PARADAPOS.COM - Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street ditutup menguat tipis pada perdagangan Jumat waktu setempat, menutup pekan yang penuh gejolak dengan sentimen positif. Momentum ini dipicu oleh debut gemilang produsen semikonduktor asal Korea Selatan, SK Hynix, di Nasdaq yang membangkitkan optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, pelemahan moderat harga minyak mentah berhasil meredakan kekhawatiran pasar di tengah sikap hawkish Federal Reserve. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,29 persen menjadi 52.637,01, S&P 500 menguat 0,42 persen ke level 7.575,39, dan Nasdaq Composite bertambah 0,29 persen menjadi 26.281,61.
Debut SK Hynix Dorong Optimisme Teknologi
Perhatian pelaku pasar sepanjang pekan ini benar-benar tertuju pada debut SK Hynix di bursa teknologi Amerika. Perusahaan yang dikenal sebagai pemasok utama memori bandwidth tinggi untuk Nvidia itu resmi mulai diperdagangkan dengan kode saham SKHYV. Aksi korporasi ini terbilang spektakuler karena berhasil menghimpun dana segar sebesar USD26,5 miliar melalui penjualan saham.
Saham SK Hynix dibuka pada harga USD170 per lembar dan ditutup di level USD168,01. Angka ini mencerminkan kenaikan 12,76 persen jika dibandingkan dengan harga penawaran awal yang sebesar USD149 per saham. Debut yang mengesankan ini langsung memperbaiki sentimen di sektor teknologi secara luas, membantu sejumlah produsen memori untuk memangkas kerugian yang sempat terjadi di awal perdagangan.
SanDisk, misalnya, berhasil menguat 3,1 persen, sementara Western Digital naik 0,78 persen. Namun, tidak semua pemain di sektor ini bernasib sama. Micron Technology masih berada dalam tekanan dan ditutup melemah 1,24 persen.
Fed Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas Harga
Di luar hiruk-pikuk pasar saham, perkembangan ekonomi makro juga menjadi perhatian serius investor. Federal Reserve baru saja menyampaikan Laporan Kebijakan Moneter semesterannya kepada Kongres. Dalam laporan tersebut, bank sentral AS menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga stabilitas harga.
The Fed menilai bahwa inflasi masih berada pada level yang tinggi, namun ada secercah harapan. Tekanan harga di sektor jasa diperkirakan hanya bersifat sementara. Lebih lanjut, Federal Reserve menyampaikan bahwa kenaikan harga saat ini terutama dipicu oleh gangguan dari sisi penawaran. Beberapa faktor yang disebutkan meliputi gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah, tarif terhadap barang konsumsi, serta lonjakan permintaan global terhadap semikonduktor canggih yang dibutuhkan untuk pembangunan pusat data perusahaan.
Sementara itu, dari sisi emiten, saham Delta Air Lines justru turun 1,81 persen. Padahal, perusahaan melaporkan kinerja keuangan kuartal II yang melampaui ekspektasi Wall Street dan kembali memberikan panduan kinerja untuk sepanjang tahun fiskal.
CEO Delta Air Lines Ed Bastian buka suara mengenai kondisi industri penerbangan saat ini. Menurutnya, tarif penerbangan diperkirakan tetap tinggi meskipun harga bahan bakar jet mengalami penurunan.
"Sebagian besar maskapai penerbangan AS sudah kesulitan untuk mendapatkan kembali biaya modal mereka di tengah kondisi di mana harga tiket pesawat industri secara signifikan tertinggal dari inflasi, biaya telah meningkat, dan preferensi konsumen telah berubah," ujar Ed Bastian.
Editor: Yoga Santoso
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
BNPT Gelar Kemah Bela Negara di Garut, Antisipasi Rekrutmen Radikal Lewat Media Sosial dan Game Online
Harga Emas Antam Naik Tipis, Buyback Melonjak Rp10 Ribu per Gram
Pengemobil Calya Rusak Spion dan Wiper Mini Cooper di Sunter gegara Emosi, Jadi Tersangka
KPK Irak Kembali Sita Rp191 Miliar dari Rumah Eks Wamen Perminyakan, Uang Disembunyikan di Gorong-gorong