PARADAPOS.COM - Washington, 5 Juni 2026. Pemerintah Amerika Serikat, melalui Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) di bawah Kementerian Keuangan, secara resmi menjatuhkan sanksi terhadap Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, keluarganya, serta sejumlah tokoh dan institusi di lingkaran dalam pemerintahannya. Langkah ini merupakan bagian dari tekanan diplomatik dan ekonomi yang terus meningkat, di mana Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuding Havana menjalankan kampanye ideologis yang sistematis terhadap Amerika Serikat. Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Kuba belum memberikan pernyataan resmi.
Individu dan Institusi yang Terkena Sanksi
Keputusan ini memasukkan nama Diaz-Canel, sang istri, Lis Cuesta Peraza, dan putra tirinya, Manuel Anido Cuesta, ke dalam daftar Specially Designated Nationals (SDN). Daftar hitam ini membekukan aset mereka di yurisdiksi AS dan melarang warga negara Amerika bertransaksi dengan mereka.
Tak berhenti di situ, sanksi juga menjerat Alejandro Castro Espin—putra dari mantan pemimpin Kuba Raul Castro—beserta anaknya, Raul Alejandro Castro Calis. Langkah Washington ini juga menyasar institusi-institusi kunci di Kuba, termasuk Kementerian Angkatan Bersenjata Revolusioner (MINFAR) dan militer Kuba.
Komite Pertahanan Revolusi (CDR), sebuah jaringan pemantauan masyarakat yang dibentuk pada 1960 untuk melaporkan aktivitas kontra-revolusioner, juga masuk dalam daftar sanksi. Di sektor ekonomi, perusahaan pertambangan milik negara, Minera La Victoria SA, turut terkena imbas. Begitu pula dengan Institut Persahabatan Rakyat Kuba (ICAP) dan unit perjalanan komersialnya, Amistur Cuba SA.
Pernyataan Gedung Putih: Iran Dulu, Baru Kuba
Di Gedung Putih, Presiden Donald Trump memberikan konteks mengenai waktu pengumuman sanksi ini. Ia mengisyaratkan bahwa pemerintahannya memiliki prioritas lain yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
“Situasinya sempat runtuh, dan kami akan menanganinya segera setelah kami selesai. Kami akan mengurus Republik Islam Iran, dan setelah itu, dalam perjalanan pulang, kami akan singgah sebentar,” kata Trump kepada wartawan.
Ketika seorang jurnalis bertanya apakah sanksi ini bertujuan untuk mempercepat keruntuhan Kuba, Trump menjawab tidak. Menurutnya, tujuan utama Washington adalah melihat Kuba dikelola dengan baik sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya sendiri.
Tudingan Rubio Soal Mobilisasi Revolusioner
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan pernyataan yang lebih tajam. Ia menuduh Kuba menjalankan kampanye politik, ideologis, dan institusional yang berkelanjutan terhadap Amerika Serikat.
“Entitas dan individu yang ditetapkan hari ini mengarahkan atau mendanai rezim serta upayanya untuk memobilisasi gerakan revolusioner radikalnya di Amerika Serikat dan di seluruh dunia,” ujar Rubio dalam pernyataan resminya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa sanksi tersebut tidak hanya bersifat simbolis, melainkan ditujukan untuk memutus jaringan pendanaan yang menurut AS mendukung aktivitas revolusioner Kuba di luar negeri.
Editor: Yoga Santoso
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Rupiah Tembus Rp18.039, Rocky Gerung Sorot Chatib Basri sebagai Kandidat Ideal Gantikan Sri Mulyani
Menag: Pesantren Harus Cetak Pemimpin Kharismatik Sekaligus Manajer Profesional
Africa CDC Sebut Sepuluh Negara Afrika Berisiko Tinggi Terpapar Ebola Akibat Mobilitas Penduduk
Pedagang Garam Keliling di Pasuruan Nyaris Kehilangan Kaki Akibat Abaikan Gula Darah 300