Pakar UI: Keamanan Pasokan Energi Lebih Penting daripada Harga Murah di Tengah Krisis Geopolitik

- Rabu, 20 Mei 2026 | 07:00 WIB
Pakar UI: Keamanan Pasokan Energi Lebih Penting daripada Harga Murah di Tengah Krisis Geopolitik
PARADAPOS.COM - Eskalasi geopolitik di Timur Tengah sejak Februari 2026 telah memicu krisis energi global yang langsung berdampak pada rantai pasok dan harga energi dunia, termasuk Liquefied Natural Gas (LNG). Pakar energi Prof. Iwa Garniwa menegaskan bahwa dalam situasi krisis seperti saat ini, prioritas utama adalah keamanan pasokan energi (security of supply), bukan sekadar menjaga harga. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan tertulis pada Rabu, 20 Mei 2026, merespons lonjakan harga acuan LNG global yang mencapai angka fantastis—Japan Crude Cocktail (JCC) naik sekitar 97 persen dan Japan Korea Marker (JKM) melonjak sekitar 111 persen sepanjang Maret-April 2026.

Keamanan Pasokan Lebih Vital daripada Harga Murah

Di tengah ketidakpastian geopolitik, Iwa yang juga Guru Besar Universitas Indonesia dan Rektor IT PLN menekankan bahwa negara tanpa kontrak jangka panjang, infrastruktur regasifikasi yang fleksibel, dan cadangan strategis akan tertinggal dalam persaingan energi global. Menurutnya, energi adalah "oksigen" bagi perekonomian. "Di krisis geopolitik prioritas utama adalah security of supply, bukan harga. Jadi ya, mengamankan pasokan fisik jauh lebih krusial daripada sekadar menjaga harga. Kalau energinya tidak ada, harga murah pun tidak ada gunanya. Ini hal yang sangat penting untuk ke depannya," ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa tanpa listrik dan gas untuk industri, pabrik akan berhenti beroperasi, rantai pasok terputus, dan inflasi meningkat—skenario yang tidak diinginkan oleh negara mana pun. Dari sudut pandang akademis, Iwa menegaskan urutan prioritas yang benar adalah ketersediaan energi terlebih dahulu, baru kemudian pengaturan harga sesuai prinsip keadilan. "Availability first, then affordability management. Sebaiknya jangan di balik," tukasnya. Kondisi ini berlaku untuk seluruh jenis energi, baik BBM, LPG, maupun LNG. Di Indonesia, harga LPG industri tercatat meningkat sekitar 25 hingga 26 persen, sementara solar industri mengalami lonjakan jauh lebih tinggi, yakni sekitar 77 hingga 84 persen, mengikuti gejolak harga energi global.

Harga LNG Perlu Segera Disesuaikan

Iwa mengingatkan bahwa harga LNG domestik belum mengalami kenaikan karena masih terikat kontrak lama, namun tekanan harga akan segera terasa. Lonjakan harga acuan global seperti JCC dan JKM telah menciptakan tekanan besar terhadap rantai pasok LNG dunia. "LNG domestik belum naik karena masih pakai kontrak lama tapi tekanan itu akan datang," katanya. Ia menilai publik perlu memahami bahwa harga LNG domestik pada dasarnya tetap terhubung dengan mekanisme pasar global. Meskipun pasokan LNG berasal dari sumber domestik, formula harganya masih mengacu pada indikator internasional seperti JCC dan JKM yang menjadi referensi utama perdagangan LNG Asia. "Untuk mengamankan LNG domestik, kita harus ubah mindset dari 'jual semurah mungkin' ke 'jamin pasokan dulu, harga dikelola'. Jangan denial dengan menahan harga terlalu lama," saran Iwa.

Prioritaskan Penyelamatan Pasokan Domestik

Dalam kondisi pasar LNG internasional yang semakin ketat, Iwa menilai pemerintah perlu memprioritaskan penyelamatan pasokan domestik. Selain penyesuaian harga, pengalihan sebagian pasokan LNG ekspor untuk kebutuhan dalam negeri merupakan langkah yang patut dipertimbangkan. Menurutnya, langkah tersebut krusial karena sektor industri merupakan salah satu penggerak utama ekonomi nasional dan pencipta lapangan kerja. Tanpa kepastian energi, industri berisiko menghadapi tekanan produksi yang pada akhirnya berdampak terhadap aktivitas ekonomi secara lebih luas. "Tanpa gas, transisi energi tidak mungkin jalan dan kehilangan gas sama saja kehilangan daya saing industri," papar Iwa. Setelah penyesuaian harga, LNG diyakini masih jauh lebih kompetitif dibandingkan energi fosil lainnya. Berdasarkan kalkulasi BPH Migas dan ESDM, 1 MMBTU gas setara dengan 7 liter solar. Jika LNG setelah penyesuaian harga menjadi setara Rp150 ribu per MMBTU, maka nilainya setara Rp21.400 per liter solar. "Sementara solar industri (non subsidi) sekarang harganya sudah jauh di atas dan belum termasuk biaya perawatan mesin yang lebih tinggi. Sedangkan gas punya efisiensi pembakaran 90-95 persen vs solar 80-85 persen, biaya perawatan mesin lebih rendah, emisi CO2 40 persen lebih rendah dari batu bara, 25 persen lebih rendah dari solar," ulas Iwa. Setelah penyesuaian, harga LNG domestik untuk industri diperkirakan berada pada kisaran USD21 hingga USD25 per MMBTU. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan LPG industri sekitar USD28,3 per MMBTU maupun solar industri yang mencapai sekitar USD43 per MMBTU.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar