Fadli Zon Tekankan Edukasi Pengunjung demi Lindungi Lukisan Cadas Tertua di Dunia dari Sentuhan Tangan

- Sabtu, 11 Juli 2026 | 15:50 WIB
Fadli Zon Tekankan Edukasi Pengunjung demi Lindungi Lukisan Cadas Tertua di Dunia dari Sentuhan Tangan

PARADAPOS.COM - Menteri Kebudayaan (Menbud) RI Fadli Zon menekankan pentingnya edukasi bagi masyarakat dan wisatawan untuk menjaga kelestarian situs lukisan cadas tertua di dunia yang berada di Liang Metanduno, kawasan Situs Goa Liangkabori, Kecamatan Loghia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Dalam kunjungannya pada Sabtu (11/7/2026), ia menyoroti kerentanan pigmen lukisan purba berusia sekitar 67.800 tahun terhadap kerusakan akibat sentuhan tangan manusia. Fadli Zon menegaskan bahwa pendekatan perlindungan harus dimulai dari kesadaran pengunjung, bukan sekadar larangan.

Sentuhan Tangan, Ancaman Terbesar bagi Lukisan Purba

Di tengah terik matahari Muna, Fadli Zon berdiri di mulut gua, menatap dinding batu kapur yang menyimpan jejak peradaban purba. Ia menjelaskan bahwa kontak fisik langsung—baik dari residu minyak, keringat, maupun kotoran di tangan—dapat mempercepat degradasi struktur lukisan cadas. “Karena ini adalah kawasan yang boleh dibilang masih terbuka, memang perlu ada satu perlindungan dan juga edukasi. Terutama bagi para pengunjung, tidak boleh sama sekali memegang dinding gua, apalagi melakukan vandalisme. Coret-coret itu sudah jelas pelanggaran hukum,” kata Fadli Zon usai meninjau langsung lukisan cadas tersebut.

Ia menambahkan, edukasi mengenai larangan menyentuh dinding gua sangat krusial. “Memegang itu harus ada edukasi karena bisa merusak lukisannya. Jadi hanya dilihat saja, dan itu pun kalau bisa jaraknya jangan terlalu dekat,” ujarnya.

Sinergi Pemerintah untuk Regulasi Kunjungan

Guna memperkuat upaya perlindungan, Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Muna hingga pemerintah desa setempat. Fadli Zon mengungkapkan bahwa langkah konkret akan segera diformulasikan, termasuk penyediaan fasilitas edukasi sekunder agar beban kunjungan fisik ke dalam gua dapat diminimalisasi secara bertahap. “Nanti bersama dengan Pak Bupati (Muna) dan Pak Kepala Desa (Loghia), kita formulasikan apa saja yang diperlukan, misalnya untuk pengamanan dan peraturan aturan kunjungannya,” sebutnya.

Ia juga menambahkan bahwa selain regulasi kunjungan dan penegakan aturan jarak aman, Kementerian Kebudayaan berencana membangun ruang edukasi khusus serta menempatkan personel ahli di lapangan. “Kita juga perlu membuat satu pusat informasi, tadi saya sudah bicara untuk membuat satu museum kecil di sini. Selain itu, kita siapkan juru pelihara dari Kementerian Kebudayaan yang bisa membantu memelihara gua-gua yang ada di sekitar Kepulauan Muna,” tambahnya.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan warisan prasejarah yang tak ternilai harganya dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang tanpa risiko kerusakan yang disebabkan oleh ketidaktahuan.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar