penghentian sementara Project Freedom, sebuah operasi militer yang baru diluncurkan untuk mengawal kapal dagang di Selat Hormuz. Keputusan ini diambil setelah Trump mengklaim bahwa pemerintahannya telah mencapai kesepakatan menyeluruh dengan perwakilan Iran. Pengumuman tersebut disampaikan melalui platform media sosial Truth Social pada Rabu (6/5/2026), hanya dua hari setelah operasi tersebut mulai diberlakukan dan memicu insiden saling tembak antara militer AS dan Iran.
Klaim Kesepakatan dengan Iran
Dalam pernyataannya, Trump mengaitkan penghentian operasi ini dengan perkembangan diplomatik yang dinilainya positif. Ia menyebutkan bahwa permintaan dari Pakistan dan negara-negara lain turut mempengaruhi keputusan tersebut.
“Berdasarkan permintaan Pakistan dan negara-negara lain, keberhasilan militer yang luar biasa yang telah kita raih selama kampanye melawan negara Iran dan, selain itu, fakta bahwa Kemajuan Besar telah dicapai menuju kesepakatan lengkap dan akhir dengan perwakilan Iran, kita telah sepakat bersama,” ujar Trump di Truth Social.
Ia kemudian menambahkan bahwa blokade terhadap Iran tetap akan dipertahankan sepenuhnya. “Sementara blokade akan tetap berlaku sepenuhnya, proyek kebebasan (Pergerakan Kapal melalui Selat Hormuz) akan dihentikan sementara untuk jangka waktu singkat untuk melihat apakah Kesepakatan dapat diselesaikan dan ditandatangani,” lanjutnya.
Operasi yang Baru Berjalan Sehari
Project Freedom sendiri baru diumumkan oleh Trump pada hari Minggu waktu setempat dan mulai berlaku pada Senin (4/5). Namun, dalam waktu singkat, situasi di lapangan langsung memanas. Militer AS dan Iran saling melancarkan tembakan dan tuduhan, yang memicu kekhawatiran akan runtuhnya gencatan senjata yang selama ini rapuh.
Meskipun demikian, para pejabat pemerintahan Trump bersikeras bahwa gencatan senjata masih berlaku. Mereka menghabiskan waktu untuk mempromosikan operasi baru ini sebagai solusi sementara untuk memandu kapal-kapal dagang yang melintasi selat strategis tersebut.
Pernyataan Pejabat Senior AS
Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dalam keterangannya kepada wartawan di Gedung Putih, menegaskan bahwa fokus utama AS saat ini adalah pada operasi Project Freedom. Ia menggambarkan inisiatif tersebut sebagai “langkah pertama” menuju pembukaan kembali sepenuhnya jalur air yang sangat vital bagi perdagangan global.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth memberikan penjelasan lebih teknis mengenai operasi tersebut. Ia menekankan bahwa Project Freedom merupakan misi yang terpisah dari operasi militer lainnya yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah.
“Project Freedom bersifat defensif, terfokus dalam cakupan dan bersifat sementara, dengan satu misi: Melindungi pelayaran komersial yang tidak bersalah dari agresi Iran,” ungkap Hegseth.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur air yang menjadi titik rawan konflik antara kedua negara. Penghentian sementara operasi ini pun menjadi sinyal bahwa meskipun ada kemajuan diplomatik, situasi keamanan di lapangan masih sangat dinamis dan penuh kehati-hatian.
Editor: Dian Lestari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Ribuan Warga Geruduk Ponpes di Pati, Pimpinan Diduga Lecehkan Puluhan Santriwati Sejak 1995
Pemerintah Siapkan Insentif untuk 100 Ribu Mobil Listrik dan 100 Ribu Motor Listrik
Harga Emas Anjlok ke Level Terendah Sejak Maret, Tertekan Ketegangan Geopolitik dan Kekhawatiran Inflasi
Wall Street Cetak Rekor Baru, S&P 500 dan Nasdaq Tembus ATH Ditopang Turunnya Harga Minyak