PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada pembukaan perdagangan pagi ini, Kamis 28 Mei 2026, pasca libur Iduladha. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.855 per dolar AS pada pukul 09.41 WIB, melemah 54 poin atau 0,30 persen dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.801. Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat pelemahan yang lebih tipis, yakni sembilan poin atau 0,05 persen ke level Rp17.785 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik baru antara Amerika Serikat dan Iran.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai bahwa tekanan terhadap rupiah kali ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika geopolitik yang kembali memanas. Menurutnya, serangan baru yang dilancarkan militer AS terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di Iran selatan menjadi pemicu utama. Militer AS mengklaim serangan tersebut bersifat defensif dan menegaskan bahwa gencatan senjata dengan Iran tetap berlaku.
"Setiap aksi militer baru berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara AS dan Iran, terutama pasca Teheran berulang kali memperingatkan AS untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut," jelas Ibrahim.
Sebelumnya, kedua negara telah mencapai kesepakatan kerangka kerja untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan adanya kemajuan dalam negosiasi tersebut. Ia bahkan mengklaim bahwa Iran akan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya. Namun, klaim ini langsung dibantah oleh pihak Iran yang menegaskan tidak ada rencana untuk melepaskan uranium mereka.
Dampak Berantai ke Industri dan Risiko PHK
Pelemahan rupiah yang berkepanjangan, menurut Ibrahim, membawa konsekuensi langsung terhadap sektor industri. Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor menjadi yang paling terpukul. Biaya produksi melonjak, dan dalam situasi seperti ini, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) meningkat tajam.
Data dari Kementerian Ketenagakerjaan mencatat bahwa sepanjang Januari hingga April 2026, jumlah pekerja yang terdampak PHK mencapai 15.425 orang. Lonjakan ini terjadi hanya dalam satu bulan terakhir. Sejumlah perusahaan mulai melakukan efisiensi, bahkan tak sedikit yang menghentikan operasionalnya sama sekali.
"Tekanan terhadap industri bukan hanya dipicu pelemahan rupiah, namun konflik geopolitik global juga mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri non subsidi yang turut menambah biaya produksi perusahaan," ungkap Ibrahim.
Di lapangan, situasi ini mulai terasa. Beberapa pabrik di kawasan industri Jawa Barat dan Banten, misalnya, mulai mengurangi jam kerja karyawan. Para pelaku usaha mengaku kesulitan menahan laju kenaikan biaya operasional di tengah daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Kombinasi antara pelemahan mata uang dan ketidakpastian global membuat prospek bisnis ke depan semakin suram.
Artikel Terkait
Capaian Cek Kesehatan Gratis di Kalbar Baru 2,6 Persen, Pemprov Mulai Sosialisasi ke ASN
KBBI Tegaskan Penulisan Baku Zulhijah, Bukan Dzulhijah
MK Tegaskan Sanksi Gugurkan Partai yang Abaikan Kuota 30 Persen Caleg Perempuan
Diaspora Prancis Sebut Prabowo Pejuang Modern Beretos Kerja Tinggi, Optimis Indonesia Emas 2045 Tercapai