Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.695 per Dolar AS Dipicu Kesepakatan Damai AS-Iran

- Senin, 15 Juni 2026 | 09:50 WIB
Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.695 per Dolar AS Dipicu Kesepakatan Damai AS-Iran
PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat signifikan pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026. Berdasarkan data dari berbagai sumber pasar, penguatan ini didorong oleh sentimen positif dari kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz. Rupiah tercatat naik hingga 221 poin atau 1,23 persen, membawanya ke level Rp17.695 per dolar AS menurut data Yahoo Finance.

Lonjakan Rupiah di Berbagai Indikator Pasar

Penguatan rupiah terpantau merata di sejumlah platform keuangan utama. Data dari Bloomberg menempatkan rupiah di level Rp17.708,5 per dolar AS, menguat 151,5 poin atau 0,85 persen dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.860. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatatkan rupiah di angka Rp17.719 per dolar AS, naik 202 poin dari perdagangan sebelumnya yang berada di Rp17.921. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya memberikan gambaran pergerakan yang dinamis. "Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup menguat 151,5 poin, sebelumnya sempat menguat 185 poin di level Rp17.708,5 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.860 per USD," katanya.

Kesepakatan AS-Iran dan Dampaknya pada Pasar Global

Ibrahim menjelaskan bahwa katalis utama penguatan rupiah berasal dari perkembangan geopolitik. Pernyataan Presiden AS Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran mengenai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik menjadi angin segar bagi pasar keuangan global. Kedua negara sepakat untuk membuka kembali lalu lintas di Selat Hormuz, jalur strategis yang selama lebih dari tiga bulan tertutup akibat perang dan telah menghilangkan pasokan jutaan barel minyak dan gas dunia. Perdana Menteri Pakistan, yang bertindak sebagai mediator, mengonfirmasi bahwa nota kesepahaman akan ditandatangani di Swiss pada Jumat mendatang. Trump menyatakan Selat Hormuz akan dibuka "bebas biaya" dan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran akan segera berakhir. Kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, melaporkan bahwa draf kesepakatan menyerukan pembukaan kembali selat tersebut dalam waktu 30 hari di bawah pengaturan Iran. "Investor juga mengamati dengan hati-hati seberapa cepat produsen Timur Tengah dapat melanjutkan produksi dan ekspor minyak setelah kerusakan akibat perang dan apakah lebih banyak kapal akan memasuki wilayah tersebut," papar Ibrahim. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menambahkan bahwa kesepakatan yang lebih luas akan dinegosiasikan selama periode gencatan senjata 60 hari. Di sisi lain, negara-negara E4 yang terdiri dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia menyatakan kesiapan mereka untuk mencabut sanksi terhadap Iran sebagai respons atas langkah-langkah terkait program nuklirnya.

Proyeksi Kebijakan Moneter dan Dampaknya ke Dalam Negeri

Minggu ini, perhatian pasar akan tertuju pada pengumuman kebijakan beberapa bank sentral, dengan fokus utama pada keputusan moneter The Fed yang kini dipimpin oleh ketua barunya, Kevin Warsh. Bank sentral lain seperti Reserve Bank of Australia (RBA) dan European Central Bank (ECB) telah menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 75 dan 25 basis poin selama tahun ini. Namun, penyelesaian konflik yang cepat mungkin mencegah bank sentral lain, seperti Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), Bank of England (BoE), dan Federal Reserve (Fed), untuk memperketat kebijakan lebih lanjut.

Tekanan Defisit APBN Berkurang, Pasar Optimistis

Ibrahim mengungkapkan, turunnya harga minyak mentah dunia di bawah US80 per barel menjadi faktor positif bagi perekonomian domestik. Hal ini diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah pun menyambut baik perkembangan ini, dengan ketegangan yang berubah menjadi kegembiraan. Selain itu, pasar juga mencermati potensi efisiensi Anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penurunan target pembangunan Koperasi Desa Merah Putih sebesar 50 persen. " Dengan kondisi global yang kembali stabil, masyarakat berbondong-bondong menjual valuta asingnya sesuai dengan instruksi Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad yang mengimbau masyarakat yang menyimpan dolar AS agar segera menjual atau menukarkannya menjadi rupiah," jelas Ibrahim. Langkah ini diharapkan dapat membantu menstabilkan nilai tukar rupiah yang sebelumnya sempat menyentuh rekor terendah di kisaran Rp18.200 per dolar AS. Langkah tersebut tepat dilakukan karena pemerintah tengah menyiapkan sejumlah strategi khusus untuk menguatkan rupiah. Fokus selanjutnya beralih ke pertemuan kebijakan Bank Indonesia akhir pekan ini. BI telah mengambil langkah pengetatan lanjutan pada 9 Juni 2026 dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen, menjadikan total kenaikan sejak Mei mencapai 75 bps. "Langkah pre-emptive ini dioptimalkan untuk melindungi nilai tukar rupiah dari gejolak global dan menahan keluarnya arus modal asing (capital outflow)," urai Ibrahim. Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali menguat. "Untuk perdagangan Rabu (Selasa libur Tahun Baru Islam), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.650 per USD hingga Rp17.700 per USD," jelas Ibrahim.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar