Waspada Heat Stroke pada Anak di Musim Kemarau, Dokter Ingatkan Jangan Sampai Tertukar dengan Demam Biasa

- Kamis, 18 Juni 2026 | 23:00 WIB
Waspada Heat Stroke pada Anak di Musim Kemarau, Dokter Ingatkan Jangan Sampai Tertukar dengan Demam Biasa

PARADAPOS.COM - Musim kemarau yang mulai menyengat di berbagai wilayah Indonesia membawa risiko kesehatan serius yang perlu diwaspadai orang tua: heat stroke pada anak. Kondisi darurat medis ini ditandai dengan lonjakan suhu tubuh hingga 40 derajat Celsius atau lebih dalam waktu singkat, dan seringkali disalahartikan sebagai demam biasa. Dokter spesialis kedokteran keluarga dan layanan primer, dr Siti Rizki Fauziah Sp.KKLP, menekankan bahwa penanganan yang keliru justru dapat memperburuk kondisi anak dan memicu komplikasi berbahaya.

Membedakan Heat Stroke dan Demam Biasa

Banyak orang tua masih terjebak dalam kesalahan persepsi antara heat stroke dan demam. Padahal, mekanisme keduanya berbeda. Demam biasanya merupakan respons tubuh terhadap infeksi, sementara heat stroke terjadi karena paparan panas berlebih yang membuat mekanisme pendinginan alami tubuh—seperti berkeringat—gagal berfungsi. Akibatnya, suhu inti tubuh naik drastis dalam hitungan menit hingga jam.

Di lapangan, kata dr Siti, tanda awal yang perlu dicermati adalah ketika anak mulai berkeringat banyak, terlihat kepanasan, atau mengeluhkan tubuhnya tidak nyaman. "Ketika anak sudah mulai berkeringat banyak, terlihat kepanasan, atau mulai mengeluhkan tubuhnya tidak nyaman, sebaiknya segera dipindahkan ke tempat yang lebih sejuk. Kalau memungkinkan masuk ke ruangan ber-AC, berikan kesempatan untuk beristirahat dan minum," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima pada Jumat (19/6/2026).

Langkah Darurat yang Tepat

Jika anak sudah menunjukkan tanda-tanda lanjutan seperti penurunan kesadaran, kebingungan, atau suhu tubuh yang sangat tinggi, situasi ini harus dianggap sebagai kegawatdaruratan medis. Dalam kondisi demikian, dr Siti mengingatkan agar orang tua tidak menunda penanganan dengan metode rumahan yang belum tentu tepat. Prioritas utama adalah menurunkan suhu tubuh secepat mungkin dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan.

Sembari menunggu bantuan medis atau dalam perjalanan menuju rumah sakit, ada beberapa langkah awal yang bisa dilakukan. Mulai dari memindahkan anak ke tempat yang teduh dan sejuk, melepaskan pakaian yang berlapis atau terlalu ketat, hingga membasahi tubuh anak dengan air biasa atau air sejuk. Proses penguapan juga bisa dibantu dengan kipas angin.

"Basahi seluruh tubuh anak menggunakan kain atau spons yang direndam air biasa atau air sejuk, kemudian bantu proses penguapan dengan kipas angin. Kompres juga dapat diberikan pada area yang banyak terdapat pembuluh darah besar seperti leher, ketiak, dan selangkangan. Cara ini membantu mempercepat pelepasan panas dari tubuh sambil menunggu penanganan medis lebih lanjut," jelas dr Siti yang juga berpraktik sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Mengapa Kecepatan Penanganan Sangat Krusial

Dalam praktik klinis, heat stroke pada anak bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dalam waktu singkat. Organ-organ vital seperti otak, jantung, dan ginjal sangat sensitif terhadap suhu tinggi. Kerusakan permanen bisa terjadi hanya dalam hitungan jam. Oleh karena itu, edukasi kepada orang tua mengenai gejala awal dan langkah-langkah pertolongan pertama menjadi kunci untuk mencegah dampak yang lebih serius.

Musim kemarau tahun ini memang belum mencapai puncaknya, namun kewaspadaan tetap harus dijaga. Orang tua disarankan untuk membatasi aktivitas anak di luar ruangan pada jam-jam terik, memastikan mereka cukup minum, dan selalu mengenali tanda-tanda bahaya sejak dini.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar