PARADAPOS.COM - Dua orang tewas dan 22 lainnya luka-luka dalam serangan Israel di kota Saksakiyeh, Lebanon Selatan, pada Sabtu pagi. Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi insiden ini di tengah ketegangan yang masih membara antara Israel dan Hizbullah, meskipun gencatan senjata bersyarat telah disepakati. Serangan terbaru ini menambah daftar panjang pelanggaran yang saling dituduhkan oleh kedua belah pihak.
Korban Jiwa dan Luka di Saksakiyeh
Ledakan mengguncang kota Saksakiyeh, yang berada di distrik Sidon, pada pagi hari. Kementerian Kesehatan Lebanon, seperti dikutip dari laporan Aljazeera pada Minggu (7/6/2026), menyebutkan bahwa serangan itu menewaskan sedikitnya dua orang. Selain korban jiwa, sebanyak 22 orang lainnya dilarikan ke rumah sakit dengan luka-luka. Yang memprihatinkan, di antara korban luka terdapat tiga orang anak-anak dan seorang wanita.
“Serangan Biadab” di Tengah Gencatan Senjata
Insiden ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, militer Lebanon mengumumkan bahwa tiga tentaranya tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam sebuah kendaraan militer di wilayah selatan. Peristiwa mematikan itu terjadi saat kedua negara sebenarnya tengah dalam masa gencatan senjata bersyarat yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Dalam pernyataan resmi yang diunggah di media sosial X, militer Lebanon mengecam keras serangan tersebut. Mereka menyebutnya sebagai “serangan biadab”.
“Sejumlah personel militer, termasuk seorang perwira, gugur dalam serangan biadab Israel yang menargetkan sebuah kendaraan militer di ruas jalanan Khardali-Nabatieh,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Pembelaan dari Pihak Israel
Di sisi lain, militer Israel memberikan versi yang berbeda. Dalam pernyataannya, mereka berdalih bahwa kendaraan yang menjadi sasaran “bergerak secara mencurigakan” di sebuah “zona pertempuran aktif yang telah dievakuasi”. Mereka menegaskan bahwa operasi tersebut ditujukan untuk melawan “organisasi teroris Hizbullah, bukan melawan tentara Lebanon”. Lebih lanjut, militer Israel menyatakan bahwa mereka “sedang meninjau insiden tersebut”.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Situasi di lapangan menggambarkan betapa rapuhnya perjanjian damai yang ada. Gencatan senjata yang seharusnya mengakhiri pertempuran antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku sejak 17 April lalu, namun nyatanya tidak dihormati. Israel dan Hizbullah, yang didukung Iran, kerap saling tuding sebagai pihak pertama yang melanggar. Masing-masing pihak membenarkan serangan mereka dengan alasan merespons dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh lawan.
Di tengah kondisi yang tidak menentu ini, utusan dari Lebanon dan Israel baru saja mengumumkan gencatan senjata bersyarat lebih lanjut di Washington DC pekan ini. Namun, serangan terbaru di Saksakiyeh menjadi bukti nyata bahwa perdamaian masih jauh dari kata pasti.
Editor: Annisa Rachmad
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
FSP ASPEK Sambut Positif Sinyal Said Iqbal Masuk Kabinet, Dinilai Perkuat Representasi Buruh
SMAN 2 Samarinda Juara LKBB-PB Kaltim, Siap Mewakili Daerah ke Tingkat Nasional
Pemerintah Dorong UMKM Jadi Fondasi Utama Stabilitas Ekonomi Nasional
Pemerintah Diminta Uji Coba Terbuka DME Sebelum Gantikan LPG 3 Kg demi Hindari Risiko Baru