PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menandatangani perjanjian damai dengan Iran di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 yang berlangsung di Pegunungan Alpen, Prancis. Kesepakatan ini mencakup nota kesepahaman yang turut ditandatangani oleh pihak Iran, dengan salah satu poin utamanya adalah pencabutan sanksi dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Meski demikian, Trump memberikan peringatan keras bahwa serangan dapat dilanjutkan jika Iran gagal memenuhi komitmennya.
Latar Belakang Perjanjian
Sebelum penandatanganan, terdapat 14 poin yang menjadi landasan negosiasi. Salah satu poin krusial adalah pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran, yang selama ini menjadi sumber ketegangan. Selain itu, pembukaan Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis dunia—menjadi prioritas utama dalam kesepakatan ini. Proses negosiasi berlangsung alot, mengingat sejarah panjang konflik antara kedua negara.
Pernyataan Trump dan JD Vance
Dalam pernyataan resminya, Trump menegaskan bahwa dirinya akan memantau secara ketat implementasi perjanjian tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa kesepakatan ini merupakan taruhan politik yang lebih tinggi bagi Wakil Presiden JD Vance.
“Dengan cara ini, jika berhasil, saya akan mengambil pujiannya. Jika tidak berhasil, saya akan menyalahkan JD. Sebaiknya kau berhati-hati, JD,” katanya dengan nada bercampur serius.
Sementara itu, JD Vance menyambut baik kesepakatan ini. Ia menyebutnya sebagai kemenangan bagi rakyat Amerika. Vance juga menjelaskan perubahan sikapnya terhadap program rudal balistik Iran, yang sebelumnya menjadi titik perdebatan sengit di dalam negeri.
Tanggapan dari Pihak Iran
Dari sisi Iran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi bahwa kesepakatan telah rampung. Ia menekankan bahwa teks Nota Kesepahaman Islamabad telah diselesaikan dan ditandatangani oleh para presiden.
“Teks Nota Kesepahaman Islamabad telah diselesaikan dengan tanda tangan para presiden,” ujar Baghaei, sebagaimana dilansir oleh kantor berita Iran, IRNA.
Ia menambahkan, “Sekarang saatnya untuk menguji implementasi kesepakatan tersebut.” Pernyataan ini mencerminkan sikap hati-hati Teheran, yang tampaknya masih menunggu langkah nyata dari Washington.
Ancaman di Balik Kesepakatan
Meskipun perjanjian telah ditandatangani, Trump tidak menutup kemungkinan untuk kembali menggunakan kekuatan militer. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa nota kesepahaman ini belum final. Jika Iran dianggap tidak mematuhi isi perjanjian, ia tidak segan untuk melanjutkan serangan.
“Jika mereka tidak menghormati itu, kita mungkin akan kembali mengebom mereka sampai mereka menghormatinya,” ucap Trump dengan tegas.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa di balik optimisme damai, masih ada ketegangan yang mengintai. Dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari kedua negara, apakah gencatan senjata ini benar-benar akan bertahan atau justru menjadi awal dari babak baru konflik.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Menteri HAM Ditegur Ketua Komisi XIII DPR Usai Ajukan Tambahan Anggaran Rp492,9 Miliar Mendadak Saat Rapat
Mantan Wakil Kepala BGN Diperiksa Kejagung sebagai Tersangka Korupsi Program Makan Bergizi Gratis
Eksekusi Lahan Hotel Sultan Ricuh, Massa Lempar Batu dan Botol ke Aparat
Trump Akui Cadangan Minyak Global Hanya Tersisa untuk Empat Minggu