PARADAPOS.COM - Sorak penonton memecah malam di Alun-alun Ponorogo, Minggu (21/6/2026), saat dentuman drum mengawali penampilan Black Langues di Mataraman Rockfest. Namun, yang membuat ratusan pasang mata terpaku bukan sekadar aksi panggung band rock. Di tengah distorsi gitar, Dadak Merak menjulang, Bujang Ganong menari lincah, dan suara slompret serta kendang Reog menyatu dengan irama modern. Kolaborasi ini menjadi momen paling menyita perhatian, memadukan rock alternatif dengan kesenian khas Ponorogo, dan langsung ramai diperbincangkan di media sosial.
Proses Singkat di Balik Panggung
Black Langues, yang digawangi Michael Aaron Donisputro (gitaris sekaligus vokalis), Muhammad Haidar (bass), dan Valentino Austin (drum), mengajak para seniman Reog Ponorogo untuk mengiringi lagu berjudul Reset. Lagu orisinal ini dikemas dengan sentuhan musik tradisional. Meski penampilan terlihat matang, proses persiapannya berlangsung sangat singkat.
"Kami latihan cuma 2 jam dengan para seniman Reog Ponorogo," kata Michael Aaron Donisputro saat ditemui, Senin (22/6/2026).
Pemuda yang akrab disapa Erren itu menjelaskan, bandnya membawakan empat lagu ciptaan sendiri dalam festival tersebut. Tiga lagu lainnya berjudul Dream, Happy, dan Cursed Paper. Reset dipilih sebagai lagu yang dipadukan dengan unsur Reog karena dianggap paling sesuai dengan konsep kolaborasi.
"Ada 4 lagu kami yang dibawakan dalam Mataraman Rockfest kemarin. Lagu yang berjudul Reset-lah yang kami kolaborasikan dengan Reog Ponorogo," ujar pemuda berusia 19 tahun tersebut.
Ide Kolaborasi yang Lahir dari Kampung Halaman
Gagasan menggabungkan musik rock dengan Reog ternyata sudah muncul jauh sebelum mereka tiba di Ponorogo. Saat masih di Yogyakarta, Erren ingin menghadirkan nuansa etnik dalam karya-karyanya. Kebetulan, sang ibu, Maria Theresia Ninis, merupakan warga asli Ponorogo yang kini menetap di Kota Pelajar. Dari situlah muncul gagasan untuk menghadirkan instrumen khas Reog sebagai bagian dari aransemen musik mereka.
Saat bertemu para seniman Reog di Ponorogo, proses adaptasi sempat menemui tantangan. Perbedaan karakter alat musik modern dan tradisional membuat komunikasi musikal tidak langsung berjalan mulus. Namun, berkat pemahaman teori musik dan kemauan untuk saling belajar, kolaborasi tersebut akhirnya menemukan irama yang sama.
"Sampai di Ponorogo kami ketemu dengan seniman Reog, penabuh kendang dan peniup terompet. Awal latihan itu, ya sempat miskom karena alat musik modern dan tradisional berbeda. Tetapi akhirnya saling bantu dan mengerti, akhirnya padu. Karena pada dasarnya para pemain musik Reog juga paham teori-teori musik, jadi lebih mudah menjelaskan dan mengarahkannya," jelasnya.
Momen Menegangkan di Atas Dadak Merak
Salah satu momen paling menegangkan bagi Erren terjadi ketika ia memainkan gitar sambil berdiri di atas Dadak Merak. Aksi itu menjadi atraksi yang langsung memancing riuh tepuk tangan penonton. Meski tampak percaya diri, ia mengaku sempat diliputi rasa khawatir.
"Memang agak ngeri, tapi bukan karena takut jatuh. Ya, khawatir membawa alat itu meski tetap bisa main gitar saat di atas Dadak Merak," ungkap mahasiswa ISI Yogyakarta tersebut.
Pelestarian yang Hidup
Ketua Dewan Kesenian Ponorogo, Wisnu HP, menilai kolaborasi tersebut bukan sekadar pertunjukan musik. Baginya, Black Langues berhasil mempertemukan dua dunia yang selama ini jarang bersinggungan. Rock yang identik dengan energi modern berpadu harmonis dengan kesenian tradisi yang telah menjadi identitas Ponorogo.
"Penonton kaget, semua yang semula berdiri santai langsung beranjak maju, berbondong-bondong mendekat ke panggung. Ini momen yang mungkin baru pertama kali terjadi: rock dan Reog tidak berhadapan, tapi menyatu," ungkap Wisnu HP.
Menurut Wisnu, kolaborasi semacam ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar hiburan. Setelah Reog Ponorogo masuk dalam daftar Urgent Safeguarding List UNESCO, diperlukan berbagai cara kreatif agar kesenian tersebut tetap hidup dan dekat dengan generasi muda. Black Langues, menurutnya, menunjukkan bahwa Reog mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
"Yang dilakukan Black Langues bukan sekadar manggung. Ini bentuk pelestarian yang hidup. Membawa warisan ke panggung masa kini, tanpa mengurangi sakralnya," pungkasnya.
Filosofi di Balik Nama Black Langues
Nama Black Langues sendiri menyimpan filosofi yang kuat. Kata Black dimaknai sebagai sesuatu yang samar, misterius, atau absurd. Sementara Langues berasal dari bahasa Prancis yang berarti bahasa atau media komunikasi. Melalui nama itu, mereka ingin menjadikan musik sebagai medium untuk menyampaikan pesan-pesan yang sarat makna.
Semangat tersebut tercermin dalam setiap karya yang mereka ciptakan. Band beraliran punk rock alternatif yang digawangi Aaron dan Austin bersaudara itu memilih menyuarakan keresahan, kritik sosial, hingga pesan moral melalui komposisi musik yang menghentak. Di Mataraman Rockfest, pesan itu menemukan bentuk baru: ketika dentuman rock berpadu dengan napas panjang Reog Ponorogo, membuktikan bahwa tradisi dan modernitas bukan untuk dipertentangkan, melainkan bisa berjalan beriringan di atas panggung yang sama.
Editor: Joko Susilo
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pertamina dan Kemnaker Teken Kerja Sama Vokasi K3, Iriawan Sebut Investasi SDM Paling Fundamental bagi Indonesia
Prabowo Instruksikan Langkah Terukur Cegah Pemadaman Listrik di Jawa Berulang
Pemerintah Pastikan Dukungan Penuh untuk Timnas Indonesia Menuju Kualifikasi Piala Dunia 2030
Banjir di Parigi Moutong Rendam Enam Desa, 146 KK Terdampak