Badut Penjual Balon di Mojokerto Habisi Ibu Mertua, Akui Gelisah Pikirkan Anak Balita

- Jumat, 08 Mei 2026 | 18:25 WIB
Badut Penjual Balon di Mojokerto Habisi Ibu Mertua, Akui Gelisah Pikirkan Anak Balita
PARADAPOS.COM - Satuan (43), seorang badut penjual balon di Mojokerto, kini mendekam di sel Polres Mojokerto setelah tega menghabisi nyawa ibu mertuanya dan melukai istrinya, Sri Wahyuni (35). Peristiwa tragis ini dipicu oleh rasa cemburu dan tekanan ekonomi yang memuncak. Pelaku mengaku menyesali perbuatannya dan mengaku sulit tidur karena terus memikirkan nasib anak bungsunya yang masih balita.

Penyesalan di Balik Jeruji Besi

Dalam perbincangan dengan Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pranata, Satuan mengungkapkan isi hatinya. Ia tak bisa memungkiri perasaan bersalah yang terus menghantuinya. “Menyesal pasti menyesal. Yang bikin tidak bisa tidur karena kepikiran anak saya yang kecil terus,” ujarnya lirih. Ia menambahkan, malam-malamnya di dalam rutan terasa panjang. Bukan karena dinginnya lantai sel, melainkan karena pikirannya terus menerawang pada buah hatinya yang baru genap berusia 4 tahun pada November mendatang.

Tekanan Rumah Tangga dan Rasa Tak Percaya

Satuan mengaku tidak mudah mengasuh anak balitanya. Sang buah hati, katanya, kerap rewel dan tidak semua orang bisa menenangkannya. Di sisi lain, rasa curiga terhadap istrinya, Yuni, terus menggerogoti pikirannya. Menurut pengakuan Satuan, Yuni jarang mau mengurus anak mereka dengan dalih kerja lembur. Sang istri, lanjutnya, baru bersedia mengasuh jika semua kebutuhannya dipenuhi—mulai dari uang belanja, biaya sekolah anak, hingga perawatan pribadi. “Apalagi anak saya itu susah, tidak semua orang bisa momong. Kalau istri saya kasar sama anak,” tuturnya dengan nada getir.

Pernikahan yang Diwarnai Luka Lama

Satuan dan Yuni menikah pada 2020. Keduanya sama-sama berstatus duda dan janda. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua orang anak, namun salah satunya telah meninggal dunia. Kini, hanya sang bungsu yang menjadi pengikat sekaligus beban batin bagi Satuan. Ia merasa tidak dihargai sebagai menantu. Penghasilannya yang pas-pasan sebagai badut sambil berjualan balon dan mainan anak-anak kerap menjadi sumber ketegangan.

Detik-Detik Mencekam: Kepanikan yang Berujung Maut

Satuan mengaku tidak pernah berniat membunuh. Peristiwa nahas itu terjadi begitu saja saat ia sedang menganiaya istrinya. Tiba-tiba, ibu mertuanya datang dan melihat kejadian tersebut. “Spontan Pak, iya (panik). Karena mertua datang makanya saya langsung ambil pisau di dapur,” ungkapnya menggambarkan momen kepanikan yang berujung pada tragedi. Dari keterangan polisi, motif utama di balik aksi brutal ini adalah api cemburu yang terus membara di hati Satuan, diperparah dengan kondisi ekonomi yang serba pas-pasan.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar