Menlu: PBB Masih Investigasi Gugurnya Empat Prajurit TNI di Lebanon, Indonesia Desak Akuntabilitas

- Selasa, 12 Mei 2026 | 18:25 WIB
Menlu: PBB Masih Investigasi Gugurnya Empat Prajurit TNI di Lebanon, Indonesia Desak Akuntabilitas
PARADAPOS.COM - Menteri Luar Negeri Sugiono mengungkapkan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih melakukan investigasi terkait gugurnya empat prajurit TNI yang bertugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Pernyataan ini disampaikan di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, pada Selasa (12/5/2026). Sugiono menegaskan bahwa pihaknya menunggu hasil investigasi tersebut sambil mendesak adanya akuntabilitas dari PBB.

Investigasi PBB Masih Berlangsung

Sugiono menjelaskan bahwa proses investigasi yang dilakukan oleh PBB saat ini masih berjalan. “Mereka (PBB) masih menginvestigasi,” katanya di sela-sela kegiatan di Kantor Kementerian Luar Negeri. Ia menambahkan bahwa pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan penyelidikan tersebut. “Pasti, pasti (ada desakan ke PBB). Kita perlu akuntabilitasnya,” ujar Sugiono, menekankan pentingnya transparansi dalam kasus ini.

Kronologi Gugurnya Empat Prajurit TNI

Dalam sebulan terakhir, Indonesia kehilangan empat prajurit TNI saat bertugas bersama UNIFIL di Lebanon selatan. Prajurit terakhir yang gugur adalah Kopda Rico Pramudia (31), yang meninggal dunia setelah mengalami luka berat akibat ledakan artileri dari tank Israel di dekat kota Adchit Al Qusayr. Ia sempat menjalani perawatan intensif selama hampir sebulan di salah satu rumah sakit di Beirut sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir. Sebelum Kopda Rico, Praka Farizal Rhomadhon gugur akibat serangan artileri pada 29 Maret. Peristiwa yang sama juga menyebabkan Kopda Rico terluka parah. Suasana duka menyelimuti markas UNIFIL di Beirut saat penghormatan terakhir diberikan kepada Kopda Rico.

Desakan Akuntabilitas dari PBB

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, terus mendesak PBB untuk segera merampungkan investigasi dan memberikan laporan yang jelas. Sugiono menegaskan bahwa akuntabilitas menjadi prioritas utama dalam menangani insiden ini. “Kita perlu akuntabilitasnya,” ungkapnya, menekankan bahwa Indonesia tidak akan tinggal diam. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri RI sebelumnya telah menegaskan bahwa serangan Israel terhadap pasukan UNIFIL merupakan kejahatan perang. Pernyataan ini menambah tekanan diplomatik agar proses investigasi berjalan transparan dan adil.

Nuansa di Lapangan

Di tengah ketegangan di Lebanon selatan, para prajurit TNI yang tersisa terus menjalankan tugas perdamaian di bawah bendera UNIFIL. Suasana di markas UNIFIL terasa berat setelah kehilangan empat rekan dalam waktu singkat. Namun, semangat untuk menjaga perdamaian tetap menyala di tengah risiko yang mengintai setiap hari. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung misi perdamaian PBB sambil memastikan keamanan dan kesejahteraan prajurit TNI yang bertugas di lapangan.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar