BAZNAS dan Ponpes Al Fath Berangkatkan 18 Dai ke Pulau Buru untuk Bina Mualaf di Wilayah 3T

- Sabtu, 20 Juni 2026 | 22:00 WIB
BAZNAS dan Ponpes Al Fath Berangkatkan 18 Dai ke Pulau Buru untuk Bina Mualaf di Wilayah 3T

PARADAPOS.COM - Sebanyak 18 dai resmi diberangkatkan ke Pulau Buru, Maluku, pada Senin pagi. Mereka tergabung dalam Program Ustad Garis Depan (UGD) VIII, sebuah inisiatif kolaborasi antara Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Pondok Pesantren Modern Dzikir Al Fath Sukabumi. Tugas utama para dai ini adalah memperkuat pembinaan dan pendampingan bagi komunitas mualaf di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) Indonesia.

Misi Dakwah di Wilayah 3T

Pemberangkatan rombongan dai ini bukan sekadar seremoni. Di baliknya, ada komitmen jangka panjang untuk memastikan masyarakat di daerah terpencil mendapatkan akses pembinaan keagamaan yang berkelanjutan. Pulau Buru, yang dikenal dengan sejarah dan tantangan geografisnya, menjadi salah satu fokus utama program ini.

Wakil Ketua BAZNAS Zainut Tauhid Sa'adi menjelaskan bahwa penugasan ini merupakan bagian dari upaya serius lembaganya untuk menjangkau saudara-saudara kita yang baru memeluk Islam. “Program kemitraan dakwah ini menjadi bagian penting dalam menghadirkan manfaat zakat bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan keagamaan,” ujarnya dalam sambutan pelepasan.

Sinergi Lembaga Zakat dan Pesantren

Kolaborasi antara BAZNAS dan Ponpes Al Fath dinilai sebagai langkah strategis. Mengapa demikian? Karena ini menggabungkan kekuatan pendanaan dan manajemen zakat dengan sumber daya dai yang telah terdidik dan siap diterjunkan ke lapangan.

Menurut Zainut, para dai tidak hanya bertugas menyampaikan ceramah. Lebih dari itu, mereka akan mendampingi masyarakat melalui berbagai kegiatan pembinaan keagamaan, pendidikan dasar, hingga penguatan akidah secara konsisten. Pendekatan ini diharapkan bisa menciptakan dampak yang lebih nyata dan berkesinambungan.

Pesan Dakwah: Bijaksana dan Penuh Kearifan

Menjelang keberangkatan, Zainut memberikan wejangan khusus kepada para dai. Ia menekankan pentingnya pendekatan bil hikmah—dakwah yang dilakukan secara bijaksana, santun, dan mengedepankan dialog. “Dakwah tidak dilakukan dengan cara menghakimi atau menyalahkan. Tugas dai adalah merangkul, membimbing, dan mendampingi masyarakat dengan penuh kearifan agar mereka semakin memahami dan mencintai ajaran Islam,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar para dai peka terhadap kondisi sosial dan budaya setempat. Di medan yang asing, pendekatan yang humanis dan penuh empati menjadi kunci utama. Tanpa itu, pesan dakwah bisa sulit diterima, terutama oleh para mualaf yang masih dalam proses pendalaman iman.

Suasana di lokasi pemberangkatan pagi itu terlihat khidmat. Para dai, yang sebagian besar masih muda, tampak antusias namun juga serius. Mereka membawa tas ransel besar dan perlengkapan sederhana—siap menempuh perjalanan panjang ke ujung timur Nusantara.

Melalui penugasan 18 dai ini, BAZNAS RI dan Ponpes Al Fath berharap pembinaan mualaf di Pulau Buru bisa berjalan lebih optimal. Lebih dari sekadar misi keagamaan, program ini juga bertujuan memperkuat ukhuwah Islamiyah dan memperluas manfaat dakwah berbasis pemberdayaan masyarakat.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar