Kenaikan Harga Minyakita Dinilai Jadi Indikator Kegagalan Zulhas Kelola Pangan Nasional

- Minggu, 10 Mei 2026 | 09:50 WIB
Kenaikan Harga Minyakita Dinilai Jadi Indikator Kegagalan Zulhas Kelola Pangan Nasional

PARADAPOS.COM - Kenaikan harga Minyakita di atas harga eceran tertinggi (HET) dinilai sebagai indikator kegagalan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), dalam mengelola tata kelola pangan nasional. Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, menilai kondisi ini sudah melampaui batas wajar dan berpotensi memperburuk kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintah, khususnya di sektor distribusi kebutuhan pokok bersubsidi.

Menurut Efriza, temuan di lapangan menunjukkan bahwa harga Minyakita kerap melampaui HET yang ditetapkan sebesar Rp15.700 per liter. Ia menilai situasi ini bukan sekadar lonjakan harga biasa, melainkan cerminan dari lemahnya perencanaan dan pengendalian di tingkat hulu hingga hilir.

"Kondisi ini akan dinilai oleh publik kegagalan Zulhas sebagai Menko Pangan," ujar Efriza kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Minggu, 10 Mei 2026.

Kenaikan Harga Minyakita: Antara Spekulan dan Lemahnya Distribusi

Efriza, yang merupakan lulusan S2 Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS), menambahkan bahwa kenaikan harga minyak goreng bersubsidi ini bukan hanya persoalan ekonomi semata. Menurutnya, ini adalah bukti nyata bahwa pemerintah belum memiliki strategi matang dalam menghadapi tekanan lonjakan ekonomi yang kian menyulitkan rumah tangga.

"Sekaligus merembes kepada kegagalan kinerja Kementerian Perdagangan," sambungnya menegaskan.

Ia memandang, tekanan dalam tata kelola ekonomi pangan dan energi domestik saat ini memperlihatkan lemahnya pengendalian distribusi dan stabilisasi harga kebutuhan pokok. Ketika harga Minyakita yang seharusnya bersubsidi atau dikendalikan oleh pemerintah, tetapi di lapangan sudah tak sesuai dengan HET sebelum terjadi rencana kenaikan, maka ada persoalan serius di rantai pasok.

"Maka, ketika harga Minyakita yang seharusnya bersubsidi atau dikendalikan oleh pemerintah, tetapi di lapangan sudah tak sesuai dengan HET sebelum terjadi rencana kenaikan," tuturnya.

"Kondisi ini menunjukkan adanya persoalan pengawasan pasar, rantai distribusi, dan ketidakberdayaan menyelesaikan kemungkinan adanya permainan spekulan," demikian Zulhas menambahkan.

Di lapangan, temuan harga Minyakita yang melampaui HET bukan lagi sekadar isu pinggiran. Beberapa pedagang di pasar tradisional mengaku kesulitan mendapatkan pasokan dengan harga wajar, sementara konsumen mulai mengeluhkan beban belanja harian yang terus meningkat. Situasi ini, jika tidak segera diatasi, berpotensi memicu gejolak harga pangan lain yang lebih luas.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler