PARADAPOS.COM - Menjelang Iduladha 2026, umat Muslim di Maroko dan Pakistan menghadapi dilema antara semangat spiritual ibadah kurban dan tekanan ekonomi akibat lonjakan harga hewan ternak yang signifikan. Di Maroko, populasi ternak nasional melonjak drastis dari 23 juta ekor pada 2025 menjadi 41 juta ekor tahun ini berkat perbaikan curah hujan, namun harga domba ras Sardi tetap tinggi, berkisar antara 400 hingga 750 Euro. Sementara itu, di Karachi, Pakistan, pasar ternak seluas 1.000 hektare dengan lebih dari 300.000 ekor hewan mencatat kesenjangan lebar antara anggaran warga yang rata-rata 300.000 rupee dan harga pasar yang mencapai 400.000 hingga 425.000 rupee per ekor. Meski demikian, sekitar 72% hingga 80% hewan telah terjual, menunjukkan kuatnya tradisi berbagi di tengah keterbatasan.
Maroko: Kebangkitan Pasar Ternak di Tengah Lonjakan Populasi
Suasana di pasar hewan Ain Aouda, yang terletak di pinggiran kota barat Maroko, kembali menggeliat setelah tahun lalu sempat terhenti akibat bencana kemarau panjang selama tujuh musim berturut-turut. Membaiknya curah hujan telah mendorong ledakan populasi ternak nasional secara drastis, dari 23 juta ekor pada 2025 menjadi 41 juta ekor tahun ini. Peningkatan populasi ini memberikan angin segar bagi pemerintah Maroko karena tidak perlu lagi melakukan impor hewan dari luar negeri.
Namun, melimpahnya stok tidak serta-merta membuat harga terjangkau. Masyarakat tetap harus merogoh kocek dalam-dalam untuk domba ras Sardi yang paling diminati, dibanderol antara 400 hingga 750 Euro. Sementara domba ras Birki berkisar antara 350 hingga 600 Euro. Ekonom setempat menengarai bahwa tingginya harga ini tidak hanya dipicu oleh biaya pakan, tetapi juga adanya distorsi harga akibat ulah para spekulan lokal.
Pakistan: Kesenjangan Anggaran dan Harga di Pasar Raksasa Karachi
Situasi serupa dilaporkan terjadi di Karachi, Pakistan. Di pasar ternak raksasa seluas 1.000 hektare yang menampung lebih dari 300.000 ekor hewan, keluhan mengenai mahalnya harga kurban terus bergema. Kesenjangan antara anggaran warga dan harga pasar terlihat sangat lebar.
Banyak warga yang memiliki anggaran sekitar 300.000 rupee mengaku kesulitan menjangkau harga hewan yang kini dipatok rata-rata di angka 400.000 hingga 425.000 rupee per ekor. Di sisi lain, para penjual berdalih bahwa kenaikan harga tidak dapat dihindari. Pembengkakan biaya operasional yang mencapai 45.000 hingga 50.000 rupee per ekor menjadi alasan utama para pedagang untuk mempertahankan harga tinggi agar tidak merugi.
Angka Penjualan yang Mengejutkan
Menariknya, himpitan ekonomi tidak menyurutkan niat masyarakat untuk beribadah. Sekitar 72% hingga 80% hewan di pasar tersebut dilaporkan telah terjual. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun harga melambung, permintaan tetap tinggi, mencerminkan prioritas spiritual yang kuat di atas tantangan finansial.
Refleksi Tradisi dan Spiritualitas di Tengah Tekanan Ekonomi
Kondisi di Maroko dan Pakistan ini merefleksikan kuatnya nilai tradisi dan spiritualisme masyarakat Muslim. Walaupun harus berhadapan dengan distorsi harga dan kenaikan biaya hidup, semangat untuk berbagi melalui ibadah kurban tetap menjadi prioritas utama. Di lapangan, para pembeli terlihat bernegosiasi dengan para pedagang, sementara aroma rempah-rempah dan hiruk-pikuk tawar-menawar memenuhi udara di pasar-pasar tradisional. Fenomena ini menjadi cermin bagaimana iman dan ekonomi berjalan beriringan, kadang saling berbenturan, namun tak pernah benar-benar terpisah.
Editor: Yuli Astuti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kebiasaan Isi Bensin Saat Tangki Hampir Kosong Berisiko Rusak Pompa hingga Picu Karat
Empat ABK Negatif Hantavirus, Dinkes Jakarta Barat Perketat Pengawasan
Presiden Prabowo Tiba di Paris untuk Kunjungan Kenegaraan, Dijadwalkan Salat Idul Adha Bersama WNI
WN Brunei Tewas Dianiaya di Blok M, Sesama WN Brunei Jadi Tersangka