PARADAPOS.COM - Serangan Rusia di Ukraina pada Selasa (16/6) menewaskan sedikitnya delapan orang, bertepatan dengan pertemuan para pemimpin G7 di Prancis yang sepakat memperketat sanksi terhadap Moskow. Di wilayah Dnipropetrovsk tengah, tiga orang tewas akibat serangan drone, termasuk seorang ibu berusia 87 tahun dan putranya yang berusia 51 tahun. Sementara itu, serangan artileri di Sloviansk, Donetsk, merenggut tiga nyawa, dan serangan drone di Kherson selatan menewaskan dua orang serta melukai 16 lainnya. Insiden ini terjadi di tengah tekanan diplomatik yang meningkat, di mana Presiden AS Donald Trump mendesak Rusia untuk “membuat kesepakatan” dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menawarkan pertemuan damai dengan Vladimir Putin di AS.
G7 Perketat Sanksi di Tengah Serangan Mematikan
Para pemimpin negara-negara G7, bersama Presiden Zelensky, menggelar pertemuan di resor Evian, Prancis, pada hari yang sama dengan serangan tersebut. Mereka sepakat untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Moskow, yang telah menginvasi Ukraina sejak 2022. Konflik yang sudah berlangsung lebih dari empat tahun ini telah menewaskan ratusan ribu warga sipil dan tentara, serta menghancurkan sebagian besar wilayah Ukraina.
Korban Berjatuhan dari Timur hingga Selatan
Gubernur regional Dnipropetrovsk, Oleksandr Ganzha, menjelaskan bahwa serangan drone Rusia menargetkan sebuah mobil di wilayahnya. “Serangan itu merenggut nyawa seorang ibu dan anak laki-laki — seorang wanita berusia 87 tahun dan seorang pria berusia 51 tahun. Aparat penegak hukum saat ini sedang berupaya mengidentifikasi korban ketiga yang tewas,” tuturnya.
Di kota Sloviansk, yang berada di wilayah Donetsk, artileri Rusia menghantam permukiman warga dan menewaskan tiga orang. Wilayah Kherson selatan juga tidak luput dari serangan drone, yang mengakibatkan dua orang tewas dan belasan lainnya luka-luka. Suasana di lokasi-lokasi tersebut dilaporkan mencekam, dengan warga berusaha menyelamatkan diri sementara tim penyelamat masih bekerja di tengah reruntuhan.
Dorongan Diplomasi dan Sikap Kremlin
Setelah pertemuan dengan Zelensky, Presiden Trump menyatakan bahwa Rusia “harus membuat kesepakatan” untuk mengakhiri pertempuran. Pernyataan ini muncul di tengah upaya diplomatik yang terus berjalan, meski hasilnya masih jauh dari harapan.
Zelensky sendiri telah menawarkan untuk bertemu langsung dengan Putin di AS guna membahas perdamaian. Namun, Kremlin mengaku belum menerima proposal tersebut. Sebelumnya, pada awal bulan ini, Putin menyebut bahwa ia “tidak melihat gunanya” bertemu Zelensky sampai kesepakatan perdamaian benar-benar siap. Sikap ini menunjukkan kebuntuan yang masih dalam, meskipun tekanan internasional terus menguat.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Qatar Sebut Nota Kesepahaman Iran-AS Langkah Awal Menuju Stabilitas Kawasan
Ghana Hadapi Panama di Laga Pembuka Grup L Piala Dunia 2026 Tanpa Partey dan Kudus
Gibran Dorong Pelajar dan Guru Kuasai AI untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045
Pemkot Palangka Raya Mulai Tata Kabel Semrawut di Jalan Protokol