BMKG Peringatkan Potensi Kekeringan Akibat El Nino, Petani Tadah Hujan Paling Terancam

- Jumat, 05 Juni 2026 | 23:25 WIB
BMKG Peringatkan Potensi Kekeringan Akibat El Nino, Petani Tadah Hujan Paling Terancam
PARADAPOS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kekeringan signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia pada Agustus hingga Oktober 2026. Peringatan ini muncul di tengah prediksi sejumlah ilmuwan mengenai kemunculan El Nino kuat—bahkan disebut sebagai El Nino Godzilla—dalam beberapa bulan ke depan. Indeks El Nino tercatat telah melampaui ambang normal, dari 0,52 pada April menjadi 1,00 pada Mei 2026, menandakan kondisi yang tidak bisa dianggap enteng.

Ancaman di Balik Angka

Meskipun Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) di bawah PBB belum sepenuhnya mendukung proyeksi ekstrem tersebut, mereka telah meminta seluruh negara, termasuk Indonesia, untuk bersiap menghadapi kedatangan El Nino sebelum September atau November mendatang. Kesiapsiagaan ekstra diperlukan karena data menunjukkan bahwa baru sekitar 60 persen sawah di Indonesia yang memiliki akses irigasi. Sisanya masih bergantung pada tadah hujan. Ketergantungan pada curah hujan ini membuat sektor pertanian kita sangat rentan. Ketahanan pangan nasional, dengan kata lain, masih berada dalam tarikan napas cuaca. Jika kemarau panjang terjadi, risiko gagal panen pun membayangi.

Stok Beras Melimpah, Tapi Belum Menjamin

Kementerian Pertanian, di sisi lain, tampak percaya diri. Sejak April lalu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman telah menyatakan bahwa Indonesia siap menghadapi dampak El Nino. “Indonesia sudah punya pengalaman menghadapi El Nino 2015, 2023, dan 2024,” ujarnya kala itu, seraya menambahkan bahwa stok beras nasional mencapai 5,3 juta ton per 13 Mei 2026. Ia bahkan mengklaim cadangan beras sebanyak itu merupakan yang terbesar sepanjang sejarah Republik Indonesia. Angka tersebut memang prestasi yang patut diapresiasi. Namun, stok beras yang melimpah di gudang pemerintah belum otomatis menjadi jaminan bahwa kesejahteraan petani ikut terangkat, setidaknya hingga pertengahan atau akhir tahun ini.

Pekerjaan Rumah di Lumbung Padi

Kemarau panjang berpotensi besar menyebabkan kegagalan panen. Jika itu terjadi, meski stok beras di gudang-gudang pemerintah aman, situasinya akan berbeda dengan rumah tangga puluhan juta petani yang menggantungkan hidup pada hasil panen. Di sinilah letak pekerjaan rumah yang tidak kalah besar. Keberhasilan mengamankan stok beras semestinya diikuti dengan upaya menjaga keberlangsungan panen. Pemerintah harus memastikan berbagai sarana dan prasarana pengairan pertanian terus diperbaiki. Pasokan energi untuk pompa air dan segala sarana pertanian lainnya juga harus terjamin. Tugas ini jelas bukan hanya milik Kementerian Pertanian. Ini adalah pekerjaan lintas sektor yang melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian ESDM, hingga pemerintah daerah. Semua pihak harus sigap memastikan produktivitas pertanian dan kehidupan petani tetap terjaga di tengah sergapan El Nino.

Harga Beras dan Nilai Tukar Petani

Lebih jauh dari itu, ketahanan pangan sesungguhnya harus dibuktikan pada kestabilan harga. Harga beras medium hingga premium yang terus naik saat ini membuat klaim tingginya stok beras terasa seperti omong kosong belaka. Memang benar bahwa harga beras dipengaruhi oleh banyak faktor lain, terutama rantai pasok yang panjang dan harga bahan bakar minyak (BBM). Karena itu, inilah yang juga harus diatasi pemerintah. Tidak hanya untuk menstabilkan harga pangan, tetapi juga untuk menjaga nilai tukar petani (NTP) agar tidak terpuruk. Pemerintah harus bisa membuktikan bahwa kelimpahan di lumbung adalah keuntungan untuk seluruh rakyat. Tidak boleh ada tikus yang mati di lumbung padi, baik itu petani maupun rakyat lainnya.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar