PARADAPOS.COM - Pemadaman listrik bergilir yang melanda sejumlah wilayah di Bogor dan Depok sejak pertengahan pekan lalu telah mengganggu ribuan warga, tidak hanya membuat rumah gelap tetapi juga melumpuhkan aktivitas kerja, rutinitas rumah tangga, hingga momen-momen krusial seperti wawancara kerja. Berdasarkan laporan yang dihimpun dari tiga warga terdampak, pemadaman terjadi tanpa pemberitahuan yang memadai, memaksa mereka mencari tempat alternatif untuk bekerja, mengisi daya perangkat, atau sekadar menjalankan aktivitas harian. PT PLN (Persero) mengonfirmasi bahwa gangguan ini dipicu oleh kendala teknis pada dua pembangkit listrik besar di sistem Jawa, yang memaksa pihaknya melakukan manajemen beban secara bertahap hingga pasokan kembali normal.
Pekerja WFH Terpaksa Berlari ke Kafe
Di kawasan Tanah Sareal, Bogor, Yelinda (27) harus menghadapi kenyataan pahit ketika listrik di rumahnya padam pada Jumat (19/6) pagi. Sebagai Social Media Officer yang bekerja dari rumah (WFH), ia sangat bergantung pada koneksi internet dan perangkat elektronik. Padamnya listrik sejak pukul 08.30 WIB hingga sore hari membuatnya harus mencari tempat lain untuk bekerja.
“Kalau listrik padam aku jadi harus cari tempat buat kerja, biasanya ke kafe. Masalahnya enggak semua kafe di Bogor buka dari pagi, padahal kadang sudah harus mulai kerja lebih awal atau ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan,” ujar Yelinda kepada tim redaksi, Jumat (19/6).
Ia menambahkan bahwa pemadaman ini bukanlah kejadian pertama. Sebelumnya, rumahnya juga mengalami pemadaman selama sekitar enam jam, dari pukul 15.44 hingga sekitar pukul 21.30 WIB. Namun, yang paling membuatnya kecewa adalah ketiadaan pemberitahuan sebelumnya. “Itu yang sangat disayangkan,” tuturnya.
Dampaknya tidak hanya pada pekerjaan, tetapi juga pada rutinitas keluarga. Aktivitas seperti memasak dan mencuci yang bergantung pada listrik ikut terganggu. “Bukan cuma urusan kerjaan aku yang terdampak, tapi rutinitas di rumah juga ikut berantakan karena harus menyesuaikan dengan kondisi listrik yang padam,” jelasnya.
Warga Gelisah Tak Ada Kepastian
Karlina (25), seorang pekerja swasta di bidang perhotelan yang tinggal di Sukahati, Cibinong, merasakan dampak serupa. Pada Kamis (18/6), listrik di rumahnya padam selama empat jam penuh, mulai pukul 09.00 pagi hingga siang hari. “Ada pemadaman mulai pukul 09.00 pagi hingga siang,” katanya kepada tim redaksi, Jumat (19/6).
Karena jadwal kerjanya dimulai sore hari, Karlina masih berada di rumah saat pemadaman terjadi. Hingga pukul 12 siang, ia masih tak melihat tanda-tanda listrik akan kembali menyala. Rasa resah tanpa kepastian mendorongnya untuk mengambil langkah drastis: berpindah sementara ke rumah temannya di kecamatan lain yang tidak terdampak pemadaman. Saat itu pukul 13.00 siang, sementara ia sudah harus berangkat kerja pukul 14.00.
“Ke sana untuk charge hp, numpang mandi dan catokan segala macam. Aku kerja di bidang perhotelan, jadi memang perlu styling rambut sebelum kerja. (Pemadaman listrik) ini sangat merepotkan,” ungkapnya.
Informasi mengenai pemadaman baru didapatkannya setelah listrik padam, melalui grup warga yang memberitahukan jadwal pemadaman di area Sukahati hingga Sentul, Kabupaten Bogor. Pemadaman dijadwalkan berlangsung dari pukul 09.00 hingga 14.00 WIB. “Yang disayangkan, pemberitahuan itu malah kita dapat setelah listrik mati, bukan sebelum mati. Padahal kalau sebelumnya ada pemberitahuan, kita bisa prepare,” ujarnya.
Menurut Karlina, pemadaman bergilir ini sudah berlangsung sekitar satu minggu di wilayah Cibinong. Namun, warga hanya mengandalkan informasi dari mulut ke mulut karena belum ada pemberitahuan resmi yang konsisten. “Ada yang mati dua jam, tiga jam, bahkan sampai empat jam seperti rumahku. Jadi kita cuma menebak-nebak siapa berikutnya yang mati listrik dan berapa lama,” lanjutnya.
Wawancara Kerja Terhenti di Tengah Jalan
Bagi Caesi (23), seorang lulusan baru (fresh graduate) yang tinggal di kawasan Kemiri Muka, Margonda, Depok, pemadaman listrik terjadi di saat yang paling tidak diinginkan. Pada Rabu (17/6), ia tengah mempersiapkan wawancara kerja yang dijadwalkan pukul 13.00 WIB. Ketika listrik di rumahnya padam sejak sekitar pukul 09.30 WIB, ia memutuskan untuk pindah ke rumah kerabat di kawasan Kukusan, Depok agar tetap bisa mengikuti proses wawancara.
Namun, masalah belum berakhir. Saat wawancara berlangsung, listrik di rumah kerabatnya pun ikut padam. “Pas HR-nya (human resources, red) sedang menjelaskan soal perusahaan, tiba-tiba mati lampu juga. Jadi kayak gantian,” ujarnya kepada tim redaksi, Jumat (19/6).
Beruntung, proses wawancara tetap bisa dilanjutkan melalui sambungan telepon. Namun, ia menyesalkan momen itu terjadi di tengah kesibukan yang sudah penuh tekanan. Menurutnya, pemadaman tanpa informasi yang jelas membuat warga sulit melakukan persiapan. “Mitigasi itu perlu. Kalau memang ada pemberitahuan, harus benar-benar tersebar, jangan cuma beberapa pihak yang menerima,” katanya.
Caesi berharap informasi pemadaman dapat disampaikan lebih awal dan mencantumkan waktu yang lebih detail agar warga bisa menyesuaikan aktivitas mereka.
Gangguan Dua Pembangkit Listrik Picu Pemadaman Bergilir di Jawa
Menanggapi keluhan warga, PT PLN (Persero) menjelaskan bahwa pemadaman bergilir ini terjadi karena dua pembangkit listrik besar di sistem Jawa mengalami gangguan dan tidak dapat beroperasi sementara. Kondisi ini menurunkan kapasitas pasokan listrik di wilayah tersebut, sehingga diperlukan manajemen beban untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan.
PLN memastikan bahwa sistem kelistrikan Jawa masih terkendali, namun langkah manajemen beban ini diambil untuk menjaga keandalan sistem. “Hal ini dilakukan karena kendala teknis operasional pada pembangkit serta adanya dua unit pembangkit besar yang tidak beroperasi sementara,” ujar Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, Jumat (19/6).
PLN menyatakan bahwa gangguan ini bersifat sementara dan akan menghentikan manajemen beban secara bertahap setelah kondisi pasokan membaik. Warga pun berharap agar informasi mengenai jadwal pemadaman dapat disampaikan lebih transparan ke depannya.
Artikel Terkait
BPBD Madiun Petakan Wilayah Rawan Kekeringan dan Karhutla Hadapi Puncak Kemarau 2026
Polda Metro Jaya Tahan Roy Suryo dan Dokter Tifa atas Tuduhan Sebar Kabar Ijazah Palsu Jokowi
Menkeu Targetkan Penerbitan Panda Bonds Rp15,4 Triliun untuk Diversifikasi Pembiayaan dan Stabilkan Rupiah
MSCI Pertahankan Status Emerging Market Indonesia, tapi Turunkan Peringkat Arus Informasi Jadi Negatif