PARADAPOS.COM - Pada 10 Juli 1973, John Paul Getty III, cucu dari taipan minyak terkaya di dunia saat itu, J. Paul Getty, diculik oleh kelompok mafia Italia 'Ndrangheta di Roma. Para penculik meminta tebusan sebesar US$17 juta, namun sang kakek menolak membayar. Negosiasi berlarut-larut hingga November, ketika potongan telinga korban dikirim ke sebuah kantor berita. Keluarga akhirnya memenuhi tuntutan, dan Getty III ditemukan pada 15 Desember dalam kondisi kritis. Kisah ini menjadi sorotan global, menunjukkan bahwa kekayaan tak selalu menjamin keselamatan.
Penculikan di Roma dan Penolakan Sang Miliarder
Sore itu di ibu kota Italia, seorang remaja berusia 16 tahun diculik di tengah jalan. Getty III, yang kala itu hidup dalam bayang-bayang kekayaan keluarganya, dibawa oleh sindikat kriminal yang dikenal kejam. Tak lama setelah kejadian, telepon berdering di kediaman keluarga Getty. Suara di seberang sana meminta uang tebusan sebesar US$17 juta—angka yang sangat besar untuk ukuran tahun 1973.
Namun, respons sang kakek, J. Paul Getty, justru mengejutkan banyak pihak. Ia menolak mentah-mentah permintaan tersebut. Dalam berbagai laporan, miliarder itu beralasan bahwa membayar tebusan hanya akan membuka celah bagi penculikan anggota keluarga lainnya di masa depan. Keputusan dingin itu membuat negosiasi berjalan di tempat, sementara Getty III harus menjalani hari-hari yang mencekam dalam penyekapan.
Ancaman Berdarah yang Mengguncang Publik
Bulan berganti, tekanan dari para penculik semakin menjadi. Pada November 1973, sebuah paket tiba di kantor surat kabar "Il Messaggero" di Roma. Isinya bukan surat biasa, melainkan potongan telinga manusia yang masih berlumuran darah, disertai sehelai rambut dan sepucuk pesan ancaman.
"Ini telinga Paul. Jika kami tidak menerima uang dalam 10 hari, telinga yang lain akan menyusul. Setelah itu, dia akan dikirim dalam potongan-potongan kecil," demikian bunyi ancaman yang dikutip dari "The Washington Post".
Pesan itu sontak membuat publik gempar. Keluarga Getty pun ketar-ketir. Mereka akhirnya mengalah dan memenuhi tuntutan para penculik. Pada 15 Desember 1973, setelah hampir enam bulan disandera, Getty III ditemukan dalam kondisi fisik yang sangat kritis.
Trauma yang Tak Pernah Sembuh
Meski berhasil selamat, hidup Getty III tidak pernah kembali normal. Pengalaman mengerikan itu membekas dalam ingatannya. Dikutip dari buku "Kidnapped: The Tragic Life of J. Paul Getty III" (2018), trauma penculikan tersebut menghantuinya sepanjang hidup. Ia kemudian terjerumus ke dalam kecanduan narkoba, dan pada 1981, ia mengalami stroke yang melumpuhkan sebagian tubuhnya.
Getty III akhirnya meninggal dunia di London pada 5 Februari 2011 dalam usia 54 tahun. Kisahnya menjadi pengingat pahit bahwa di balik tumpukan harta, ada kerentanan yang tak terlihat. Kekayaan besar, pada akhirnya, tak selalu mampu melindungi seseorang dari tragedi paling kelam.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Sebut Pelemahan IHSG dan Rupiah Akibat Persepsi Negatif, Bukan Fundamental Ekonomi
KAI Daop 6 Beri Diskon 30 Persen untuk 30 Kereta Ekonomi Selama Libur Sekolah
IPB University Buka Lowongan 9 Posisi, dari Staf HRD hingga Operator Pertanian
Rektor UI Apresiasi Debut Perdana Kemenhaj: Sukses Kelola Haji 2026, Dorong Ekosistem Ekonomi Mandiri