Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Tersungkur ke Level Terendah Sepanjang Sejarah

- Selasa, 12 Mei 2026 | 05:50 WIB
Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Tersungkur ke Level Terendah Sepanjang Sejarah

PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat anjlok ke level terendah sepanjang sejarah pada perdagangan pagi ini, Selasa (12/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 64 poin di posisi Rp 17.478 per dolar AS, dan terus tertekan hingga menyentuh Rp 17.502 per dolar AS pada pukul 09.14 WIB. Level Rp 17.500 yang sempat terlewati menjadi titik terlemah yang pernah tercatat dalam pergerakan mata uang Garuda. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan lonjakan harga minyak mentah dunia.

Suasana di lantai bursa pagi itu tampak tegang. Para pelaku pasar terus memantau pergerakan kurs yang bergerak dalam tren negatif. Tekanan jual terhadap rupiah sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir, dan pagi ini menjadi puncaknya. Kekhawatiran akan kondisi ekonomi global serta ketidakpastian politik di berbagai kawasan membuat investor semakin berhati-hati.

Faktor Geopolitik dan Harga Minyak Menjadi Pemicu Utama

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai gejolak di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ketidakpastian yang terus meningkat membuat investor global cenderung mencari aset aman atau safe haven seperti dolar AS.

“Ketidakpastian di Timur Tengah serta harga minyak mentah yang masih tinggi memberikan tekanan besar terhadap rupiah,” ujar Lukman.

Kenaikan harga minyak dunia dinilai menjadi ancaman serius bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Ketika harga energi meningkat, kebutuhan dolar AS untuk impor ikut bertambah sehingga menekan nilai tukar rupiah. Situasi ini menjadi lingkaran setan yang sulit dihindari dalam jangka pendek.

Dolar AS Makin Perkasa di Tengah Ekspektasi Suku Bunga

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga masih dipicu ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. Investor global masih melihat dolar AS sebagai instrumen investasi yang lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi global. Aliran modal pun terus mengalir ke pasar Amerika, meninggalkan mata uang negara berkembang seperti rupiah dalam posisi tertekan.

Kilas Balik ke Krisis 1998 dan Dampak ke Sektor Riil

Tekanan terhadap rupiah kali ini mengingatkan pasar pada krisis moneter 1998 ketika nilai tukar mata uang Indonesia sempat terpuruk akibat gelombang krisis Asia. Meski kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini dinilai jauh lebih kuat dibanding masa krisis, pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian serius karena dapat berdampak pada inflasi, biaya impor, hingga daya beli masyarakat.

Pelemahan kurs juga berpotensi memengaruhi berbagai sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor. Di sisi lain, kondisi ini dapat menguntungkan eksportir karena pendapatan berbasis dolar AS menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah. Namun, secara keseluruhan, efek negatifnya lebih terasa bagi perekonomian domestik.

Menanti Langkah Bank Indonesia

Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam volatilitas di pasar keuangan domestik. Intervensi di pasar valas maupun kebijakan moneter diperkirakan akan terus dilakukan guna menjaga kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia. Semua mata kini tertuju pada langkah konkret yang akan diambil otoritas moneter dalam waktu dekat.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags