Petani Magelang Ubah Singkong Bernilai Rp300 per Kg Jadi Produk Bernilai Tambah, Raup Omzet Puluhan Juta

- Jumat, 19 Juni 2026 | 09:50 WIB
Petani Magelang Ubah Singkong Bernilai Rp300 per Kg Jadi Produk Bernilai Tambah, Raup Omzet Puluhan Juta
PARADAPOS.COM - Seorang petani singkong di Magelang, Nurlaela, berhasil mengubah stigma bahwa singkong adalah komoditas bernilai rendah. Melalui program pemberdayaan Desa Emas yang digagas Yayasan Indonesia Setara (YIS) berkolaborasi dengan Inotek, ia mengolah singkong dan daun singkong menjadi produk bernilai tambah, seperti keripik singkong presto dan nori. Inovasi ini tidak hanya membangun usahanya sendiri, tetapi juga menciptakan dampak sosial ekonomi yang nyata bagi perempuan, petani, dan keluarga prasejahtera di sekitarnya.

Dari Dapur Rumah ke Pasar Luas

Kisah Nurlaela bermula dari keprihatinan. Ia sering melihat hasil panen singkong petani tidak laku, hanya dihargai sekitar Rp300 per kilogram. Di dapur rumahnya, ia mulai bereksperimen. Hasilnya, lahirlah keripik singkong presto dan nori dari daun singkong—sebuah inovasi yang memanfaatkan limbah pertanian yang sebelumnya tak bernilai. Berkat pelatihan dan pendampingan dari YIS, skala produksinya melonjak drastis. Dari hanya 5 kilogram singkong per hari, kini ia mampu memproduksi hingga 1 kuintal per hari. Produksi nori daun singkong pun terus meningkat. Program tersebut juga membuka akses ke jaringan yang lebih luas, termasuk kesempatan mengikuti pameran di Jakarta. "Alhamdulillah, dapat pelatihan dari 0 sampai pelatihan ekspor, dari perbaikan kemasan, fotografi produknya jadi lebih bagus, desain kemasan dibuatkan yang baru, dan diberikan alat bantu produksi," ungkap Nurlaela, Jumat (19/6/2026) lalu. "Saat ini banyak sekali konsumen yang mau beli produk-produk saya dari luar kota, karena mungkin produk saya masih jarang di pasaran," ujar warga Magelang, Jawa Tengah, itu.

Menggerakkan Ekonomi Perempuan dan Petani

Namun, dampak terbesar dari usaha Nurlaela tidak hanya terletak pada produknya, melainkan pada kehidupan masyarakat di sekitarnya. Melihat banyak ibu rumah tangga yang mengeluhkan keterbatasan ekonomi, ia mengajak mereka membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sari Rejeki. Wadah ini menjadi pusat pengolahan pangan lokal sekaligus pemberdayaan ekonomi perempuan. Dampak sosialnya terasa langsung. Para anggota KUB yang sebelumnya bekerja sebagai buruh tani dengan upah Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per hari, kini bisa memperoleh pendapatan lebih baik, mencapai Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per hari melalui produksi keripik dan nori. Tak hanya itu, kebutuhan bahan baku yang terus meningkat turut mendorong petani lokal untuk kembali menanam singkong. KUB Sari Rejeki membeli singkong dari petani dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram—jauh di atas harga pasar yang sebelumnya hanya Rp500 per kilogram. Kondisi ini secara langsung meningkatkan pendapatan petani dan menghidupkan kembali minat budidaya singkong di desa. Bagi Nurlaela, keberhasilan ini bukan sekadar soal keuntungan. Ia memiliki mimpi yang lebih besar. "Saya ingin menambah karyawan lagi dan semakin mensejahterakan teman-teman di KUB," tuturnya.

Inovasi Berbasis Potensi Lokal Lahirkan Perubahan

Founder Yayasan Indonesia Setara (YIS), Sandiaga Salahuddin Uno, menilai kisah Nurlaela menjadi bukti nyata bahwa inovasi berbasis potensi lokal dapat menjadi jalan lahirnya perubahan sosial. "Dari singkong dan daun singkong yang dulu dianggap biasa, kini tumbuh harapan baru bagi perempuan, petani, dan keluarga desa untuk meraih kehidupan yang lebih sejahtera," ujar Sandiaga Uno.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar