PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan kritik tajam terhadap media-media di negaranya. Ia menuduh mereka memberitakan kegagalan militer AS dalam menekan Iran, sebuah tindakan yang menurutnya sama dengan pengkhianatan. Tuduhan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan politik domestik yang dihadapi Trump akibat keputusannya melancarkan perang, yang telah mengguncang pasar energi global dan memicu inflasi.
Trump Menyerang Media, Tuduh Beri Harapan Palsu pada Iran
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyampaikan kemarahannya tanpa menyebut nama media tertentu secara spesifik. "Mereka membantu dan bersekongkol dengan musuh! Yang mereka lakukan hanyalah memberikan harapan palsu kepada Iran padahal sebenarnya tidak ada harapan. Mereka adalah pengecut Amerika yang mendukung negara kita," tulisnya. Ia kemudian menambahkan, "Hanya Pecundang, Orang yang Tidak Berterima Kasih, dan Orang Bodoh yang mampu mengajukan tuntutan melawan Amerika!"
Sikap keras terhadap pers ini bukanlah hal baru. Sejak awal konflik, Trump dan para pejabat senior di pemerintahannya kerap mengecam liputan kritis media arus utama. Bahkan, menurut laporan CNN yang mengutip seorang pejabat anonim, Trump secara pribadi mendorong Departemen Kehakiman untuk mengeluarkan panggilan pengadilan kepada wartawan yang meliput perang, dalam upaya mengidentifikasi sumber-sumber mereka di lingkaran dalam pemerintah.
Deretan Laporan Soal Kerugian dan Stok Amunisi yang Menipis
Kemarahan Trump bukannya tanpa pemicu. Beberapa media AS memang gencar memberitakan kesulitan yang dihadapi militer Amerika. NBC News, misalnya, melaporkan tentang menipisnya persediaan amunisi akibat operasi militer yang berkelanjutan. CNN memberitakan kerusakan parah yang dialami pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah sebagai akibat dari serangan balasan Iran. Sementara itu, The Wall Street Journal menerbitkan analisis yang menyebutkan bahwa hanya sepertiga dari persediaan amunisi Iran yang berhasil dihancurkan oleh AS dan Israel.
Di tengah tekanan publik akibat lonjakan inflasi yang dikaitkan dengan perang, Trump berusaha meredakan kekhawatiran. Ia berjanji bahwa harga bahan bakar akan segera turun drastis begitu konflik berakhir. "Segera setelah perang ini berakhir, yang tidak akan berlangsung lama, Anda akan melihat harga minyak turun dan Anda akan melihat pasar saham… melonjak tinggi," katanya kepada wartawan. Ia menambahkan, "Ada ratusan kapal berisi minyak yang ingin keluar. Begitu mereka keluar, kita akan melihat semburan minyak, dan inflasi akan turun."
Sikap Tegas Terhadap Iran dan Respons Beijing
Ditanya mengenai kemungkinan peran Presiden China Xi Jinping dalam meredakan ketegangan, Trump dengan tegas menolak. Pertemuan bilateral di Beijing yang dijadwalkan akhir pekan ini sepertinya tidak akan membahas mediasi. "Tidak, menurut saya kita tidak memerlukan bantuan apa pun terkait Iran. Kita akan memenangkannya dengan cara apa pun. Kita akan memenangkannya dengan damai atau tidak," ujarnya di Gedung Putih. Ia kemudian menambahkan pernyataan yang menantang, "Angkatan laut mereka hilang, angkatan udara mereka hilang, setiap elemen mesin perang mereka hilang."
Suara dari Teheran: Bukan Perdamaian, Tapi Pemaksaan Kehendak
Di sisi lain, Iran memberikan respons yang tak kalah keras. Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk urusan hukum dan internasional, membela usulan negaranya untuk mengakhiri perang. Ia menyebutnya sebagai "persyaratan minimum dari setiap pengaturan yang serius dan berkelanjutan yang selaras dengan Piagam PBB."
Dalam sebuah pernyataan di platform X, Gharibabadi menuliskan kritiknya terhadap sikap AS. "Ketika pihak yang berperan langsung dalam perang, pengepungan, sanksi, dan ancaman melalui kekerasan menolak tanggapan Iran semata-mata karena itu bukan surat menyerah, maka menjadi jelas bahwa persoalan utamanya bukanlah perdamaian, melainkan pemaksaan kemauan politik melalui jalur ancaman dan tekanan," tulisnya.
Ia menegaskan bahwa Iran telah menyampaikan tuntutannya dengan jelas, termasuk diakhirinya perang secara permanen, kompensasi atas kerusakan, dan pencabutan sanksi ilegal. "Kita tidak bisa membicarakan gencatan senjata sambil melanjutkan pengepungan; membicarakan diplomasi sambil memperketat sanksi; atau membicarakan stabilitas regional sambil memberikan dukungan politik dan militer kepada rezim yang menjadi sumber agresi dan ketidakstabilan," tegas Gharibabadi. "Pendekatan seperti itu bukanlah negosiasi; ini merupakan kelanjutan dari kebijakan pemaksaan dengan menggunakan kata-kata diplomatis."
Peringatan dari Juru Bicara Kemlu: Perang Penentu Masa Depan
Pernyataan yang tak kalah tajam datang dari Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei. Melalui sebuah unggahan panjang di X, ia memperingatkan bahwa perang AS-Israel terhadap Iran adalah perang yang akan menentukan arti 'baik' dan 'jahat' di zaman kita dan masa depan. "Ini adalah perang antara pembohong profesional yang mengarang pembenaran atas kekejaman, dan masyarakat sombong yang membela tanah air dan martabat manusia hanya mengandalkan kekuatan dan tekad mereka sendiri," tulisnya.
Baqaei kemudian menutup pernyataannya dengan nada yang sangat filosofis dan penuh peringatan. "Ini adalah perang antara mereka yang keputusannya dibayangi oleh kompromi moral, dan mereka yang bertindak dengan hati nurani yang bersih. Ini adalah perjuangan yang menentukan bagi masa depan umat manusia. Ini akan menentukan apakah pencapaian peradaban yang telah dicapai dengan susah payah—hak asasi manusia, supremasi hukum, dan moralitas dasar—akan bertahan atau terhapuskan."
Artikel Terkait
Kejagung Kembalikan Rp 10,2 Triliun ke Kas Negara, Bukan Disimpan di Brankas
Pemuda Katolik Dorong Anak Muda Jadi Penggerak Ekonomi Daerah Lewat Pariwisata dan UMKM
Pemprov Banten Bentuk Pansel untuk Seleksi Terbuka Direksi Tiga BUMD
Jaksa Tuntut Nadiem Makarim 18 Tahun Penjara atas Korupsi Pengadaan Chromebook