12,22 Juta Lulusan Baru China Hadapi Krisis Pekerjaan, Banyak Sarjana Terpaksa Jadi Kurir

- Minggu, 10 Mei 2026 | 09:25 WIB
12,22 Juta Lulusan Baru China Hadapi Krisis Pekerjaan, Banyak Sarjana Terpaksa Jadi Kurir
PARADAPOS.COM - Generasi muda China tengah menghadapi situasi yang memprihatinkan di pasar tenaga kerja. Banyak lulusan sarjana yang kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang studi mereka. Hal ini terungkap dalam laporan CNA pada 2025 lalu yang menyoroti fenomena pengangguran di kalangan sarjana muda di China. Di bursa kerja Lishuiqiao, Beijing, para pencari kerja mengaku kesulitan menemukan posisi yang relevan dengan keahlian yang mereka pelajari di bangku kuliah.

Kisah di Balik Angka Pengangguran

Salah satu contohnya adalah Hu Die, seorang sarjana desain berusia 22 tahun dari Harbin University of Science and Technology. Ia mengaku pesimistis dengan prospek pekerjaan yang ada. “Saya melihat peluangnya cukup suram, pasar tenaga kerja sepi, akhirnya saya mengurungkan niat mengejar posisi tertentu,” katanya kepada CNA, dikutip Minggu (10/5/2026). Nasib serupa dialami Li Mengqi, sarjana teknik kimia dari Institut Teknologi Shanghai yang kini berusia 26 tahun. Ia sudah delapan bulan menganggur setelah lulus kuliah. Penyebabnya sama: tak kunjung menemukan pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya. Kondisi yang lebih ekstrem dirasakan Chen Yuyan, 26 tahun, lulusan Guangdong Food and Drug Vocational College pada 2022. Ia terpaksa bekerja sebagai petugas sortir paket di sebuah agen kurir. Meskipun telah mengantongi pendidikan vokasi, Chen mengaku sulit mendapatkan pekerjaan dengan standar gaji yang layak. “Banyak perusahaan mencari kandidat yang sudah berpengalaman-orang-orang yang bisa langsung bekerja. Sebagai lulusan baru, kami tidak punya cukup pengalaman. Mereka sering mengatakan tidak memiliki sumber daya untuk melatih karyawan baru, dan gaji yang ditawarkan sangat rendah,” ujarnya.

Krisis Pasar Tenaga Kerja di China

Pendiri Young China Group, Zak Dychtwald, menilai kisah Li, Hu, dan Chen adalah gambaran nyata krisis pasar kerja di China. “Salah satu masalah terbesar saat ini adalah ketimpangan antara kerja keras yang mereka lakukan saat kuliah dan pekerjaan yang menanti ketika lulus,” ucapnya. Asisten profesor Sosiologi di University of Michigan, Zhou Yun, mengamati bahwa meskipun lulusan dari sekolah elite dan jurusan automasi atau AI masih banyak dicari, para sarjana pada umumnya tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai. “Industri yang secara tradisional menjadi penyerap utama lulusan perguruan tinggi, seperti startup internet dan pendidikan, juga mengalami penyusutan dalam beberapa tahun terakhir. Jadi, ada alasan struktural yang mendalam di baliknya,” jelasnya. Memburuknya pasar kerja ini memunculkan istilah “anak dengan ekor busuk” di China. Istilah ini merujuk pada sarjana muda yang terpaksa bekerja dengan gaji rendah dan bergantung pada orang tua karena gagal mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan mereka. Frasa ini diadaptasi dari “gedung ekor busuk”, proyek perumahan mangkrak yang menjadi beban ekonomi China sejak 2021.

Ancam Kepastian Ekonomi

Eli Friedman, profesor Global Labor and Work di Cornell University, menyoroti pergeseran budaya yang memengaruhi sikap generasi muda terhadap pekerjaan. Berbeda dengan generasi orangtua mereka, sarjana muda saat ini lebih enggan menerima pekerjaan berkualitas rendah atau tidak stabil, bahkan di tengah tekanan ekonomi. Mereka juga enggan memulai usaha kecil. “Saat ini jika Anda berusia 22 atau 23 tahun dan baru lulus universitas di China, saya rasa Anda tidak akan mau berjualan barang-barang kecil di jalanan, lalu menabung dan menggunakannya untuk memulai bisnis kecil-kecilan. Secara budaya, saya rasa itu bukan lagi jalan yang dipilih kebanyakan orang,” ujar Friedman. Pergeseran ini melahirkan istilah “merunduk” atau "tangping" dalam bahasa Mandarin, ketika kaum muda memilih mundur dari persaingan kerja yang hiperkompetitif. Beberapa anak muda enggan “menerima pekerjaan apa pun yang tersedia” karena kecewa dengan model tradisional pengembangan karir, menurut Friedman. Zhou dari University of Michigan menyoroti dampak psikologis yang mendalam. “Ketidakmampuan mendapatkan pekerjaan tidak hanya menciptakan ketidakpastian ekonomi, tetapi juga menghilangkan martabat dan tujuan hidup. Bagi para lulusan, hal ini meruntuhkan narasi yang selama ini mereka yakini - bahwa pendidikan akan memberikan kehidupan yang lebih baik,” ujarnya. Tahun ini, jumlah lulusan universitas di China diperkirakan mencapai rekor 12,22 juta orang, naik dari 9 juta pada 2021. Pemerintah China mengakui bahwa solusi untuk mengatasi tantangan lapangan pekerjaan sangat mendesak. “Ketidakcocokan antara pasokan dan permintaan sumber daya manusia semakin mencolok,” kata Menteri Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial China, Wang Xiaoping, dalam konferensi pers pada 9 Maret lalu di sela-sela pertemuan tahunan Lianghui atau Dua Sesi. Laporan Kerja Pemerintah China 2025 merinci rencana untuk mengatasi pengangguran kaum muda, dengan menekankan perluasan peluang kerja, bantuan keuangan yang lebih terarah, dan dukungan baru bagi kewirausahaan. Langkah-langkah spesifik yang diusulkan meliputi pengembalian premi asuransi pengangguran, pemotongan pajak dan biaya, subsidi pekerjaan, serta dukungan langsung bagi industri padat karya. China telah menetapkan target untuk menciptakan lebih dari 12 juta pekerjaan baru di daerah perkotaan tahun ini. Namun, meskipun jumlah lulusan yang memasuki pasar kerja mencapai rekor tertinggi, China masih menghadapi kekurangan tenaga kerja terampil, terutama di sektor manufaktur. Menurut laporan China Daily pada Juli lalu, yang mengutip panduan pengembangan tenaga kerja manufaktur dari Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi, China diperkirakan akan kekurangan sekitar 30 juta pekerja terampil di 10 sektor manufaktur utama pada tahun 2025.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar