Pertumbuhan Ekonomi RI Triwulan I 2026 Tembus 5,61 Persen, Daya Beli Masyarakat Justru Tertekan

- Kamis, 07 Mei 2026 | 23:25 WIB
Pertumbuhan Ekonomi RI Triwulan I 2026 Tembus 5,61 Persen, Daya Beli Masyarakat Justru Tertekan
PARADAPOS.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen, melampaui target pemerintah sebesar 5,5 persen dan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 4,87 persen. Angka ini dirilis BPS dalam laporan terbaru yang menunjukkan konsumsi masyarakat masih menjadi motor utama, berkontribusi 54,36 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meski terlihat positif, sejumlah data lain justru mengindikasikan tekanan di sektor riil dan daya beli masyarakat.

Konsumsi dan Investasi Jadi Penopang Utama

BPS menyebut tingginya konsumsi rumah tangga sebagai faktor dominan di balik capaian tersebut. Selain itu, investasi yang digerakkan oleh proyek-proyek strategis seperti Danantara dan program Makan Bergizi Gratis yang berjalan sejak awal tahun ikut memutar roda ekonomi. Dua sektor ini dinilai berhasil mengimbangi tekanan dari krisis geopolitik di Timur Tengah yang mulai terasa sejak Februari lalu. “Investasi yang banyak dimotori proyek-proyek Danantara, juga program Makan Bergizi Gratis yang langsung bergerak sejak awal tahun, diklaim berhasil memutar roda perekonomian yang sebelumnya diprediksi tersendat akibat krisis geopolitik di Timur Tengah sejak Februari lalu,” demikian penjelasan dalam laporan tersebut.

Optimisme vs Realitas Lapangan

Capaian di atas kertas ini tentu patut diapresiasi. Angka 5,61 persen pada awal tahun bisa menjadi modal untuk menjaga momentum hingga akhir tahun. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi mendekati enam persen pada triwulan-triwulan berikutnya. Namun, optimisme itu harus dihadapkan pada realitas di lapangan. Di luar proyeksi makro, substansi pertumbuhan ekonomi masih menyisakan tanda tanya besar. Pertanyaan utamanya: sejauh mana angka ini berkorelasi dengan kesejahteraan masyarakat secara luas?

Pengangguran Turun Tipis, Manufaktur Justru Kontraksi

BPS mencatat penurunan jumlah pengangguran sebanyak 0,035 juta orang dalam periode Februari 2025 hingga Februari 2026. Total penduduk yang masih menganggur kini berkurang tipis menjadi 7,24 juta orang. Namun, data ini berhadapan langsung dengan temuan S&P Global yang mencatat kontraksi industri manufaktur Indonesia pada April 2026. Banyak perusahaan manufaktur mengurangi produksi dan jumlah karyawan. Artinya, Indonesia harus bersiap menghadapi potensi tambahan pengangguran baru dalam waktu dekat. Situasi ini menjadi kontras dengan narasi pertumbuhan yang sedang melesat.

Kelas Menengah Terus Tergerus

Ironisnya, konsumsi yang menjadi penopang utama pertumbuhan justru paling banyak disumbangkan oleh kelompok kelas menengah. Padahal, data BPS menunjukkan jumlah kelas menengah terus menyusut. Dalam kurun waktu 2019 hingga 2024, jumlah kelas pekerja turun dari 57,33 juta orang menjadi 47,85 juta orang. Kondisi itu diperparah oleh tekanan inflasi yang sudah berlangsung sejak 2024, yang menggerus pendapatan riil masyarakat. Dengan kata lain, meski angka pertumbuhan terlihat gemilang, daya beli sebagian besar warga justru melemah.

Rupiah Tertekan, Kewaspadaan Diperlukan

Belum lagi tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah sejak awal tahun. Dolar AS bahkan sempat menyentuh level Rp17.400 pada awal pekan ini. Pelemahan rupiah dipastikan akan terus membayangi pergerakan ekonomi ke depan, terutama terhadap sektor impor dan stabilitas harga.

Pertumbuhan Inklusif atau Sekadar Angka?

Pemerintah tak boleh berpuas diri. Capaian di triwulan pertama yang di atas kertas melampaui prediksi, secara nyata belum sepenuhnya inklusif. Pertumbuhan ini belum mampu mendorong peningkatan kualitas pekerjaan dan pendapatan secara luas. Tanpa pergeseran mesin pertumbuhan ke sektor produktif dan investasi bernilai tambah, pertumbuhan boleh jadi bakal kembali ke tren moderat dan kehilangan momentum dalam jangka menengah. Diperlukan penguatan kebijakan yang lebih tepat dan terarah. Hanya dengan kebijakan yang mampu menyeimbangkan antara menjaga kewaspadaan dan menggenjot akselerasi, pertumbuhan tinggi akan terjaga hingga akhir tahun. Tinggi di awal tapi loyo di akhir tentunya bukan harapan bangsa ini.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar